41. Dimensi Kepuasan

6.3K 907 544
                                        

Target 500 komentar lagi, santai aja, lama-lamain, jangan cepet-cepet yaa

Kuvvi bersiap-siap melemparkan bola ke ring, namun bukannya masuk ring, bola malah masuk ke halaman rumah Pak Joko, tetangga belakang rumah Ansel

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kuvvi bersiap-siap melemparkan bola ke ring, namun bukannya masuk ring, bola malah masuk ke halaman rumah Pak Joko, tetangga belakang rumah Ansel.

Pyar pyar nmklahhmsngjekegejs

"Aduh, gimana nih. Pecah kayaknya."

"An, aku pulang, ya," ucap Kuvvi berusaha kabur.

"Heh."

"Pak Joko kan serem, An." Pak Joko adalah seorang ketua RT yang sedang berkuasa dan terkenal tegas di wilayah komplek rumah mereka. Apalagi masalah iuran, ia tidak kenal kata 'nanti aja'.

"Hadepin."

Sejurus kemudian, kepala Pak Joko mengintip dari pagar belakang rumah Ansel. "Kalian berdua! Sini!"

Kuvvi dan Ansel pun mendekati Pak Joko. "Ngapain? Mau manjat?" tanya Pak Joko ketus, "Lewat depan!"

"Isshhh, katanya tadi disuruh ke sana." Mereka berdua mendatangi rumah Pak Joko berniat meminta maaf.

Pak Joko membawa kedua orang itu ke halaman belakangnya. "Udah lihat? Pecah, kan?" Kuvvi tertunduk sementara Ansel diam saja.

"Maaf, Pak. Saya salah," aku Kuvvi.

"Siapa yang melempar?"

"Say--"

"Berdua," ucap Ansel yang membuat Kuvvi menatapnya lalu menggeleng seraya merapatkan mulutnya.

"Gimana, sih? Nggak kompak!" Pak Joko meminta ganti rugi kaca jendelanya yang pecah akibat ulah Kuvvi. Ia menelepon Bu Sondang, meminta datang untuk bertanggung jawab atas kesalahan anaknya. Tidak mungkin kan, Pak Joko meminta Alyviah atau Rafka yang datang, karena ia tahu mereka berdua sedang di luar kota.

"Maaf, Pak." Tak henti-hentinya ia meminta maaf.

"Aduh, maaf ya, Pak. Anak saya emang petakilan," ucap Mama Kuvvi yang sudah datang.

"Ganti rugi aja, Bu, masalah kelar."

"Iya, saya sudah foto jenis kacanya. Ukuran berapa ini, Pak?"

"1,5 x 0,5. Harus persis seperti ini, ya. Saya nggak mau tahu. Cepet ya, nggak pake lama."

"Siap, Pak. Kita pamit dulu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Bu Sondang tak henti-hentinya mengomel. "Ih, kamu tuh! Kenapa harus kaca pak RT, sih? Kalo kamu nikah, bakal berurusan sama beliau. Nanti kamu disusahin ngurus surat-surat, gimana?" omelnya ketika sudah di depan pagar rumah Ansel.

Mengapa urusannya jadi nyerempet ke nikah? "Maaf, Ma. Kuvvi kan nggak sengaja. Nggak direncanain juga. Kalo udah Kuvvi rencanain, Kuvvi lempar aja ke jendela rumah kita, biar diganti baru."

DIMENSI (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang