Dying Wish

55 2 0
                                        

Laila yang berhasil melarikan diri dari Hansel langsung menemui Railo.

"Hahaha good job!" ucap Railo seraya mengajak Laila untuk melakukan tos dengannya. Laila menepukkan telapak tangan kanannya ke telapak tangan kanan Railo.

"Iya dong" ucap Laila bangga.

"Mantaps!"

"Kayaknya temenmu itu dompetnya tebal yah!" ucap Laila dengan gembira. Bagaimana tidak gembira, ia baru saja makan dengan puas apalagi itu semua GRATIS.

"Seharusnya kamu minta lebih banyak lagi, sekalian makan di rumah. Aku juga kaget kamu bisa ngehabisin semuanya sih"

"Aku hebat kan?" ucap Laila seraya menggenggam tangan Railo dan berputar-putar seraya meloncat-loncat.

"Tapi Rai, kalau dia beneran temanmu, kenapa kamu gak cerita ke dia atau kabur ke rumahnya aja?" tanya Laila menghentikan aksi gilanya seraya menatap Railo dengan serius.

Teman... Ternyata benar, kalau aku mengenalnya. Makanya rasanya tadi sedikit familiar... Tapi aku.... Batin Railo masih bingung dengan dirinya sendiri.

"Ng- Laila, aku emang ngerasa kalau aku mengenalnya, tapi yaa namanya atau siapa dia itu sebenarnya............. Aku nggak ingat" ucap Railo menarik tangannya dari genggamam Laila dan meremas ujung jaket yang ia kenakan.

"Hmm...." Laila menatap mata Railo dengan serius seolah-olah sedang mencari sesuatu di dalam mata Railo.

"Kamu waktu itu manggil dia Reihan!" ucap Laila tiba-tiba.

"Ah bukan, bukan itu namanya"

"Loh?! Katanya lupa, waktu itu kamu manggil dia Reihan kok!"

"Ugh- bukan. Bukan itu namanya" ucap Railo berusaha mengingat sesuatu yang menurutnya begitu penting. Namun ia sama sekali tidak tau apa itu.

Entah kenapa.. Aku begitu yakin, bukan itu namanya. Tapi apa? Kenapa nggak bisa ingat? Batin Railo seraya memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.

"Namanya...." perkataan Railo terhenti.

Deg.
Railo meremas dada kirinya dimana jantungnya berada,
"UGHH" erang Railo kesakitan seraya terus meremas dada kirinya.

Bulan yang sedari tadi mengawasi Railo dari jauh, langsung menghampiri Railo dan memeluknya dari belakang saat ia melihat Railo begitu kesakitan.

"Hentikan! Bodoh. Kamu segitu maunya jadi arwah gentayangan? Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk mengingat sesuatu Rai. Itu akan merusakmu. Tenanglah Rai. Aku akan melindungimu" ucap Bulan dengan suara yang begitu lembut serta pelukannya yang semakin mengerat.

Railo merasa begitu tenang, dadanya kini tidak sakit lagi.

"Bulan.." Railo memanggil Bulan yang masih saja memeluknya.

"Nggak-nggak! Bukan Bulan! Kanapa jadi Bulan? Uuuhhh aku inget dia ngedumel sesuatu waktu ku sebut namanyaaaa ugh! Mungkin itu nama yang Railo maksud, tapi aku malah lupa. Hueeee.... Hudson?! Eh bukan, Hendricsen?! B-bukan juga... Johnson?! E-eh??? P-pokoknya namanya barat-barat gituuuu" cerocos Laila yang heboh sendiri. Sedangkan Railo dan Bulan hanya melongo melihat cara bicara Laila yang begitu cepat.

"Mm... Dengar Laila, aku ingin kamu berjanji beberapa hal padaku. Satu, jangan ceritakan apapun tentang aku ke orang lain siapapun itu. Dua, jangan dengarkan permintaan dari siapapun jika ada kaitannya dengan aku apapun alasannya dan tiga, kalo kamu ketemu temenku lagi, kabur aja. Janji yah!" ucap Railo seraya menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Laila.

Hmm banyak banget janjinya, susah ingetnya batin Laila seraya menggembungkan pipinya.

"Janji yaaa" ulang Railo karena merasa tidak di respon oleh lawan bicaranya itu.

