[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan.
Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya.
Aku pernah merasakan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mengingat perjalanan masih jauh, mereka menambah kecepatan jalan semampu mereka. Sekitar pukul dua belas, mereka beristirahat agak lama, lalu disempatkan mengemil dan membuat minuman hangat. Anggota cewek sendiri sempat tertidur sebentar.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Vegetasi kini berganti dari pepohonan rimbun menjadi lebih terbuka. Mereka sempat melewati bagian trek yang sebagiannya sudah longsor dan di bawahnya lautan jurang dalam.
Tas Kuvvi sempat tersangkut di pohon, hampir saja ia terhempas ke jurang, beruntung masih selamat. Semua orang nampak khawatir, sementara yang dikhawatirkan malah nyengir. "Nggak jadi jatuh, kok. Tenang, tenang."
Pukul satu siang, mereka sampai di puncak bayangan, suatu area yang cukup luas sebelum puncak Manik. Walaupun bisa menampung tiga sampai empat tenda, permukaan pijakannya tidak terlalu rata. Ada banyak batu dan akar pohon yang menghiasi.
Pendaki biasanya menginap di sini untuk melakukan summit attack nantinya. Di puncak bayangan ini, mereka melakukan ishoma. Walaupun trek Cidahu ini jalur utama selain jalur Cimelati, tapi hanya beberapa kali mereka menemui pendaki lain, kebanyakan yang tektok, alasannya mungkin sudah cukup jelas.
Mereka istirahat cukup lama di pos ini sekitar satu setengah jam. Pukul 14.30 mereka melanjutkan perjalanan ke puncak. Dari puncak bayangan ini bisa terlihat trek ke puncak Manik menjulang tinggi, apalagi dari puncak bayangan treknya menurun dulu, sudah terbayang bagaimana trek naiknya nanti.
Betul saja, selepas sadel pemisah antara puncak bayangan ke trek Puncak, mereka langsung bertemu tebing dengan kemiringan hampir delapan puluh derajat. Uya bahkan harus dibantu dibawakan dulu carier-nya karena kondisi treknya cukup menyulitkan ruang gerak, meski di tebing tersebut masih terdapat webbing untuk membantu pendaki naik. Pendaki musti ekstra hati-hati apalagi kalau treknya dilalui saat hujan.
Tebing demi tebing harus mereka lalui sebelum mencapai puncak. Mungkin ada sekitar tujuh sampai delapan webbing yang membantu mereka melewati tebing-tebing yang ada. Meski demikian, tutupan vegetasi semakin terbuka.
Hingga tidak terasa pal HM sudah menunjukkan HM 49, itu artinya sebentar lagi mencapai puncak. "Alhamdulillah!" mereka berseru.
Rombongan sampai di puncak sekitar pukul 16.00 yang disambut oleh pohon-pohon Akasia yang sepertinya hanya ditemui di puncakan ini.
Terdapat dua bagian puncak, ada daerah puncak yang terbuka dan daerah yang mereka gunakan untuk berkemah.
Sebelum mendirikan tenda, para anak muda foto-foto dulu di plang puncak. Sementara yang tua hanya melihat saja. "Kuvvi, tolong fotoin gue sama Ansel!" Uya sengaja meminta Kuvvi memotonya.
"Oke, tapi gantian ya, Mbak Uya."
"Iye."
"Fotoin aku dulu sekali, nanti aku fotoin sepuluh kali."