TITIK AKHIR II

47.9K 5.7K 335
                                        

"Taksa dan Bayanaka akan tinggal di sini."

Untuk beberapa detik kemudian aku hanya mampu mengerjapkan mata, mencoba memahami rangkaian kata yang baru saja terlontar dari mulut mama.

"Mama harap kamu bisa memahaminya. Mama percaya Hira cukup bijak untuk mengolah situasi ini, Sayang."

Dan ucapan mama yang kedua sukses membuatku terperangah. Otakku sudah bekerja sempurna dan kini rasanya aku ingin menghancurkan meja yang menjarakiku dan mama.

"Katakan sesuatu, Sayang."

"Sebentar, Ma, aku sedang berusaha menyusun kata-kata yang paling baik agar tidak membuat Mama langsung menangis setelah mendengarnya."

Ini pertama kalinya aku melontarkan kalimat 'pedas' pada mama tapi sungguh amarahku yang masih begitu pekat semakin memburuk mendengar keputusan sepihak mama.

"Mama tahu ini sulit untuk kamu terima...."

"Ini buka hanya sulit, Mama, ini mustahil." Suaraku terdengar seperti desisan dan bagaimana wajah mama yang mulai gelisah menandakan bahwa pesanku tersampaikan dengan baik.

"Sayang... ini bukan saatnya kita berdebat."

"Oh tentu aku tidak akan berdebat dengan Mama, jika saja tidak ada pembahasan absurd ini."

"Ini bukan pembahasan absurd. Mama hanya ingin kamu mengambil tanggung jawab yang ditinggalkan Papa terhadap Taksa, adikkmu."

Penekanan pada kata 'adik' yang diucapkan mama membuatku mengatupkan bibir. Aku tak pernah ingin membantah mama, meski hubunganku dengannya tak sedekat hubunganku dan papa. Demi apapun papa adalah segala yang terbaik di dunia ini bagiku. Namun, posisi mama juga termat penting di mataku. Beliau adalah perempuan yang melahirkanku. Wanita tertangguh yang rela memeprtaruhkan nyawa agar aku bisa melihat dunia.

"Dia bukan adikku."

Mama melotot, terlihat tak menyangka bahwa aku bisa mengeluarkan kalimat kejam itu.

"Jangan keterlaluan! Mama tidak mendidikmu untuk menjadi pengingkar ketentuan Tuhan."

Aku memejamkan mata, sadar betul bahwa apa yang kucapkan memang tidak akan bisa diterima Mama tapi tetap saja bara di dadaku menolak mengakui bocah itu sebagai saudara.

"Bundanya koma," informasi dari Mama sontak membuatku membuka mata, menatap mama dengan tidak percaya. "dan Bundanya tak memiliki sanak saudara yang bisa menerima kehadiran Taksa. Bayanaka hanyalah kakak satu ibu sedangkan kamu kakak satu ayah. Tanggung jawab terbesar ada di pundakmu, Hira."

Tuhan! Betapa aku muak mendengat kata 'tanggung jawab' itu. Jika sekarang aku diminta mengambil peran mengambil tanggung jawab papa yang telah bertemu Tuhan, lalu pada siapa akan kuminta pertanggung jawaban terhadap hatiku yang bernanah?

"Mama, sebelum kita membicarakan pembahasan tentang tanggung jawab antar saudara ini, bolehkan Hira bertanya?"

"Tentu Sayang." Ada pijar khawatir di manik mama yang tampak berusaha keras ia sembunyikan.

"Mengapa Mama bisa menerima keberadaan bocah itu dengan lapang dada bahkan dengan tangan begitu terbuka? Tidak adakah sakit di hati Mama? Bagaimanapun ia adalah bukti bahwa Papa mengingkari janji pernikahan kalian? Bukti jelas bahwa putri Mama ini, yaitu aku, tidak pernah cukup bagi Papa?"

Mama mengerjapkan mata, satu bening lolos menuruni pipinya dan langsung dihapus Mama cepat. Cara Mama berpaling dan menghindari mataku membuat jantungku terasa diremas. Mamaku juga mengalami luka, tapi dia berusaha menutupinya sempurna. Ah... betapa sialannya kisah ini!

