Libur setelah ujian Nasional adalah fase baru yang saat ini sedang dihadapi murid kelas tiga, khususnya Kuvvi. Fase di mana ia tidak akan merasakan bagaimana suka dukanya dunia sekolah, susahnya bangun pagi untuk berangkat ke sekolah, atau pun hadiah tugas yang segunung dari guru-guru.
Kini, ia telah selesai ujian dan tidak akan merasakan semua itu lagi. Karena sekarang, cewek itu tidak punya kelas lagi, dan pekerjaan barunya adalah liburan.
Mendengar kata libur, bagi sebagian orang, seperti bertemu uang segepok di jalan ketika akhir bulan. Liburan seperti datang dengan membawa berjuta rangkaian bunga indah. Mewarnai setiap gurun yang gersang.
Tapi, setelah beberapa hari libur panjang, Kuvvi berceletuk, "Kuvvi bosen, Ya Allah. Pengen sekolah."
Usai Ujian Nasional, Kuvvi memang bebas bangun siang, karena tidak ada yang perlu dilakukan di Sekolah lagi. Ia yang lumayan hobi begadang, merasa sangat puas karena tidak harus bangun pagi lagi dengan kelopak mata yang bisa menyimpan kenangan bersama mantan.
Namun, di lain sisi ini membuatnya rugi. Tidak ada sekolah artinya tidak ada uang jajan! Dan pada akhirnya, ia mendadak jadi miskin. Uang tabungan semakin menipis. Ingin liburan ke mana-mana, malah kembali ke kasur juga. Ia pun jadi jarang bertemu Ansel. Meskipun rumah mereka berdekatan, ia jarang melihat cowo gebetannya itu.
Dua tempat yang ia kunjungi ketika libur adalah rumahnya dan rumah gebetannya. Seperti sekarang, Kuvvi sedang berada di rumah Nazo. "Ngapain sih? Celingak-celinguk. Ntar leher lo tambah panjang!" tegur Nazo yang sedari tadi memerhatikan temannya itu.
"Gak sopan, ya?" Kuvvi terkekeh. "Maaf, ya, Nanaz. Btw, Aan mana, Naz? Masih belum pulang?"
"Harusnya semalem udah pulang. Tapi, nggak tahu kenapa belum sampe-sampe."
"Gak nyoba ngehubungin mereka?"
"Mereka itu, dua beranak yang kayak batu es." Kuvvi dan Nazo menoleh, mendengar suara Alyviah berceletuk. "Sama-sama dingin. Cueknya kebangetan. Hp habis baterai. Powerbank juga gak di-charge. Yang kayak gitu tuh yang bikin Ibu suka ngomel-ngomel."
"Betul sekali!" sahut Nazo.
"Ibu, Kuvvi mau iseng nanya. Ibu pusing nggak, punya suami sama anak yang sifatnya sama?" tanya Kuvvi iseng.
"Enggak, dong. Kan mereka ganteng-ganteng."
"Dih, ibu-ibu. Masih aja mandang tampang," sambung Nazo tak setuju.
"Iya, dong. Mereka kan suami sama anak Ibu. Harus dibanggain." Alyviah menyenggol Kuvvi, "iya, gak, Sayang?"
Kuvvi mengangguk mantap. "Setuju!" Kadang, sebagian ibu-ibu lebih suka menceritakan keburukan anaknya. Anaknya yang malaslah, yang tidak nurutlah, yang suka membanding-bandingkan anaknya dengan anak tetanggalah. Padahal, belum tentu anak tetangga lebih baik dari anaknya. Untungnya, Mama Kuvvi tidak seperti itu.
"Kalo dari Nazo, apa yang bisa dibanggain, Bu?" tanya Nazo.
"Nazo itu..." Alyviah berpikir sejenak.
"Anak ayah." Nazo dan Alyviah menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara lelaki yang sangat mereka kenal. Sementara Kuvvi, salah fokus menatap cowok di sebelah Rafka.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIMENSI (Completed)
Jugendliteratur[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan. Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya. Aku pernah merasakan...
