Kuvvi dan mamanya sedang menyantap sarapan di ruang makan. Ada mie goreng dan nasi goreng yang sudah tersaji di atas meja, namun, cewek berkuncir satu itu memilih roti tawar yang diolesin selai coklat. Tak lupa, segelas susu sudah ia teguk setengahnya.
"Yah, sayang banget, mie goreng sama nasi gorengnya masih banyak, nggak ada yang makan, nih!" Mama Kuvvi menatap piring-piring makanannya yang masih pernuh.
"Nanti masukin ke tupperware aja nasi goreng sama mie gorengnya buat temen-temen Kuvvi, Ma. Kasian nanti kelaperan," saran Kuvvi setelah mengelap mulutnya memakai tissue. Mereka sekeluarga telah selesai sarapan.
"Iya, Nak. Bawa semua, ya?"
"Siap, Ma!"
"Gimana sekolahnya, Nak? Udah dapet banyak temen?" tanya Mama Kuvvi yang begitu perhatian.
"Banyak, Ma. Tapi ada satu yang susah ditemenin."
"Siapa?"
"Tetangga sebelah. Dingin banget, Ma."
"Sabar aja. Tapi, temen yang lain baik-baik semua, kan? Nggak ada yang bully kamu? Mama takutnya kayak di sinetron-sinetron. Anak baru sering dibully."
"Enggak, Ma. Mereka semua baik, kok."
Selesai makan, Kuvvi memasukkan nasi goreng dan mie goreng itu ke dalam tupperware. Ia menyimpan bekal untuk teman-temannya ke dalam ransel biru mudanya. Kemudian berjalan ke teras rumahnya menunggu ojek online datang menjemput. Cewek itu menolak tawaran mamanya yang ingin mengantar, biar mandiri katanya.
Waktu telah menunjukkan pukul 06.45 WIB namun ojek online tak kunjung datang. Ia pun memutuskan untuk naik ojek dekat komplek, daripada telat, urusannya panjang. Nazo pasti sudah pergi duluan, karena ada PR yang tak bisa ia kerjakan. Jadi, ia harus datang lebih pagi agar bisa menyalin PR temannya. Semalam, ia sudah meminta tolong Kuvvi untuk mengerjakan, tapi, Kuvvi jurusan IPS, sementara Nazo IPA.
Sesampainya di pangkalan ojek, tak ada satu pun Tukang Ojek yang mangkal. Kuvvi sedikit cemas dibuatnya. Ia menoleh ke kiri berharap ada abang Ojek yang datang.
"Aan!"
Cowok itu menoleh sebentar namun langsung meneruskan kayuhannya. "Astaghfirullah, nggak ada basa-basinya buat nebengin!"
Alyviah mendengkus kesal saat melihat cowok itu melesat pergi, meninggalkannya tanpa basa-basi dan sepatah kata pun. "Ajakin, kek. Kan sayang bangku belakangnya kosong. Nggak peka banget jadi cowok, untung ganteng."
"Kupik!" Kuvvi mendengar suara cewek memanggilnya.
"Nazo? Aku pikir, kamu udah duluan."
"Belum, Pik! Tadi si Alfa ngeselin. Gue jadi telat." Nazo turun dari sepedanya lalu menyuruh Kuvvi mengendarainya.
"Udah, Naz? Berangkat, ya?"
"Iya." Kuvvi mengayuh sepeda Nazo. Untungnya badan Nazo seperti anggota girlband, jadi tak berat-berat amat.
"Si Alfa kenapa?"
"Dia ngunci pintu depan sama belakang. Orang-orang nggak dibolehin keluar."
Kuvvi tergelak keras. "Nggak mempan dibujukin?"
"Enggak, ngancem mau es krim. Ibu mana mau nurutin."
"Didikan ibu keren, ya. Tegas, nggak selalu nurutin permintaan anaknya." Kuvvi jadi kagum dengan cara parenting Alyviah. Nanti, ketika ia sudah memiliki anak, ia akan mencontohnya.
"Tegas banget! Kami mau minta beliin motor aja nggak dibeli-beliin. Ini kami disuruh naik sepeda."
"Nggak papa, Naz. Kan sehat!"
KAMU SEDANG MEMBACA
DIMENSI (Completed)
Genç Kurgu[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan. Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya. Aku pernah merasakan...
