Semuanya seperti bayangan, Gyuri berlari menggenggam tangannya. Mereka melewati pintu utama tanpa mengenakan coat. Musim dingin segera menyelimuti tubuh mereka. Gyuri benar-benar takut, semua mengagetkan baginya.
Aku tidak mengenal Yebin.
Tapi genggamannya tidak sedikitpun mengendur. Mereka berdiri di samping mobil, Gyuri mengambil kunci mobil dari suit jacket Yebin. Perempuan dengan suit berwarna dark plume itu hanya berdiri dengan tatapan nanar.
Lalu Gyuri mendorong badannya ke dalam mobil.
"Biar aku aja ya yang nyetir?.." masih dengan nada yang lembut, ia masuk kedalam mobil. Menarik safety belt untuk Yebin. Gadis itu melakukan semuanya.
"T-tanganmu.." dengan perasaan yang campur aduk, Gyuri membalut luka di tangan Yebin dengan saputangan berbordir 'Krys' di salah satu sudutnya.
"Y-yebin-ah, kita akan ke k-klinik untuk mengobati tanganmu. " bicaranya terbata. Ia terlalu kaget pada semua hal yang terjadi.
Seoul terlihat begitu indah dari Seongbuk-dong. Tak ada satupun dari mereka berdua yang menikmati keindahan itu. Gyuri menyetir dengan perasaan tak jelas. Ia marah karena hanya dirinya yang tak tau pangkal permasalahan yang terjadi. Ia juga merasa sedih karena melihat Yebin seperti itu. Menurut Gyuri, Jaehyun salah. Tapi ia yakin, ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar ucapan Jaehyun.
Dan.
Disaat Yebin membuat pipi hingga leher Minkyung berlumuran darah. Ingatan itu terus terulang di benak Gyuri.
"Kau. Tau apa soal rasa sakit?"
Ia mencoba untuk fokus menyetir. Sedangkan Yebin hanya duduk terdiam disampingnya, ekspresinya tidak melukiskan apapun. Kadang, kesedihan yang paling hebat bukanlah saat seseorang menangis. Tapi disaat ia hanya termenung, dengan tatapan kosong, karena tak setetes air matapun tersisa.
Dalam hati, Yebin hanya ingin segera sampai entah di mana pun tujuan mereka.
"Unnie." Ucapnya lirih.
"Ya?" Dengan lembut Gyuri membalas panggilan Yebin.
"Mianhae." Mendengarnya membuat Gyuri ingin menangis. Ia menggigit bibirnya dan terus mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak menangis.
Mereka sudah terlepas dari jalanan Seongbuk-dong yang berkelok. Menyusuri padatnya Seoul di malam hari. Gyuri berhenti disalah satu klinik yang berada di dekat area apartemen Yebin.
"Yebin-ah, aku rasa kau tau kalau aku tidak bisa mengantarmu ke dalam klinik." Yebin mengangguk mengetahui keadaan Gyuri. Gyuri tidak bisa dengan semudah itu mengantarkan 'temannya' yang terluka karena berkelahi. Bagaimana kalau ada yang mengenalinya? Besok pasti akan ada berita iseng, "Fromis 9 Jang Gyuri terlibat dalam perkelahian."
"Iya.., makasih ya.. kamu bawa mobilnya ke dorm aja. Lagian koper juga udah dibagasi." Setelah Yebin mengatakan itu mereka berpandangan cukup lama.
"Tolong telfonin Siyeon sekalian." Setelah Yebin menyelesaikan kalimatnya, Gyuri menarik tubuh Yebin ke dalam pelukan.
"Jangan khawatir, kamu pulang aja terus istirahat." Yebin memandang wajah Gyuri sambil membelai pipinya.
Tak lama, Yebin segera keluar dari mobil. Gyuri menghela nafas panjang dan segera mencari nomor ponsel Siyeon di kontaknya.
"Park Siyeon?" Gyuri memastikan kalau itu masih nomornya Siyeon.
"Ya? Siapa?" Jelas, Siyeon tidak menyimpan nomornya. Karena ini pertama kali Gyuri menelfon Siyeon. Dulu ia meminta nomor Siyeon pada Yebin karena ia sedang murka, si Yebin susahnya minta ampun untuk dihubungi. Lalu, Yebin berjanji untuk lebih mudah dihubungi. Ya, jadi baru sekarang nomor ini berguna.

KAMU SEDANG MEMBACA
A | Rore • Minkyebin
FanficHarta, Tahta, RoA - Sequel dari Superior You Baca: https://my.w.tt/vcFoJ7G3BS