Bagian 33

88 18 6
                                    

Keluarga Kang menanggapi kembalinya Yebin dengan sangat serius. Pengembalian aset kekayaannya dilakukan disebuah tempat tertutup bersama pengacara keluarga mereka. Aset dan harta milik Yebin yang selama ini ia tinggalkan bersama keluarganya, satu-persatu dikembalikan. Seiring pengacara keluarga Kang menyebutkan hak-hak yang bisa dimiliki kembali oleh Yebin, Siyeon menyenggol temannya. Ya tentu saja ia berada di sini, Yebin pasti juga membawa pengacaranya.

"Banyak sekali!" bisik Siyeon. Yebin tersenyum dan membalas bisikan itu,

"Itu kenapa aku meninggalkan ini semua. Membosankan bukan?" Ia tersenyum kecil sambil bercanda pada Siyeon.

Hingga akhirnya mereka mulai membicarakan saham Yebin di NamDak dan seluruh tatapan tertuju pada Yebin.

"Yebin, kau bisa menolaknya jika kau tidak mau terlibat di perusahaan." Ayahnya bersuara mengingat keinginan Yebin untuk tidak terlibat di bisnis keluarga.

"Yang benar saja, aku mau itu. Aku sudah pulang, artinya aku benar-benar menjadi Yebin. Kang Yebin."

Mereka tertawa lega, akhirnya setelah sekian lama. Anak perempuan itu kembali.

-
Ia tidak menolak apapun kecuali mengenai pendampingan hukum oleh firma hukum yang menauingi seluruh keluarganya. Mereka, keluarga Kang, didampingi oleh firma hukum besar, JeongUi. Senior-Partner di sana adalah ketua asosiasi pengacara Korea. Pengacara manapun akan berfikir dua kali bila melawan JeongUi di pengadilan, karena tingkat kemenangan mereka hampir 100%.

"Padahal aku akan menyerahkanmu pada JeongUi." ujar Siyeon yang berada pada satu mobil dengan Yebin.

"Mereka sudah mewakilkan banyak kepentingan hukum di keluargaku, dari bisnis hingga pengacara pribadi. Mereka sudah ikut campur terlalu banyak. Jadi, kau tetap jadi pengacara pribadiku." Yebin dengan santainya menimpali ucapan Siyeon sambil menyetir.

"Pikir lagi, kau adalah Kang Yebin, masalah apa yang bisa kau hadapi nanti? Aku yakin kau pasti membutuhkan pengacara-pengacara JeongUi." Balas Siyeon.

"Park Siyeon, kau takut? ini kesempatanmu, kau menjadi pengacara pribadi anggota keluarga NamDak. Kau harus memikirkan reputasimu di kantor. Mereka pasti akan menaikan jabatanmu, kau mau selamanya jadi associate? astaga bahkan kau sudah 3 tahun kerja disana dan masih harus berebutan kursi panas!" Jawaban Yebin membuat Siyeon tersenyum.

Mereka berpisah jalan ketika Siyeon harus kembali ke kantor karena dalam sejam ia harus ke pengadilan.

"Bagaimana ini? sepulang kerja nanti aku tidak akan melihat seonggok perempuan pemalas yang menonton tv." Siyeon mengolok teman baiknya itu, ia masih bertengger di kaca mobil Yebin yang terbuka.

"Kau tidak rela ya aku pindah? Hahaha, jika kau tidak sibuk, main-main ke rumahku."

Sebuah Penthouse beratas nama Yebin di Itaewon sudah lebih dari 7 tahun tidak dihuni siapapun. Penthouse itu dibeli sebagai kado kelulusan sekolah dengan harapan nona Kang mereka akan pergi kuliah dan memulai hidup barunya yang bebas di Penthouse itu. Tapi Yebin saat itu bahkan tidak peduli apa ada hadiah untuknya.

Sejak mengutarakan keinginannya untuk kembali, Nyonya Kang sibuk mendesain ulang interior penthouse untuk anak perempuannya itu. Sibuk, semua orang sangat sibuk untuk Yebin. Sejenak, ia masih merasa tidak nyaman. Yebin terbiasa melakukan banyak hal sendiri dan kini orang-orang bekerja untuknya. Saat pulang, masih ada beberapa orang di sana. Jujur, Yebin tidak nyaman dengan staff-staff yang akan mengikuti seluruh kegiatannya, mengurusi keperluannya di rumah.

"Belum selesai?" ia berdiri membelakangi dinding kaca besar yang memperlihatkan bentangan sungai Han. Sambil memandang 3 orang pekerja yang sedang memasang lukisan Jackson Pollock - No 5, 1948 pada tembok kosong di hadapannya.

"Sedikit lagi, Nona Kang."

Ia masuk ke dalam kamar dan melemparkan tubuhnya ke atas kasur berwarna abu itu. Yebin menelfon ibunya karena tidak nyaman dengan kehadiran banyak pekerja didalam rumah. Mereka akhirnya setuju kalau tidak akan ada staff di rumah Yebin, ia terbiasa melakukan semuanya sendiri. Kang Yebin, sangat merepotkan dan banyak maunya ataukah ia telah menemukan sisi 'Nona Kang' nya kembali?

Ia mendengar beberapa pekerja yang berada di luar tadi seperti sedang berberes-beres seolah tau kalau Nona Kang ingin waktu sendirinya. Beranjak dari sana, Yebin merasakan kekosongan yang familiar. Rumah ini cukup besar untuk dirinya. Sambil memandang lukisan besar di ruang santainya, Yebin mulai gelisah.

Minkyung unnie dimana ya..

Walaupun ia terlihat santai dan menerima perginya Minkyung. Sebenarnya Yebin tidak pernah tenang. Ia mencoba menghubungi Minkyung lagi walaupun ia tau nomor telfonnya sudah tidak aktif. Kekosongan itu juga terjadi didalam dirinya, tinggal sendirian seperti ini tidak baik untuk dirinya sendiri. Tapi bagaimana lagi? pikirannya sudah sangat kacau dan tekadnya sudah bulat. Ia ingin pulang, ia ingin kembali menjadi Kang Yebin yang sesungguhnya dan membalaskan semua dendam.

Hari belum terlalu malam untuk tidur. Selesai mandi, dengan bahu kiri yang mengintip karena kaus tipisnya kebesaran dan rambut yang setengah basah, Yebin bersantai menonton tv ditemani sepiring salad. Pemandangan dari kaca blok besar dibelakang tv terkadang lebih menarik untuk Yebin. Ia tertawa karena adegan lucu di tv lalu meminum sparkling waternya.

Bel berbunyi.

Oh? Aku sudah punya tamu?

Ia berlarian mengembalikan piring kosong ke wastafel lalu setelah mendengar bel kedua, ia segera menuju ke pintu. Yebin tertawa kecil dan tersipu saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu dari layar cctv pintu.

"Gimana bisa sampai sini?"

Tidak terduga, Yebin sekalipun tidak menduga kedatangannya. Sandal jepit santai, celana katun, kaos hitam dan cardigan santai. Rambut panjangnya berwarna cokelat terurai, dan senyum itu. Ia membawa wine dan beberapa bingkisan untuk Yebin.

Mereka tak terlihat canggung,
"Aku sebenarnya ingin berkunjung ke tempat lamamu, lalu aku bertemu Siyeon dan ia bilang kalau kau sudah pindah."

Yebin memeluk ringan tamu tak terduga itu. Dengan senyum khasnya, ia memberikan pelukan hangat pada Yebin. 

"Dalam rangka apa?" Yebin menerima buah tangan yang dibawa Gyuri. 

"Mungkin ini akan sedikit aneh, tapi percaya atau tidak, aku mengunjungimu karena khawatir." gaya bicaranya yang santai dan teduh membuah Yebin tenang, kekosongan di dalam dirinya seolah menghilang begitu saja.

"mmmmmmm, telfon waktu itu ya. Makasih ya." Yebin memandang Gyuri dengan tatapan tersentuh dan ditambah dengan suara pujian manis itu. Jika mereka masih bersama, ini saatnya Yebin untuk menjatuhkan diri ke pelukan erat Gyuri. Memberikan ciuman dalam, tapi sekarang apa hubungan mereka? bukan apa-apa.

"Jadi ini siapa sebenarnya Kang Yebin." canda Gyuri saat mereka memasuki ruang santai penthouse itu. Gyuri tanpa canggung duduk santai di sofa panjang itu. Yebin kembali dengan dua gelas kosong dan sebotol wine yang dibawakan Gyuri. Ia menuangkan wine untuk Gyuri dan dirinya.

"Kau benar tidak apa-apa? sungguh?" Mereka pernah sangat dekat, Yebin masih canggung dengan betapa anehnya momen ini. Tapi Gyuri terlihat santai, ia sepertinya memang sangat mengkhawatirkan Yebin.

Sambil bersandar ke sofa, tubuhnya menghadap ke Gyuri. Ia mengistirahatkan kepalanya pada bahu Gyuri.

"Nggak. aku nggak baik-baik aja." lalu ia menatap Gyuri sebentar.

"Mau nemenin aku malem ini?" Yebin mengutarakan pertanyaan setelah meneguk habis winenya.

Gyuri mengangguk kecil dan merangkul tubuh Yebin.
"Mmmh. Kau bisa cerita apa saja." Rengkuhan tubuh Gyuri masih membuatnya berdebar. Ini yang saat ini ia butuhkan, rasa nyaman. Sebenarnya ia takut dan tidak siap tinggal sendirian.

A | Rore • MinkyebinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang