Mendengar jawaban Kuvvi yang mengaku sebagai calon gebetan Ansel, Uya malah tergelak keras. Cewek ini menyukai pacarnya? Yang benar saja. Bisa tidak saingannya ini seorang cewek yang tak kalah tomboy darinya? Kalau tipe seperti cewek di depannya ini, ditiup juga terbang.
"Kok ketawa, calon mantannya Ansel?" Sepertinya Kuvvi benar-benar memancing kesabaran Uya.
"Apa lo bilang?" Mata Uya sudah mau keluar dari sarangnya.
"Calon mantannya Ansel," ulang Kuvvi seraya menampakkan cengiran khasnya.
Sejurus kemudian Uya langsung berjalan mendekati Kuvvi, bersiap melayangkan tamparan namun bisa ditepis Kuvvi.
Kuvvi mencengkram pergelangan tangan Uya, lalu memelintirnya ke belakang. Hal ini membuat Uya mengaduh kesakitan. "Kalo orang ngatain, bales ngatain juga. Jangan enteng tangan. Ntar tulang Kakak dipisahin dari dagingnya sama Tuhan."
Kuvvi rasa, ucapannya tidak se-keterlaluan itu untuk dibalas dengan tamparan. Lagian, ia hanya bercanda, ya maaf saja kalau dia tidak suka dengan lelucon Kuvvi, Kuvvi kan hanyalah manusia biasa yang sempurna dibandingkan makhluk lain, tapi tak sesempurna lagu Andra and The Backbone.
"Lepas!" Cewek dengan lengan baju digulung itu berteriak pada Kuvvi. Tampilan boleh tomboy, tapi masa' dipelintir sedikit langsung merengek.
"Sorry, Kak. Gue gak bercanda, kok. Masukin aja ke hati." Kuvvi menekankan kata 'gak' seraya melepaskan cengkraman tangannya. Mungkin pergelangan tangan Uya akan merah setelah ini, karena Kuvvi menekan tepat di pergelangan yang dipenuhi gelang punk.
"Anjing!" Kali ini tangan Uya hendak menjambak rambut Kuvvi, tapi lagi-lagi Kuvvi bisa menepis secepatnya.
"Mana anjingnya? Enak ya si anjing, kalo ada yang ngatain dia anjing, gak harus sakit hati."
Ucapan Kuvvi membuat Uya semakin marah. "We, lariin adek lo ini deh. Sebelum gue nambah emosi."
"Ayo, Vi!" Awe menarik tubuh Kuvvi agar menjauh dari hadapan Uya. Ia tahu kalau adik sepupunya ini pemegang sabuk biru strip merah. Teknik menghadapi lawan yang Kuvvi miliki sudah berbagai variasi. Tapi sebagai seorang kakak, Awe tidak mau adiknya itu kenapa-kenapa. Uya juga, mengapa selemah itu hari ini. Tidak seperti biasanya.
"Aak--eh Abang balik duluan aja ke kelas. Aku bareng Ansel, kan kami sekelas. Sekalian abang anterin temen abang ini ke UKS. Pergelangan tangannya agak merah kayaknya, keteken gelang tengkoraknya tuh." Kuvvi berbicara pada Awe namun pandangannya mengarah ke tangan Uya. Cewek itu nampak sedang meringis seraya memegangi pergelangan tangannya.
Kuvvi melangkah hendak menyentuh pergelangan tangan Uya. "Maaf ya, Kak." Ia jadi merasa tidak enak. Memang salahnya yang memancing keributan ini, ampuni Kuvvi Ya Allah.
"Gak butuh!" Uya menjawab seraya menepis kasar tangan Kuvvi.
"Ayo, Yak! Gue anterin ke UKS, ya?" tawar Awe dengan terselip raut muka tidak enak.
"Gue duluan." Ansel mengucapkan dua kata itu lalu berjalan meninggalkan tempatnya. Bukannya menawarkan diri untuk mengantar pacarnya, ia malah terlihat seolah tak peduli.
"Ansel!" panggil Uya yang kesal, merasa diabaikan.
"Kayak gitu masih mau Kakak pertahanin? Udah putusin aja, Kak!" Itu Kuvvi yang menyarankan.
"Diem, lo!" bentak Uya.
"Udah, sama gue aja, Yak. Kita ke UKS," tawar Awe sekali lagi. Serius, Awe benar-benar merasa tidak enak hati. Tapi, mau membela Uya juga tidak bisa karena Kuvvi adiknya. Di saat seperti ini apakah Awe boleh menyanyikan lagu Raisa yang berjudul Serba Salah versi dangdut koplo?
KAMU SEDANG MEMBACA
DIMENSI (Completed)
Fiksi Remaja[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan. Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya. Aku pernah merasakan...