"Sekalipun aku memaksa, Mama tidak akan pernah menjelaskan bukan?" tanya getir dari bibirku membuat Mama kembali memandangku. Ada hampa di mata Mama yang kutangkap begitu kentara.

"Mama mencintai Papa, dan Mama berusaha menjaga apa yang dicintai Papa."

Aku tergelak, keras dan sakit. Rasanya aku ingin menyumpah dan mengatai mamaku tolol. Perempuan tertolol yang membiarkan ia dibutakan rasa cinta yang ternyata fatamorgana, tapi aku bisa apa? Semakin keras aku mencaci sikap Mama, semakin bertambah luka di hati wanita tersayangku itu.

"Mama... Mama... Mama.... Betapa aku sakit melihat Mama seperti ini. Bisakah Mama berhenti menyiksa diri?"

"Ini bentuk pengabdian terakhir Mama pada Papa, Hira. Mama mohon hanya sampai bunda mereka sadar dari komanya dan mampu merawat Taksa kembali."

Aku bangkit dari dudukku, memandang ke dalam rumah yang ramai oleh sanak keluarga mempersiapkan tahlilan nanti malam untuk Papa, sebelum melempar pandangan ke arah bunga-bunga di taman belakang tempat kami berada senja ini.

"Lakukan apa pun yang Mama inginkan tapi jangan memaksaku terlibat. Hatiku masih terlampau perih dan aku tidak sudi memasang topeng agar terlihat baik-baik saja di depan dunia."

Aku beranjak meninggalkan mama, memasuki ruang keluarga yang hanya terpisah sebuah pintu kaca dengan taman belakang tempat tadi aku dan Mama berbicara. Namun, langkahku terhenti saat melihat Bayanaka berdiri dekat ambang pintu dan kini menatapku.

"Aku minta maaf."

Aku mengangkat sudut bibirku saat mendengar ucapan lelaki itu. '' Ini bukan dosa yang kamu ciptakan, jadi jangan meminta maaf."

"Aku tidak meminta maaf untuk hubungan bundaku dan papamu. Aku Minta maaf karena kamu terpaksa harus menerima kehadiraan adikku di rumahmu."

Untuk beberapa saat aku tercengang sebelum mengurut pelipisku lalu menatap Bayanaka tidak percaya. "Bisakah kamu tidak berbicara denganku lagi?"

Ada riak di ekspresi tenang yang sedari tadi menempel di wajah Bayanaka, lelaki itu jelas tidak mengira bahwa aku bisa mengeluarkan permintaan semacam itu.

"Mengapa aku harus melakukannya?"

"Karena ini sia-sia. Kamu pasti sudah mendengar pembicaraanku dan mamaku tadi." Bayanaka mengangguk dengan gerakan yang sangat kaku. "Dan itu berarti kamu mengetahui jelas alasanku. Kita berada dalam sisi berbeda atau tepatnya kita berada dalam posisi berlawanan."

"Ada Taksa di antara kita, Hira."

Percayalah kali ini aku hampir berdecak. Besar sekali pengaruh bocah itu hingga aku harus menerima segala sangkalan atas mauku karena kehadirannya.

"Bolehkah aku mengatakan bahwa aku tidak peduli?"

Kali ini keterkejutan di wajah Bayanaka tergambar jelas dan aku tidak bisa mengehentikan rasa puas atas keberhasilanku itu. Senyumku baru saja akan mengembang saat seringai geli terbentuk di wajah lelaki itu.

"Satu manusia keras kepala lagi yang harus dihadapi, dan kali ini aku bahkan tidak bisa memanggilnya bocah." Gumaman Bayanaka bisa tertangkap di telingaku karena jarak kami yang tidak terlalu jauh.

"Kamu mengatakan apa?"

Aku bertanya dengan nada tidak terima pada Bayanaka, tapi respon yang ia berikan bukanlah jawaban melainkan alis terangkat dan senyum yang merekah lebar.

"Mari kita rawat Taksa bersama-sama, Saudariku."

Dan Bayanaka meninggalkanku yang hanya mampu melotot ke arahnya.

Siapa manusia keras kepala?

Dan berani-beraninya dia menyebutku saudari?

Sialan!

Tbc

Love,

Rami

Inak Rami cinta mas Naka... mas Naka mulai Nacka...l muehhehehehe😶😶😶😶😶

Titik AkhirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang