21

310 9 0
                                        

Angin yang menggoyangkan pepohonan dan awan gelap menutupi bintang di langit. Suasana disini sangat dingin, seperti dinginnya angin malam.

"Perjodohan kita batal, Rin." Keputusan Lucas dibawah bulan purnama.

Ia tepat duduk di sampingku, kami menyaksikan taman di rumahku. Aku tak melihat bagaimana ekspresinya dan aku memang tak ingin menatap wajahnya.

Aku membisu. Rasanya diguyur oleh rasa kecewa yang menusuk hati. Ia yang berusaha mendapatkan hatiku, tetapi membuang hatiku setelah ia berhasil mendapatkannya.

"Bagus." Jawabku. Aku berusaha terlihat tegar.

Ia pun melangkah ke hadapanku. Kesal. Aku benar-benar tidak ingin menatap wajahnya.

"Besok gue ke Amerika." Apakah ini perpisahan?

Aku pun berusaha tersenyum dan berusaha menatap matanya. Aku ingin terlihat tegar meski sedang rapuh. Jika ada pria jahat yang menyakiti, rasanya tak layak diberikan wajah penuh kesedihan karena akan membuatku terlihat seperti manusia bodoh.

"Sampai jumpa. Besok hati-hati, semoga selamat sampai tujuan. Kabari ya kalau sudah sampai. Gue mau tidur." Aku pergi dengan kata-kata perpisahan yang sederhana.

Aku pun melangkah menjauhinya. Inikah rasanya jika hati ditusuk oleh pisau belati? Aku sangat kecewa hingga tak mampu melihat wajahnya lagi.

"Rin, boleh gue minta sesuatu?" Teriak Lucas.

"Apa?" Balasku. Aku menoleh tetapi tak menatap wajahnya.

"Kalau lu cinta sama gue, tolong pertahankan perasaan itu." Pintanya.

Menjijikan.

Aku tak mengerti apa yang Lucas inginkan. Ia membatalkan pertunangan sesuka hatinya, tetapi memaksa agar aku tetap mencintainya.

"Jatuh cinta hanya butuh 3 detik, gue gak bisa janji." Aku menjawab tanpa melihat wajahnya.

Three SecondsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang