Bagian 16

93 17 1
                                    

"Bangun..." Yebin yakin dia masih mimpi, ia meregangkan badan dan mengerjapkan mata.

"Ini dimana?" Gumamnya pada diri sendiri. Minkyung tertawa mendengar gumaman Yebin.

Ugh mimpiin Minkyung lagi aku nih

Ia masih meregangkan badan. Matanya terpejam lagi.

"Ayo bangun, Yeb.." Minkyung menepuk-nepuk badan Yebin.

Mimpinya semakin parah, terasa nyata

"Kang Yebin! Mau bangun nggak sih?!" Minkyung berteriak di telinga Yebin, membuat Yebin segera bangun. Ia terlihat kaget.

"Lah? Bukan mimpi?" Tanya Yebin celingukan yang membuat Minkyung tertawa. Ia memandangi sekeliling ruangan.

"Lah ini dimana?" Matanya masih membulat tak percaya. Minkyung bergabung bersama Yebin di atas kasur.

"Di rumah aku. Nggak inget?" Jawab Minkyung sambil cekikikan. Yebin menggeleng kebingungan.

"Kok bisa sih? Bentar-bentar.. gimana ceritanya?" Yebin menggaruk-garuk kepalanya sambil senyum-senyum pada Minkyung yang tertawa terbahak-bahak.

"Kamu semalem ke sini sendiri. Ribut minta ketemu aku, yaudah deh." Minkyung mengacak-acak rambut Yebin. Yebin hanya cengengesan.

"Makan dulu sana, aku ada kerjaan jadi harus cepet-cepet pergi."

Dengan manisnya, Minkyung merangkul Yebin dan jalan bersama menuju meja makan. Yebin tidak henti-hentinya terkejut karena rumah mewah Minkyung.

"Bagus juga rumahmu." Ya, Minkyung langsung tertawa mendengarnya.

"Semalem kamu bilang gini 'Omo. Hanya ini yang bisa Jaehyun berikan padamu? Aku bisa membelikanmu Vila? Resort?' Hahahaha" ujar Minkyung sambil tertawa terpingkal-pingkal. Ia menuangkan sup pada mangkok di depan Yebin. Yebin tersipu malu.

"Ya.. memang terdengar seperti aku sih."

-
Sebuah mobil mercedez-benz hitam membelah jalanan aspal berliku di tengah hutan pinus. Mereka berhenti di depan pagar besar berwarna emas hingga mendapat izin masuk. Rumah itu sangat besar, udaranya sejuk karena dikelilingi hutan pinus yang lebat. Beberapa orang menyambut datangnya mobil itu.

"Tuan muda Kang Minhyuk, kehadiran anda sudah dinanti." Seseorang menjabat tangan Minhyuk, mengantarnya masuk ke dalam rumah mewah di pegunungan itu.

Kakinya menjejaki tangga-tangga kecil menuju pintu besar.
"Silahkan, Tuan Kang sudah menunggu anda di dalam."

Minhyuk mengetuk pintu kayu itu. Suara pria tua terdengar menyahut dari dalam ruang kerja itu.

"Kakek, aku sudah datang."  Minhyuk tersenyum melihat Kakeknya yang masih sehat. Beliau yang sudah berumur 83 tahun itu kini memilih memantau perkembangan NamDak dari rumah. Walaupun NamDak sekarang dipimpin oleh Kang Ki Hyun, anak satu-satunya, Ayah Minhyuk, pendapat kakeknya ini masih sangat diperhitungkan dalam mengambil keputusan perusahaan.

"Ooh Kang Minhyuk, kau datang tepat sebelum makan siang. Tinggal lah sebentar untuk makan setelah kita selesai bicara." Kakek Kang memberikan gestur pada Minhyuk untuk duduk di kursi yang berada di seberangnya.

"Baik Kek, aku pasti akan makan." Jawab Minhyuk sambil tertawa kecil.

"Jadi, kapan bursa pergantian direktur akan dimulai?" Pria kecil itu memang terlihat sudah tua, tapi semangat beliau untuk NamDak tidak pernah menua.

"Tiga bulan lagi, Kek." Minhyuk duduk dengan gelisah.

"Lalu, bagaimana kesiapan Kang Yebin? Kapan kau akan membawanya kembali ke NamDak? Bursa pergantian direktur tersisa tiga bulan lagi kau bilang." Pria tua itu punya cara mengintimidasi dengan gestur yang santai.

Minhyuk gelisah, Kakek Kang sudah mempercayainya untuk membawa Yebin kembali. Tapi tidak pernah berhasil.

"Terakhir kali, Yebin mau datang makan malam dirumah. Sebulan yang lalu." Kakeknya tertawa mendengar cerita Minhyuk.

"Lalu, bagaimana rencana Kang Jaehyun? Sudah berapa bulan ia menjalankan itu? Aku tidak mendengar kabar apapun." Sindir Kakeknya lagi.

