Bab 17

641 30 0
                                        

Lara melingkarkan tangannya terus di Pinggang Bryan, yang membuat banyak orang memperhatikan mereka.

Sesampainya di parkiran sekolah, Bryan tidak segera menurunkan standart motornya.

Bryan mengulurkan tangannya untuk membantu Lara menurunin motornya dengan aman.

Lara menyambar tangan itu lalu turun dari motor.

Lara melepas helm dan membuka kancing serta menutunkan sleting jaketnya.

Bryan melepas helmnya dan meletakannya di atas tangki motornya lalu menurunkan standart dan tutun dari motornya. Tak lupa Bryan menata rambutnya.

"Ayo ke kelas, aku anterin" ucap Bryan pada Lara mengajaknya bersama.

Saat berjalan berdampingan ke kelas Lara, berpuluh - puluh mata teroasang pada mereka berdua yang berjalan beriringan.

Sesampainya di kelas Lara, Lara melihat tiga sahabatmya telah samai di sekolah.

"Waw" ucap Maya sambil menatap Lara dan Bryan yang telah sampai di kelas Lara bersamaan.

"LARA ?! LO UDAH BAIKAN SAMA BRYAN ?!!!!" Jerit Cilla dengan suaranya yang menbahana.

"Bisa ga usah pake teriak - teriak gak sih Cil ?" Tanya Lara sebal.

"Ya udah, kamu belajar yang bener. Aku mau ke lapangan basket dulu" ucap Bryan.

"Kamu mau ngapain ke lapangan basket ?" Tanya Lara penasaran.

"Tadi Alex ngajakin aku ketemuan, karanya ada yang mau dia omongin ke aku" jelas Bryan.

"Oh ya udah deh" ucap Lara.

"Kamu belajar yang bener ya Ra, yang fokus, jangqn kebanyakan mikirin aku pas belajarnya" ucap Bryan sambil mengelus pucuk kepala Lara.

"Udah ya.. nanti aku jemput ke sini lagi pas pulang" pamut Bryan sambil berjalan menjauh.

"Waw" ucap Maya, lagi.

"Lo waw wow waw wow terus dari tadi ga, cape apa" tanya Lara kesal.

"Lo marah - marah mulu dari tadi Ra ga cape apa ? Lo lagi haid bukan ?" Tanya Cilla.

Lara hanya diam tidak menjawab karena moodnya sedang tidak terlalu ramah pada saat ini.

Cilla, Maya, dan Rosaline membicarakan PR Bu Cecil dan Lara hanya membalas seadanya.

Bryan berjalan menuju laoancan basket dimana dia dan Alex berjanjian untuk ketemu pagi ini.

Bryan melihat Alex sedang latihan basket sendirian.

"Lex" panggil Bryan.

Alex yang sedang fokus berlatih memalingkan wajahnya ke sumber suara.
Yang ternyata merupakan suara Bryan, Alex melambaikan tangannya.

Alex pun menyudahi latihannya pagi ini dan berjalan ke bangku dimana ia meletakan semua perabotannya.

Alex mengelap keringatnya dengan handuk, minun, dan duduk di bangku.

"Ada apa Lex ?" tanya Bryan.

"Gue cuman mau ingetin lo. Gue izinin lo deket lagi sama ade gue. Gue izinin kalian berdua deket lagi karena, kelihatannya dia sayang banget sama lo. Dengan gue nyuruh Lara ga boleh deket sama lo cuman akan buat dia sakit dan patah hati, dan gue ga mau jadi penyebab kenapa dia patah hati. Tapi gue juga jaga - jaga, aa ini lo yang deketin ade gue, bukan anak - anak yang lain" ucap Alex.

"Gue tau lo, lo itu playboy. Gue juga tau lo begimana kalo playboynya udah kambuh. Tapi melihat lo protektif ke ade gue, entah kenapa gue merasa lo serius sama dia.  Gue ga minta banyak, gue cuman  mau lo ga nyakitin dia baik secara fisik  maupun hati, selalu ada buat dia kaya gue, dan ga mainin dia kaya cewe - cewe sebelom dia" jelas Alex.

MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang