Dengan menanyakan pada Pak Putu, Kuvvi mengecek kembali apakah namanya benar-benar tidak ada. Sekali lagi Pak Putu menjawab kalau namanya memang tidak terdaftar di kelas ini. Di situ Kuvvi kadang merasa terkacangi.
Padahal, dengan pedenya ia tadi pagi berjalan di sekitar sekolah, diantar mamanya menuju kantor, menjadi anak baru yang datang ke sekolah baru dengan seragam baru yang kerahnya masih kaku.
Sejak melewati gerbang, lapangan sekolah, hingga ia ditinggal ibunya di ruang kepala sekolah, ia selalu diperhatikan sama teman-teman barunya dari atas sampai bawah dengan tatapan "Siapa nih? Anak baru?" dan mereka saling bisik-bisik sambil memandang ke arahnya. Eh setelah sampai di kelas, ternyata salah masuk ruangan. Benar-benar menyebalkan.
"Jadi, saya gimana, Pak?" tanya Kuvvi dari tempat duduknya. Pak Putu nampak begitu santai sementara teman-teman sekelasnya ikut kebingungan. Sebenarnya bingung di sini karena tak tahu harus ikut sedih atau menertawakan.
Bagaimana bisa Kuvvi salah kelas, padahal yang mengantarnya tadi Wali Kelasnya sendiri. Ia mengingat betul kalau kepala sekolah menyebutkan 12 IPS 1 adalah kelasnya. Sebelum masuk ke kelas, melalui papan nama kelas, ia juga sudah memastikan kalau kelas yang ia masuki adalah kelas 12 IPS 1. Bukan kelas kosong apalagi hati yang kosong.
"Gak gimana-gimana," jawab Pak Putu enteng.
"Saya harus ke mana, Pak?" tanya Kuvvi lagi. Ia bingung, mau mencari kelasnya atau pulang.
"Pulang aja," kata Pak Putu.
"Jangan dong, Pak. Nanti uang jajan saya dirapel buat besok sama Mama saya gara-gara pulang cepet." Anak kelas itu tertawa mendengar jawaban Kuvvi.
"Coba kamu tanya Pak Kepsek, kelas kamu yang mana. Bapak tadi lupa pula nanyain."
"Oke, Pak."
"Sekalian bawa tas aja, biar gak bolak-balik," saran Pak Putu ketika Kuvvi hendak beranjak tanpa membawa apa pun.
Dengan berat hati, Kuvvi membereskan semua buku dan alat tulisnya yang ada di atas meja, dibantu Sunnia. Setelah selesai memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas, ia menoleh ke belakang. "Tenang aja, An. Ini cuma kesalahan teknis. Nanti aku masuk ke kelas ini lagi kok."
Ansel yang sama sekali tak peduli, lanjut mencoret-coret buku tulisnya. Coretan itu menghasilkan gambar durian yang terbelah. Sengaja ia menggambar buah berduri itu, do'anya supaya ia bisa bebas. Karena hampir terkubur durian, bukankah tidak salah jika ia berusaha menikmati hasilnya. Tak diganggu makhluk yang bernama Kuvvi lagi, merdeka!
"Irham, coba temenin Kuvvi ke ruang kepsek. Nanti dia kesasar," titah Pak Putu yang diangguki dengan mantap oleh Irham.
"Sebelumnya, ucapin kata perpisahan dulu dong buat mantan temen sekelas," kata Pak Putu menyuruh Kuvvi.
Di sinilah Kuvvi sekarang, berdiri di depan kelas menghadap semua teman-teman yang baru saja ia kenal. Menatap satu per satu lalu dengan waktu yang agak lama ia menatap seseorang yang ada di sudut kelas, yang duduk di sebelah Budi bernama Ansel Garabaldi. "Terimakasih teman-teman."
"Yhaaaa." Kalau tadi semua murid di dalam kelas itu bersorak "yhaaa" dengan penuh semangat, kali ini ada nada sedih terselip.
"Coba kasih salam perpisahan dulu dong," saran Pak Putu lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIMENSI (Completed)
Novela Juvenil[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan. Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya. Aku pernah merasakan...