Jika Jaehyun pikir ia menjalankan rencananya merebut start up company Yebin secara diam-diam. Ia salah besar. Dua orang di ruangan ini tahu betul apa yang sedang ia kerjakan, dan apa tujuannya.

Bursa pergantian direktur akan dilaksanakan tiga bulan lagi. Menarik perusahaan Yebin yang sedang tumbuh itu menjadi kunci Jaehyun memenangkan posisi itu kembali. Ya, dengan mendisposisi CEO. Lalu menjadikan perusahaan itu dibawah naungan NamDak. Itu akan menjadi prestasi tersendiri. Terlebih, itu akan menarik perhatian keluarganya. Terutama Ayah dan Kakeknya.

"Sudah 4 bulan ia mencoba menggeser posisi Yebin dengan wakil president GuangHe Holdings, Lucas Wong." Ujar Minhyuk disambut dengan gumaman Kakeknya.

"Bagus juga sikap Yebin. Aku tidak yakin Jaehyun becus melakukannya. Kau pastikan nama Yebin masuk dalam bursa pergantian direktur. Kalian semua ini cucuku."

-
Sesi rehat syuting webdramanya kali ini disambut dengan satu coffee truck yang dikirimkan oleh penggemar. Lalu managernya mendatangi Gyuri,

"Lihat kini ada dua." Ujar managernya sambil meneguk segelas kopi hangat seraya melihat sebuah food truck bergambar foto Gyuri semakin mendekat.

Penggemarnya mengirimkan satu truck lagi? Pikir Gyuri. Ia tersenyum melihat dukungan dari penggemarnya. Setelah food truck itu terparkir, ia dan staff segera mengambil makan siang. Ia sangat terharu, mereka menyediakan semua makanan mulai dari sushi, donkatsu, salad, cakes hingga jus buah segar.

"Untuk nona Jang Gyuri, ini lunch box spesial dari pengirim." Paman food truck itu memberikan satu tas makan siang yang dilengkapi dengan minuman herbal untuk menjaga kesehatannya. Ada juga permen gingseng merah didalam sana.

Ia menemukan sepucuk kertas didalamnya. Dari bentuknya, kertas itu ditulis tergesa-gesa. Disobek dari notes dengan bentuk yang sangat tidak simetris. Sangat tidak sesuai dengan mewahnya lunch box ini.

'HA! Pasti kamu nggak ngira kalau ini dari aku kan? Jangan dekat-dekat dengan aktor yang lain!'

Gyuri tertawa membacanya. Astaga, anak itu. Tak lama, ponselnya bergetar. Ia tersenyum.

"Hmm?" Hanya itu yang terdengar dari mulut Gyuri.

"Ya ampun, masih marah aja. Baikan lah ayo." Suara di ujung telfon itu sungguh menyebalkan, tapi sebenarnya membuat Gyuri kangen. Gyuri menjauh dari keramaian sambil tetap menjawab telfonnya.

"Kamu kira kelakuanmu bisa dimaafkan pakai makan siang?" Ia mendengus sebal tapi senyum tersungging di bibirnya.

"Pertama, mungkin nggak. Kedua, masa iya mau marahan terus? Nanti malem aku jemput ya setelah selesai syuting?" Kang Yebin Kang Yebin, ckckck.

"Masih berani kamu ngajakin aku jalan? Kamu tuh nyebelinnya nggak ketulungan ya, tolong deh." Protes Gyuri disambut tawa oleh Yebin.

"Jang Gyuri unnie kesayanganku. Tolong jangan marah lagi yaaa." Bisa aja ya si wijen bibimbap.

"Nggak usah lebay gitu deh, iya iya ah." Akhirnya Gyuri setuju.

"Yuhuuuuu, oke nanti malem tunggu aku ya. Muaaahhh!" Ya begitulah telfon pendek dari Yebin.

-

Malam itu, memang agak aneh. Pukul 8 malam, Yebin dengan baju rumahnya duduk di depan tv sambil menonton web drama Gyuri di tablet. Siyeon, disampingnya. Yang mana sangat aneh karena tumben sekali mereka berdua bisa duduk bersama jam 8 malam di depan TV. Siyeon sedang nonton variety show di TV.

"Ah apaansih malesin!" Tiba-tiba Yebin membanting tabletnya ke sofa dan itu membuat Siyeon kaget tapi sambil tertawa.

"Eh kenapa? Kenapa?" Siyeon tau apa penyebabnya.

"Sebel liat Gyul unnie sama siapa itu cowok. Ih amit-amit." Yebin mendengus sebal sambil modar-mandir.

Ya, kejadian malam itu melatar belakangi surprise food truck untuk Gyuri di hari setelahnya.

Cemburu dia.

A | Rore • MinkyebinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang