Hari ini, tepat 6 tahun yang lalu. Ia berangkat ke Gangwon-do, tanpa penolakan. Banyak hal yang ia lewatkan, banyak cerita yang ia tinggalkan. Dalam 17 tahun hidupnya, hari itu Kang Yebin benar-benar menjadi Nona Kang yang mereka ingikan. Penurut.
Keluarga mereka memiliki aset jet pribadi untuk berpergian, tapi mereka memilih mobil pribadi Nona Kang lah yang mengantarkannya ke pegunungan Gangwon-do. Mobil ini disediakan oleh Tuan Kang saat Yebin memasuki usia SMP. Haha, dalam 5 tahun, terhitung hanya 9 kali Yebin menggunakan mobil itu.
Perjalanan panjang itu terasa sepi, ia sendirian.
Merasa dibuang.
Alih-alih menuju ke Sekolah Asrama, yang Yebin lihat di luar adalah bangunan aneh yang besar. Dalam benaknya, ya mungkin saja ini sekolah.Mobil mereka berhenti, tepat di depan gerbang tinggi. Suasana pegunungan dengan hutan-hutan disekelilingnya membuat ia takut.
Pukul 16.30, gila. Ia telah melalui perjalanan panjang. Tepat didepan bangunan besar itu mobilnya terparkir. Supirnya keluar dan membukakan pintu.
Dengan ragu, Yebin keluar dari mobil. Perempuan-perempuan dengan pakaian biarawati menyambutnya.Ya.
Yebin paham, ini sekolah apa. Kengerian pada hari itu menjadi momok yang tak dapat Yebin lupakan hingga hari ini.Dan itu awal dari 2 tahun hidupnya, ia mengulang kelas 11. Jadi ya.
2 tahun yang menyiksa baginya.
-
Hari ini"Kang Yebin! Bangun atau kusiram wajahmu." Suara teman satu apartemennya itu menjadi alarm alami dipagi hari.
Yebin mengehela nafas panjang dan meregangkan tubuhnya di kasur.
"Siyeon-ah, aku bermimpi buruk lagi." Suaranya terdengar parau, benar saja ia baru bangun dari tidurnya yang hanya 3 jam itu."Mimpi diantar ke sekolah asramamu? Kupikir itu isu yang penting, kau harus coba menemui terapismu." Siyeon menarik selimut Yebin dan memaksa Yebin duduk di kasurnya. Respon Yebin hanya gumaman.
"Sebelum kau menemui terapismu, ingat ini sudah jam 7. Pesawat pacarmu baru aja landing di Seoul. Kau janji untuk menjemputnya, lupa?" Siyeon selalu punya cara yang membuat Yebin sepenuhnya tersadar.
"Astaga!" Yebin berlarian kesana kemari, sambil mengambil sikat gigi dan mencari baju yang pas dilemari.
"Oke, aku berangkat kerja dulu. Goodluck, semoga nggak diomeli."
Siyeon mehilang di balik pintu kamar Yebin."Sialan!kenapa aku bisa lupa?!"
Batin Yebin yang mulutnya penuh dengan busa pasta gigi dan sedang berusaha menggunakan sweatpants Fendi berwana hitam dengan tangan kirinya.
Ia mencuci muka dan berlari ke depan lemarinya. Sebentar ia melihat suhu hari ini di hp "1° celcius?! Aisssh!" Tanpa melepas kaosnya, ia memakai fleece berwarna hitam dan dengan cepat memakai kedua kaos kakinya.Ia menyambar coat abu-abu dan clutchnya di sofa sebelum mengambil kunci mobil dan meninggalkan apartemennya. Jam 7.15,"Aduh!pasti dia udah dijalan."
Panik, Yebin mengendarai mobilnya dengan sangat ngebut. Oh. Ini musim dingin. 'Kang Yebin! Nggak usah ngebut! Bahaya. Dia pasti ngertiin kamu kok.' Segera, ia menginjak remnya.
Fiat 124 Spidernya melaju konstan dijalanan ibukota. Bukan ke bandara, ia menuju pusat perkantoran di Gangnam. Pagi ini bisa dibilang macet dimana-mana. Jam 7.56, ponselnya mulai berdering. Yebin punya moto, seberapa pentingnya telfon itu, kalau lagi nyetir jangan pernah diangkat.
'Waduh, itu kayaknya dia udah nyampe deh' batinnya.8.13, Yebin masuk ke besmen sebuah perkantoran. Setelah parkir, ia membuka bagasi mobilnya dan bergegas menghampiri seseorang yang berdiri dengan wajah sebal di depan pintu lift basemen.
"Lupa?" Perempuan itu langsung jalan setelah memberikan kopernya pada Yebin, separuh rambut panjang coklat keemasannya tertutup syal hitam.
"Aku baru pulang jam 3 pagi. Maafin." Yebin yang menarik koper mengikuti perempuan itu dari belakang.
"Bilang aja deh kalau lupa. Aku nggak masalah." Ucapnya tapi dengan wajah ngambek. Tipikal perempuan.
Yebin menyelesaikan tugasnya untuk memasukkan koper ke bagasi dan membukakan pintu untuk gadisnya itu.Ia mulai menyalakan mesin mobil. Lalu alunan lagu mulai terputar dari audio.
"Semalem nonton acaranya kan di TV?" Perempuan disampingnya bertanya dengan nada bersemangat. Dan terlalu berekspektasi."Eee. Eeemm.. aku semalem meeting sama client samp-" Yebin mencoba menjelaskan situasinya sambil menggenggam tangan kiri perempuan itu tapi tetap menyetir. Klise Kang Yebin! kau tidak mau mengangkat telfon kalau lagi nyetir, tapi malah mesra-mesraan sambil nyetir.
Lalu ponselnya berdering, karena jalanan cukup lengang ia menepikan mobilnya.
"Sorry, aku angkat dulu ya." Ucapannya dibalas dengan senyuman kecut.
Park Siyeon adalah si penelfon itu.
"Ada apa sih?" Tanya Yebin terganggu.
"Yakin, setelah aku kasih tau informasi ini. Kamu nggak jadi ngamuk ke aku." Jawab Siyeon sombong.
"Ya, buruan, kenapa sih?"
"Kang Yebinku sayang, semalam kau pulang jam 3 pagi. Aku yakin nggak sempat nonton TV kan. Grup pacarmu menang song of the year. Bye." Lalu sambungan telefon tertutup dan Yebin membatin, 'Assa! Yeoksi, Park Siyeon selalu bisa diandalkan!'"Kamu pasti juga nggak nonton ya semalem?" Yebin mencium aroma merajuk dari gadis di sampingnya.
"Hei, aku sempat nonton dikit kok. Selamat ya sayang, song of the year! Kamu udah kerja keras." Dasar. Kang Yebin.Lalu gadisnya tersenyum senang dan Yebin melanjutkan aktivitas menyetirnya. Keberuntungannya pagi ini semua karena Park Siyeon, jadi mungkin nanti malam dia bakal neraktir makan Park Siyeon.
"Aku laper, Yeb, makan yuuuk.." sialan. Dia. Pakai. Aegyo..
"Iya, kita beli makan dulu terus ke tempatku ya."
Dan disambut dengan ciuman di pipi kanan Yebin.

KAMU SEDANG MEMBACA
A | Rore • Minkyebin
FanfictionHarta, Tahta, RoA - Sequel dari Superior You Baca: https://my.w.tt/vcFoJ7G3BS