Seseorang sedang sibuk di dapur. Minkyung fokus dengan isi kulkas milik Yebin saat tangan itu mengagetkannya. Yebin dengan setelan pinknya bergelayut malas dipunggung Minkyung.
"Lagi nyari apa?" Suaranya parau karena baru bangun tidur. Ia menggelayut pada tubuh Minkyung yang terus kesana kemari memasak.
"Daun bawang. Ada?" Minkyung melepaskan pelukan erat Yebin dipinggangnya karena merasa terganggu.
"Nggak ada, aku belum belanja." Setelah menjawab pertanyaan Minkyung, Yebin kembali menempelkan dirinya pada perempuan yang lebih tinggi itu. Ia berdecak merasakan tingkah manja Yebin pagi ini. Sebentar, Minkyung menghentikan kegiatannya. Ia berbalik dan menatap Yebin yang langsung menghambur dipelulakannya. Kecupan hangat mendarat di ujung kepala Yebin.
"Udah baikan? Tolong jangan buat aku khawatir lagi ya." Minkyung memeluknya erat. Ia lega Yebin baik-baik saja. Rasa ingin melindungi gadis mungil ini begitu tinggi hingga apapun resiko yang ia ambil semalam sudah tidak terpikirkan. Minkyung begitu menyayangi Yebin dengan cara yang tidak biasa.
Yebin mengangguk di dalam pelukan itu. Ia bersandar nyaman pada dada Minkyung. Dekapannya menenangkan, seperti yang selalu ia ingat. Berada di sana membuat Yebin aman, seperti tidak ada rasa takut lagi.
"Makasih ya, makasih udah mau jagain aku. " Ia mendongak menatap paras cantik Minkyung yang dipenuhi rasa khawatir dan posesif itu. Tidak ada yang mereka butuhkan selain ini, bibirnya menyentuh lembut bibir Yebin. Ia menarik wajah Yebin dengan kedua tangan di pipinya. Yebin bisa merasakan rasa khawatir Minkyung yang meluap dalam ciuman di bibirnya. Mereka masih berdiri disana, larut dalam ungkapan perasaan itu. Lalu, terdengar suara pin dimasukkan dari arah pintu.
Yebin terkesijap mencoba menyudahi ciuman mereka karena hanya ada dua kemungkinan. Pertama, itu Siyeon, ia tak mau Siyeon melihatnya bersama Minkyung karena ia belum cerita apapun tentang hubungannya yang rumit ini. Kedua, orang itu ialah Jang Gyuri. Kemungkinan paling buruk. Ia mulai panik, namun Minkyung mendekapnya erat.
Pintu terbuka, Yebin mencoba mendorong tubuh tinggi Minkyung. Pintu kembali menutup, aliran darahnya semakin cepat.
Kang Yebin, sebentar lagi kau akan menjadi milikku.
Ya, Minkyung lebih kuat darinya. Hanya ada satu cara lain yang terpikirkan oleh Yebin.
Ah, maafkan aku Minkyung!
Minkyung hampir menjerit. Ia segera mengusap bibirnya. Ya, ia menggigit bibit Minkyung hingga Yebin bisa merasakan sedikit darah dari bibir gadis itu.
"Bukan gini caranya!" Protes Yebin. Lalu Yebin dengan cepat mendorong tubuh Minkyung dan berlari ke depan.
Kemungkinan kedua, orang itu adalah Jang Gyuri. Yebin menghela nafas lega. Apa ia harus berterimakasih pada bungkusan belanjaan yang terlihat merepotkan Gyuri itu?
Ia melihat sedikit highlight pirang di rambut Gyuri. Perempuan itu hanya mengenakan celana jins dan kaos v-neck putih. Ia baru pulang dari syuting videoklip, wajahnya terlihat lelah.
"Unnie.." ia memanggil Gyuri yang sedang menggantungkan jaketnya dan tak menyadari kehadiran Yebin.
Mata Gyuri yang teduh itu memandang Yebin dengan penuh rasa lega.
Ia baik-baik saja.
Menjatuhkan bungkus belanjaanya, Gyuri memeluk Yebin. Tubuh tinggi Gyuri mendekap gadis ber track-top merah muda itu. Yebin bisa merasakan Gyuri tak hanti-henti mencium ujung kepalanya.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu saat Minkyung menelfon." Gyuri masih mendekap tubuh kecil Yebin.
Di pelukannya, Yebin telah menduga sesuatu.

KAMU SEDANG MEMBACA
A | Rore • Minkyebin
أدب الهواةHarta, Tahta, RoA - Sequel dari Superior You Baca: https://my.w.tt/vcFoJ7G3BS