[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan.
Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya.
Aku pernah merasakan...
Kalau dipikir-pikir, Kuvvi mau nebeng di mana? Ansel saja bawa sepeda tanpa tempat boncengan. "Oh iya, gak ada boncengannya. Aku gak papa berdiri di besi belakang, An."
"Pulang sendiri." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Ansel.
"Aku gak tahu jalan pulang, kan aku anak baru. Tadi aku dianter, mana inget jalan. Kita kan tetanggaan, bolehlah nebeng, An."
Bukannya menjawab, Ansel sudah menaiki sepedanya dan bersiap mengayuhnya. "Tunggu dulu, An!" ucap Kuvvi menghentikan.
"Aku minjem HP kamu aja, deh. Mau nelpon orang rumah, aku gak punya pulsa." Karena tidak mau memperpanjang urusan, Ansel merogoh saku celana abu-abunya lalu menyerahkan ponselnya.
"Makasih, Aan!" seru Kuvvi bahagia sekali. Ia pun langsung mengusap layar ponsel Ansel yang tak diberi password, kemudian menekan nomornya sendiri.
Untungnya ponsel Kuvvi di-setting silent, jadi, Ansel tidak tahu kalau ia menelepon ke nomornya sendiri. Tak lama, ia pura-pura bermonolog sendiri. "Hallo, assalamu'alaikum, Ma."
"..."
"Tolong jemput Kuvvi dong, Ma."
"..."
"Iya, Ma. Kuvvi nunggu di depan pager sekolah. Makasih, Ma. Assalamu'alaikum." Kuvvi pun langsung mematikan panggilannya.
"Makasih, An!" Tanpa menjawab ucapan terimakasih Kuvvi, Ansel sudah pergi meninggalkannya.
Kuvvi memohon ampunan di dalam hati, Ya Allah, maafin Kuvvi udah bohong. Kuvvi janji, ini yang terakhir. Astaghfirullah.
"YESS! Alhamdulillah! Dapet nomor Aan!" Kuvvi langsung menyimpan nomor HP Ansel. Kemudian ia membuka aplikasi ojek online lalu mengetik nama alamat rumahnya. Alibi Kuvvi hari ini, berhasil.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nazo mengacungkan tangan ketika mendengar Bu Titi, gurunya memanggil namanya. Pelajaran bahasa Indonesia baru semenit yang lalu selesai. Kelas Nazo sangat berjauhan dengan kelas kembarannya. Bahkan, bukan cuma kelas, tapi jurusan mereka sangat bertolak belakang. Bu Titi hendak menyuruh Nazo membawakan buku tugas . "Tolong ya, Nak." Bu Titi berkata dengan lembut sekali. Nazo menyanggupi karena memang sudah menjadi tugasnya.
Kalau saja waktu itu wali kelasnya tidak mengiming-imingi tambahan nilai, ia tak akan mau menawarkan diri menjadi ketua kelas. Sejujurnya, jadi ketua kelas itu berat, disuruh mengurus banyak orang, dibenci, disuruh-suruh, meski terbayar dengan tambahan nilai. Semester ini, Nazo harus mendapat nilai yang tinggi agar diizinkan ibunya naik gunung ke luar kota.
"Terima kasih, Ketua Kelas!" ucap Bu Titi. "Sampai ketemu lagi, Ananda-ananda. Jangan lupa PR-nya dikerjain." Setelah mengucapkan kalimat itu, guru berhijab itu pergi meninggalkan kelas.
Nazo berjalan ke meja guru, mengambil buku bersampul coklat punya teman-temannya lalu pergi ke ruang guru. "Wakil ketua kelasnya mana, sih? Bantuin noh ketua kelas ngangkat buku-buku." Zainal bersuara.