10

657 14 0
                                        

"Kamu boleh ke toko buku hari ini dengan syarat kamu ditemani Lucas." 

Ekspresiku datar seketika setelah mendengar persyaratan dari Bunda. Jam dinding menunjukan pukul lima sore dan hari ini adalah hari minggu. Aku ingin menikmati tanggal merah ini untuk berjalan-jalan di mall, ke toko buku hanyalah alibi agar aku diizinkan dan diberi uang saku. Namun, mengapa Lucas masih muncul di hari liburku?

"Terima kasih, bun. Aku bisa sendiri."

"Yasudah, bunda gak kasih izin."

Aku segera melangkah menuju kamar Lucas. Hentakan kakiku menggema di dalam rumah, memang aku melangkah dengan hentakan kaki yang cukup kasar karena nama Lucas memasuki telingaku lagi.

"Lucas!" Aku memanggilnya dari depan kamarnya. Butuh lima menit, ia pun membuka pintu.

"Apa?" Ia bertanya padaku.

"Ayo, keluar!" Ajakku. Aku berusaha agar tidak menunjukan rasa kesalku melalui ekspresi.

Lucas tak berfikir panjang dan segera mengikutiku. Aku dan Lucas melangkah dengan cepat menuju garasi. Lucas tak bertanya sama sekali padaku kemana kami akan pergi. Ia segera menaiki dan menyalakan sepeda motornya. Lucas menghampiriku dengan motornya. Ia juga tak bertanya padaku kemana kita akan pergi. Aku juga terlalu malas untuk berbicara padanya.

Rumahku tak jauh dari mall yang kami tuju sehingga kami tiba dengan cepat. Aku juga masih heran dengan bunda yang memaksa agar aku ditemani oleh Lucas. Mulai aku menduduki motornya hingga aku turun dari motornya, aku dan Lucas tak saling bicara. Aku tahu Lucas akan mengeluarkan kata 'perjodohan' jika kami berbincang, pada akhirnya aku akan semakin kesal padanya.

"Pulang aja!" Pintaku dan ia tak menghiraukan kalimatku.

"Lucas, pulang!!!" Kali ini aku membentaknya. Ia hanya menoleh sesaat.

Aku pun segera meninggalkan Lucas yang masih sibuk dengan motornya. Namun, percuma! Ia berhasil mengejar langkahku. Aku tak habis fikir jika ia memiliki wajah seperti tembok. Ia masih mengikutiku meski aku memintanya pergi dan meninggalkannya.

Tak lama Lucas menggenggam lengan bawahku dengan erat, bahkan terasa sakit. Ia melangkah dengan cepat. Aku tak dapat melawa  tarikannya. Aku sudah memukul tangannya dan mengeluh, ia tetap menarikku. Ada apa dengan pria ini?

Aku tak habis fikir Lucas mengajakku ke bioskop. Tanganku masih digenggam Lucas dengan erat sehingga aku tak dapat pergi meninggalkannya. Ini pemaksaan! 

"Apa sih? Lepas!"

"Habis nonton." Balasnya.

Aku tak peduli dengan kalimatnya dan tetap menarik tanganku. Sudah hampir delapan kali aku berusaha kabur, tetapi percuma. Aku akui ia adalah pria yang kuat dan sangat menyebalkan. Aku masih ingin pergi meninggalkan Lucas dan berusaha melepas genggaman Lucas dari lengan bawahku. Namun, aku mengurungkan niat itu karena beberapa orang mulai memperhatikan tingkah kami, tepatnya tingkahku. Aku pun menyerah.

Untuk pertama kalinya aku mengantri untuk membeli tiket bioskop. Aku terbiasa menikmati film bioskop bersama Deva. Deva yang selalu memilih film yang ia inginkan dan membeli tiket secara online, alasannya karena ia tak ingin mengantri. 

"Mau nonton apa?" Pertanyaan dari Lucas yang tak pernah ditanyakan Lucas. Sejujurnya aku cukup kecewa karena aku lebih berharap Deva yang bertanya akan hal itu.

"Terserah." Balasku sedikit ketus.

"Lu yang pilih, Rin. Gue mau supaya lu yang lebih menikmati filmnya."

"Gue gak mau nonton, Lucas." Balasku. 

Bayangkan saja, aku sudah lelah mengantri bersama Lucas tetapi Lucas menuruti keinginanku saat kami sudah berada di barisan terdepan. Aku sudah menolak ke bioskop, mengapa ia baru mengajakku keluar setelah mengantri cukup panjang. 

Ponselku berdering, tanda pesan masuk di ponselku. Aku segera menggeser layar ponselku, rupanya pesan dari Deva. 

'Sudah makan?' Pesan dari Deva. Ia memang perhatian dengan caranya. Selalu saja menanyakan hal yang sama.

'Belum.' Balasku.

'Jangan lupa makan!' Deva tahu jika aku tak akan melewati makan karena aku sangat cinta makanan. Sejujurnya aneh saja jika ia mengingatkan aku untuk makan, seperti anak kecil saja yang perlu diingatkan makan.

"Lu lagi bosan?" Tanya Lucas.

"..." Aku tak ingin menjawab pertanyaannya.

"Bagaimana hari ini? Seharusnya lu senang karena ini adalah hari libur." Lucas masih bicara.

"..." Aku masih malas berbicara dengannya.

"Jangan marah! Kita pisah aja disini tapi kita harus pulang sama-sama, takut bunda lu marah. Gue tunggu lu di coffee itu, ya."

"..."

"Jangan lupa buat senang-senang! Gue gak akan ganggu hari minggu lu." Ia pun pergi meninggalkanku sendiri.

Aku masih berdiri di tempat yang sama sambil memandangi punggung Lucas yang terus menjauh. Lagi-lagi aku merasa bersalah karena terlalu jahat padanya. Aku cukup takjub dengannya. Ia lebih mementingkan keinginanku dan ia juga perhatian padaku. Ia perhatian dengan caranya sendiri, memang aku lebih menyukai cara perhatian yang dilakukan Lucas. Deva selalu ...

Apa? Mengapa aku membandingkan Deva dengan Lucas? Aku menampar diriku sendiri. Sadarlah! Aku harus lebih menyukai Deva!!!

....
Bersambung.

Three SecondsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang