"Gue fikir lu udah sampai di Amerika. Bukannya seharusnya lu pergi 2 hari yang lalu. Kenapa masih disini?" Aku membuka percakapan untuk meruntuhkan rasa canggung ini.
Dia hanya tersenyum. Aku mengerutkan keningku karena aku tak percaya jika ia hanya membalas ucapanku dengan senyuman. Aku juga ingin tahu mengapa ia menunda kepulangannya. Ia kembali membangun suasana yang penuh rasa canggung.
Aku tak tahu kemana tujuan yang akan kami tuju. Aku hanya mengikuti langkah Lucas tanpa bertanya. Aku belum tahu pasti, tetapi sepertinya kami hanya berkeliling Jakarta.
Ia berdiri di hadapanku dan aku duduk di hadapannya. Pukul 3 sore ini MRT terlihat cukup padat tetapi tidak sepadat KRL. Beberapa kali aku mencuri pandang untuk melihat wajahnya, dan sudah dua kali pandanganku tertangkap olehnya. Aku baru sadar selama hidupku, detik ini aku sadar jika aku sangat merindukannya.
'Anda telah sampai di stasiun akhir, stasiun Bundaran HI.'
"Disini?" Tanyaku. Tidak mungkin kami tidak keluar di stasiun akhir. Iya hanya mengangguk.
Kami mulai melangkah dan berjalan diantara keramaian. Lucas tak banyak bicara. Aku merindukan dirinya yang dulu.
"Kita mau kemana?" Tanyaku. Aku mulai lelah karena terus mengikuti langkahnya tanpa perbincangan diantara kami.
"Gue juga gak tahu." Aku menghentikan langkahku dan tak percaya dengan apa yang ia katakan. Berkeliling Jakarta? Iya benar, tetapi tanpa tujuan!
"Ih Lucas ngeselin banget sih! Emang lu gak capek? Kok gak jelas banget." Aku kesal dan ia tertawa lepas melihat ekspresiku.
Aku berusahan menahan senyum, aku lega saat melihatnya tertawa lepas di hadapanku.
"Lu sendiri kenapa gak nanya atau kasih saran dari awal kalau kita harus kemana haha."
"Lu yang ngajak, Lucas! Lu dong yang tentuin kita harus kemana."
Aku pun kembali melangkah dan Lucas menyusulku. Aku tak percaya jika ada manusia seperti Lucas.
"Rin, boleh pinjam hp lu?" Tanya Lucas. Aku memberikan ponselku begitu saja.
Ia mematikan ponselku dan ponselnya secara bersamaan.
"Lu gak tanya kenapa gue ajak lu keluar?" Ia bertanya padaku saat pandangan kami bertemu. Aku segera mengalihkan pandanganku, aku tak mengerti tatapan detik itu membuatku berdebar.
"Penerbangan gue ke Amerika itu besok pagi dan gue mau habiskan waktu sama lu tanpa diganggu. Di rumah mungkin kita cuma bisa ngobrol, makan, nonton tv atau lu dengarkan gue main gitar. Kalau Rian datang, gue harus pergi. Hari ini tujuan gue emang mau culik lu, makanya gue gak sempat berfikir harus kemana."
Saat ia mengatakan 'bermain gitar' membuatku merindukan masa-masa bersamanya. Saat ia mengatakan 'culik', jantungku lagi-lagi berdebar dan jiwaku terasa terbang.
"Oke, kita keliling Jakarta aja dan main di mall. Gue juga lapar, tau! Lain kali pakai rencana dong."
"Iya, gue juga lapar kok. Lu gak lihat berat badan gue turun 0.0001 gram?" Candanya. Akhirnya keakraban kami muncul lagi.
Kami menghabiskan waktu di Grand Indonesia, menikmati berbagai makanan dan menyaksikan 2 film layar lebar. Aku tahu jika menghabiskan waktu di mall sangatlah tidak cocok untuk perpisahan, namun waktu yang kami miliki tak banyak. Kami kembali menaiki MRT dan turun di Senayan, tujuan kami memang hanya makan.
Baru saja menyantap sate, kini aku sedang mengunyah bakso.
"Emang lu doang cewek yang makannya banyak tanpa ngerasa dosa." Kalimat ini tak asing di telingaku. Dahulu Lucas juga sering mengatakannya.
Detik demi detik berlalu, saat ini pukul 23:22 dan kami berada di JPO Gelora Bung Karno. Jembatan yang indah. Aku menyukai pemandangan Jakarta di malam hari karena dipenuhi cahaya malam hari.
"Gue mau jawab pertanyaan yang lu tanya di MRT, Rin." Ucapannya membuatku menoleh ke arahnya dengan cepat.
...
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Seconds
Ficção AdolescenteJika cinta bisa muncul setiap 3 detik, mungkinkah cinta itu akan bertahan?
