12

539 17 0
                                        

"Lucas, sekarang lu pergi!" Pintaku.

Aku meminta Lucas agar pergi dari bangku tamanku. Semenjak Lucas tinggal di rumah ini, tempat ini sering sekali ia jadikan tempatnya untuk memainkan gitarnya. Tempat yang selalu aku jadikan untuk menenangkan diri saat aku sedih atau tempat belajarku berubah menjadi tempat Lucas untuk bermesraan bersama gitarnya.

"Gak." Balasnya singkat.

Aku pun duduk disamping Lucas, kami tentu menjaga jarak. Aku melihat rerumputan di sekitar sendalku dan Lucas tetap memainkan gitarnya. Aku tak tahu lagu apa saja yang ia mainkan. Kami ditempat yang sama, tetapi tak satupun dari kami membuka suara.

Aku sangat ingin memaki dan menyalahkan Lucas karena dia adalah alasan Deva memutuskan hubunganku dengannya. Namun, sesaat aku berfikir jika tak perlu ada yang disalahkan karena kita semua bersalah. Aku tak tahu kesalahan Deva, tetapi rasanya ia salah karena ia yang memutuskan hubungan ini tanpa meminta pendapatku atau berfikir lebih panjang lagi. Aku juga salah karena mulai ragu dengan perasaanku sendiri.

"Mau dengar cerita gue?" Lucas mulai mengeluarkan suaranya.

"Apa?" Tanyaku. Sejujurnya aku ingin menjawab tidak.

"Mama gue mau nikah lagi." Ucapnya.

Apa?! Tante Lucy akan menikah lagi? Mataku segera melihat wajah Lucas. Aku baru sadar jika wajahnya lebih terlihat sendu. Aku juga baru sadar ia memainkan gitar dengan asal, meskipun permainan gitarnya tetap bagus. Aku ingin bertanya lebih dalam, tetapi aku merasa takut.

"Itu alasannya ke Amerika. Mungkin dia berfikir kalau gue gak tahu, tetapi gue tahu sejak lama." Lucas melanjutkan ceritanya sambil memainkan gitarnya. Mengapa terasa seperti lagu?

"Kapan?" Tanyaku secara berhati-hati.

"Dua hari lagi. Kak Deby sudah di Amerika, semua keluarga gue merahasiakan ini dari gue. Pada akhirnya hati gue lebih sakit kalau mereka gak jujur." 

"Sabar." Balasku. Nasihat abstrak yang selalu dikeluarkan seseorang yang tidak dapat mengeluarkan nasihat atau kalimat ala motivator.

"Aneh rasanya, gue punya dua pasang keluarga tetapi merasa gak punya keluarga." Lanjutnya.

Ia pun kembali memainkan gitarnya. Kedua mataku terus melihat Lucas yang sibuk memetik senar gitarnya. Aku tak tahu jika ia menyembunyikan kesedihannya seorang diri. Lucas tak memiliki sahabat dekat, mungkin hanya aku yang mendengarkan kesedihannya saat ini.

"Lu mau dengar cerita gue?" Hatiku merasa terbuka padanya.

"Apa?" Ia masih fokus terhadap gitarnya.

"Gue putus sama Deva." Balasku.

Lucas mengabaikan ceritaku. Ia masih sibuk dengan gitarnya. Mungkin ceritaku sangat tidak penting baginya. Bagaimanapun aku ingin ia merespon apa yang aku katakan.

"Gue sudah duga." Balas Lucas.

"Iya, lu alasan kita putus." Jawabku dengan ketus.

"Lu sedih?" Tanya Lucas.

"Iyalah!" Jawabku semakin ketus padanya.

"Mau jadi pacar gue?" Tanya Lucas.

"Ih!" 

"Gue siap walaupun jadi pelampiasan." Balas Lucas.

"Gak semudah itu. Bagi lu butuh tiga detik untuk jatuh cinta, bagi gue butuh tiga abad." 

...
Bersambung.

Three SecondsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang