Pagi seperti ini pernah mereka lalui. Minkyung yang hanya mengenakan bra dan celana jeansnya berjalan menyusuri villa besar itu. Rasanya aneh, ditempat sebesar ini hanya ada dirinya dan Yebin. Mereka merasa aman, larut dalam dunia mereka sendiri. Tangan Minkyung menemukan tempat bernaungnya, pinggang Yebin yang hanya berbalut kemeja biru tua milik Minkyung.
Ia memeluk Yebin yang sedang sibuk dengan alat pemanggang roti."Kau tau, kau harusnya pakai celana." Paha Yebin menjadi tempat bernaung tangan nakal Minkyung yang selanjutnya.
Ia membubuhkan dua kecupan di leher Yebin."Dan kau harusnya pakai baju." Yebin berbalik, melingkarkan kedua tangannya di leher Minkyung. Bibirnya menyusuri pipi dan telinga Minkyung. Hingga ia mendengar tawa kecil Minkyung yang membuatnya juga tertawa.
"Hei.. aku masih kangen." Lalu, Yebin mendapatkan kecupan di keningnya.
Yebin terkikik dan mendorong pelan badan Minkyung. "Aku harus segera pulang. Cepat makan. Aku mau ganti baju dulu."
Sambil menghabiskan toastnya, kaki jenjang Minkyung mengikuti Yebin kembali ke kamar. Matanya tak berhenti mengamati figur Yebin. Lalu ia sadar, semuanya sudah terlalu lama. Ia sudah sangat merindukan momen-momen seperti ini.
Minkyung mengamati Yebin yang sedang berganti baju, ia menanggalkan kemeja biru tuanya dan menyodorkan kepada Minkyung.
Sebelum Yebin sempat mengenakan pakaiannya, Minkyung memeluk Yebin dan berbisik, "Aku masih kangen..." Ia bisa merasakan Minkyung membelai leher hingga pundaknya.
"Dan..aku tidak ingin kita menyesal lagi.." Lidahnya terasa hangat menyentuh leher dingin Yebin.Hembusan nafas Minkyung begitu terasa ditelinganya, membuat sekujur tubuh Yebin menggelinjang.
Dengan suara rendahnya,"Karena aku juga tidak tau, setelah keluar dari sini.. apa kita masih bisa seperti sekarang."
Yebin menarik wajah Minkyung, Oh sungguh ia telah kehabisan alasan. Minkyung tau kalau Yebin juga menginginkan ini. Dan mereka larut dalam panggutan satu sama lain.
Sehari diam-diam meninggalkan Seoul, ternyata Yebin membuat kekacauan. Siyeon dengan tergesa-gesa mengendarai mobilnya menuju Apgujeong setelah mendapat telfon dari sekretaris Yebin. Yebin adalah client pertama Siyeon saat pindah ke firma yang menaunginya sekarang. 2 tahun menjadi pengacaranya, belum ada masalah berarti.
Hingga sekarang. Entah Siyeon harus tertawa atau bersikap serius. Tapi intinya Kang Yebin sialan itu harus menunjukkan batang hidungnya pagi ini. Gila saja, ponselnya mati dan semalam ia tidak pulang ke rumah. Gyuri beberapa kali menelfon Siyeon karena tidak mendapat balasan dari Yebin.
Minkyung mencengkeram seprai dan matanya terpejam, seluruh tubuhnya mengejang. Ruangan itu berisikan desahan Minkyung dan Yebin melepas kerinduan mereka.
Dengan nafas yang tersengal-sengal, Minkyung meraih segelas air di meja kecil dekat ranjang.
"Sepertinya kita harus mandi." Ujar Yebin yang masih memejamkan mata diatas ranjang. Minkyung merangkak ke atas tubuh Yebin, ia mengecup keningnya. Yebin tersenyum.
"Kita harus mandi..." ia melingkarkan tangannya ke leher Minkyung.
"Berdua?" Goda Minkyung sambil mengerlingkan mata. Pukulan kecil mendarat di lengan Minkyung sebagai balasannya.
"No..."
Pintu lift terbuka saat sampai di lantai 7. Siyeon menghela nafas,
Definisi K E K A C A U A N. Ia bisa melihat beberapa karyawan panik.
Di depan lift sudah ada Seoye, sekretarisnya Yebin yang menunggu Siyeon dengan cemas."Ponsel Kang Yebin masih belum bisa dijangkau?" Tanya Siyeon sambil berjalan menuju pusat lokasi kekacauan itu. Seoye menjawab kalau tidak ada yang bisa menjangkau ponsel Yebin. Sialan, batin Siyeon. Ia sudah melihat polisi yang telah memandang ke arahnya.
Menyibakkan rambut dan tersenyum ramah, Siyeon mengulurkan salam kepada mereka.
"Selamat pagi, saya Park Siyeon, pengacara dari Kang Yebin."Minkyung dan Yebin sudah meninggalkan Ganghwa. Yebin tersenyum lebar sambil menikmati perjalanan. Ya, kali ini ia membiarkan Minkyung yang menyetir. Yebin memandanginya yang sedang fokus pada jalanan Incheon. Merasa aneh dengan situasi ini. Dua hari yang lalu, tidak ada sedikitpun terbesit bayangan kalau ia akan dipertemukan kembali dengan Minkyung. Tak ada sedikitpun. Tapi jika dirasa, pertemuan mereka berawal dari makan malam persetan itu. Jika saja Gyuri tidak memaksa Yeb-
Astaga, Gyuri!
Seharian mencumbu perempuan lain, baru sekarang terbesit Gyuri dipikirannya. Kang Yebin sialan. Segera Yebin mencari ponselnya yang sudah 2 hari ia matikan.
"Ya ampun!" Yebin terkejut.
Mobil mereka berheti mendadak, ternyata Minkyung juga terkejut dengan teriakan Yebin.
"Kenapa ngerem mendadak sih?!!" Protes Yebin pada Minkyung.
"Kaget aku tuh, kamu lagian kenapa?! Bikin kaget aja!"
Singkat cerita mereka bertengkar salah siapa yang membuat kaget duluan. Lalu, kedua pasang mata itu melihat notifikasi di ponsel Yebin yang bergerak seperti kesetanan. Banyak notifikasi yang masuk.
"Terjadi sesuatu?" Minkyung lanjut menyetir, ia mencoba lebih tenang. Yebin dengan wajah gusar menatap layar ponselnya. Ia mencoba memilah-milah notifikasi yang masuk, untuk yang pertama ia memilih Gyuri. Astaga, Gyuri benar-benar menghubunginya berkali-kali.
Lalu ada Siyeon dan Sekretarisnya, Seoye. Ia melihat pesan yang dikirim Siyeon, "Kau, dimanapun kau berada, pulang sekarang atau ku usir kau dari rumah." Ia mengernyitkan dahi, biasanya Siyeon tak peduli kalau Yebin tak pulang ke rumah.
Dan, satu pesan baru masuk. Sebuah pesan gugatan hukum.
Yebin terkejut, ingin tertawa, ingin marah. Semua ini seperti lelucon yang memancing emosinya.
"Keparat itu." Ujar Yebin.
"Ada apa?" Mereka hanya berjarak 15 menit dari apartemen Minkyung. Yebin hanya menggelengkan kepala.
Lalu ia memilih pesan dari Gyuri. Pesan Gyuri hanya 1 namun ia telah 25 kali mencoba menelfon Yebin.
"Hei, telfon aku kalau kamu udah di rumah.."
Yebin mencoba membalas pesan itu, tapi segera ia urungkan. Aku akan menghubunginya kalau semua sudah beres, batin Yebin. Mobilnya memasuki gedung apartemen Minkyung di Cheodam-dong. Mereka berhenti di sebuah parkiran bawah tanah.
Setelah mobil terparkir,
"Aku masuk duluan, jaga diri ya." Ujar Minkyung disambung dengan usapan kecil di pipi Yebin.Sebelum Minkyung sempat menarik panel pintu, Yebin menyentuh lengan Minkyung.
"Kim Minkyung, aku rasa, kita juga harus berhenti sampai di sini. Kalau semua ini masih berlanjut, aku yakin.. apapun itu... semuanya akan menjadi lebih runyam."
Minkyung tersenyum kecut.
Ia menatap Yebin.
Menarik dagunya.
Menciumnya dalam.
Lalu berbisik, "Ya, coba saja kalau begitu. Coba lupakan aku, Kang Yebin. Kalau kau bisa."
Lalu ia pergi dengan kacamata hitamnya.
Yebin terdiam.
Coba lupakan aku, Kang Yebin. Kalimat tantangan itu membuat denyut nadi Yebin semakin kencang.
Ya, Minkyung tau kalau ia tidak bisa.

KAMU SEDANG MEMBACA
A | Rore • Minkyebin
FanficHarta, Tahta, RoA - Sequel dari Superior You Baca: https://my.w.tt/vcFoJ7G3BS