"Iya iya" ucap Laila dengan malas seraya menautkan kelingkingnya dengan kelingking milik Railo.

"Aku janji" ucap Laila yakin.

Aku cuma nggak mau menjadi beban untuk orang-orang yang ku tinggal batin Railo seraya menyunggingkan senyum. Tapi bukanlah senyum bahagia yang terlukis di bibirnya.

"Terimakasih... Laila Kalyanna" ucap Railo.

Deg...
Dadaku sesak, kenapa tiba-tiba dingin? Railo? Batin Laila seraya menghembuskan nafas berat berusaha mengatur nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak, dan seakan-akan ada beban berat yang menghimpit dadanya.

***

Karena sudah malam, akhirnya Laila memutuskan untuk membawa Railo agar menginap ke rumahnya.

Terus...
Kenapa akhirnya jadi gini?
Kenapa aku harus nginep di rumah Laila?! Kenapa aku harus pakai baju ini?! Apa salahku?! Kenapa hari pertama aku bangun kayak gini??! Batin Railo meratapi nasibnya yang harus mengenakan pakaian tidur wanita yang diberikan Laila karena baju yang kinenakan Railo dibawa ke laundry.

Sedangkan Bulan berbanding terbalik dengan Railo yang saat ini mendongkol, Bulan begitu senang karena akhirnya bisa membaringkan tubuhnya ke kasur, yah walaupun hantu tidak butuh tidur sih.

Krit....
Suara pintu yang dibuka, mengalihkan perhatian Railo.

"Railo... Tidur! Istirahat yang cukup! Badanmu dingin banget dari tadi. Kamu pasti sakit. Besok baru kita mulai mencari ingatanmu yang hilang itu" ucap Laila yang berada di depan pintu.

"Selamat malam Rai" ucap Laila kemudian lalu menutup pintu meninggalkan Railo.

"Mm ternyata ayahnya Laila itu seorang seniman ya. Hebat,,, jiwa seninya ada dalam darah" gumam Railo seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan indah.

"Hey Bulan... Menurutmu kenapa Laila bisa melihat dan menyentuhku?" tanya Railo ke Bulan yang saat ini berbaring di belakangnya, dan Railo yang duduk di pinggir ranjang membelakangi Bulan.

"Entah... Tapi aku yakin dia ada kaitannya dengan urusanmu yang belum selesai di dunia ini. Tapi, urusan seperti apa yang menjadi pertanyaanya. Kecuali... Dia ada kaitannya dengan dying wish mu" ucap Bulan panjang lebar. Ia juga heran, kenapa Laila bisa melihat Railo, dan tidak dapat melihat dirinya. Tapi hal itu bagus juga, jadinya ia tidak harus mencari alasan kenapa ia bersama Railo, dan dia bisa dengan leluasa mengikuti Railo tanpa diketahui oleh Laila.

Dying wish Railo menggumamkan kata itu berulang-ulang.

"wuaaaahhhh! Emangnya harapanku sebelum mati apaaaa?! Nggak ingat" ucap Railo seraya membaringkan tubuhnya ke belakang dan langsung menindih Bulan. Bulan yang memiliki tubuh lebih kecil dari Railo,  kaget sekaligus tersiksa karena tubuh Railo yang begitu berat.

"Huaa berat!" keluh Bulan.

"Hehehe, kayaknya kalo Railo mau hidup atau mati juga tetep bad-luck ya" ucap Bulan kemudian.

"Berisik tau ah!"

"Ke Laila jangan baper ya"

"Baper palamu! Baru juga ketemu sehari, masa udah baper! Laila emang cantik, tapi perasaanku nggak semurah itu kali!"

"Railo bodoh!"

"Hah?"

"Apa kamu bisa menjamin, kalau dulu waktu kamu masih hidup kamu nggak suka sama Laila? Kalau ternyata kamu sudah terlanjur suka dengannya, dan sekarang kamu sudah mati duluan, kalau ingatanmu nanti kembali lagi, saat itu terjadi, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Bulan.

Dari sinilah, dilemaku dimulai... Batin Railo seraya mengarahkan tangannya ke lampu  yang berada di plafon kamar itu dan ia mengepalkan tangannya, namun hampa. Tangannya tetap kosong.

Ghost Dilema [END]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang