Bagian 15

96 18 3
                                    

Ia duduk di koridor tepat di depan pintu apartemen Minkyung. Tangannya tak henti memainkan karpet bludru koridor. Menunggu, beberapa menit ini yang ia lakukan hanya menunggu. Yebin memeluk lututnya sambil menanti Minkyung datang. Lalu, suara favoritnya terdengar.

"Kang Yebin." Tangan Minkyung menyentuh lengan Yebin. Ia tak mendengar langkah kaki Minkyung yang teredam oleh karpet bludru.

Ia tersenyum. Memorinya kembali saat terakhir kali ia menjemput Minkyung di Halte bus ketika ia masih menjadi trainee. Ada rasa bangga di hati Yebin, lihat perempuan ini.. waktu merubahnya menjadi semakin mempesona.

Yebin memeluk tangan Minkyung masih sambil duduk. Perempuan yang lebih tua itu berjongkok disampingnya.

"Ada apa?" Ucapnya berbisik, membelai pelan rambut Yebin.

Ketika Yebin memandangi wajahnya, mata Minkyung berkilat.

"Ini kenapa lagi? Berantem sama siapa lagi kamu....." Minkyung dengan hati-hati membelai pipi Yebin.

"Kita masuk dulu yuk, aku obatin dulu." Suaranya masih semenenangkan dulu, bagaimana, bagaimana caranya untuk berhenti. Berhenti memikirkan Kim Minkyung.

Yebin menggeleng sambil memeluk lengan Minkyung.

"Yebin..." ia masih menggelengkan kepalanya.

"Aku mau disini dulu." Menjadi kalimat pertama yang Yebin ucapkan. Lalu Minkyung mencium aroma alkohol dari nafasnya.

Dia mabuk

"Yebin sayang, kita masuk dulu yuk. Ya?" Matanya yang teduh menatap mata sayu Yebin. Ya, dan itu selalu berhasil.

-

Beberapa member sudah masuk ke dalam kamar, hanya tersisa Hayoung, Gyuri dan Saerom. Suasananya sungguh canggung. Saerom memukul pacarnya Gyuri? Apa alasannya?
Gyuri masih memejamkan mata bersandar pada sofa. Ia menghela nafas panjang. Sesi syutingnya sangat melelahkan, dan hal ini semakin membebani pikirannya.

"Jelaskan. Jelaskan padaku." Sambil masih memejamkan mata, Gyuri berkata. Terdengar Saerom juga menghela nafas panjang.

"Pertama, aku tau itu bukan urusanku. Tapi aku sangat marah saat melihat sialan itu-"

"Jaga omonganmu!" Saerom merasa ngeri, Gyuri yang tadinya bersandar lelah di sofa dengan cepat menudingnya wajah Saerom dengan telunjuknya. Suaranya meninggi, raut mukanya marah.

"Jangan sekali-kali kau berani berkata buruk tentangnya di depanku." Bisik Gyuri di depan wajah Saerom.

Ya, Gyuri sangat menyukai Yebin. Begitu menyukainya.
-

Yebin pernah sangat menyukai Gyuri. Tapi, tidak setelah Minkyung kembali mendobrak pertahanannya.

Minkyung membuat Yebin duduk di sofa. Gadis itu tertawa, membuat Minkyung bingung. Sambil memandangi apartemen mewah dua lantai itu, Yebin menyeringai.

"Omo. Hanya ini yang bisa Jaehyun berikan padamu? Aku bisa memberikanmu lebih dari ini. Villa? Resort?" Lalu tertawa.

Minkyung merasa ia memang mabuk. Tak menghiraukan kicauan ngawur Yebin, Minkyung mengikat rambutnya sambil berlalu ke mesin pendingin. Ia mengambil beberapa es batu dari cetakannya. Menuangkannya pada kain kompres.

Ia membantu Yebin melepaskan jaketnya. Menyibakkan rambutnya. Tubuh mereka begitu dekat. Yebin tak sanggup menahannya. Matanya menyusuri wajah Minkyung.

"Kim Minkyung, Kim Minkyung.. aku sangat menyukaimu. Bagaimana ini?" Ia memang terdengar mabuk. Tapi ada kilatan kesungguhan dari matanya. Yebin masih menggenggam tangan Minkyung.

"Iya aku tau, begitu juga denganku. Tapi sekarang, tolong biarkan aku mengobati ini. Ya?" Yebin merasakan hangat bibir Minkyung di keningnya. Sebentar, berkebalikan dengan apa yang ia rasakan barusan. Rasa dingin terasa di pipinya.

Lalu Minkyung tersenyum. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri, bagaimana ia masih mengingat cara untuk memeperlakukan Yebin. Es yang dingin itu telah mengurangi rasa nyeri dipipinya. Jujur, pukulan Saerom sangat kuat dan membuatnya hampir menangis. Namun demi harga dirinya, ia bersikap seolah pukulan itu bukan apapun.

"Kamu berantem sama siapa lagi?" Mereka duduk berhadapan, tangan kanan Minkyung memegangi kompres di pipi Yebin. Tangan kirinya masih menggenggam gadis didepannya itu.

"Lee Saerom, tadi kami berkelahi di club. Karena Gyuri."

Lagi-lagi, tak ada kehadiran Gyuri di sekeliling mereka. Tapi Minkyung masih bisa merasakan rasa cemburu yang teramat sangat padanya. Bagaimana gadis itu bisa membuat Yebin yang ia kenal sebagai gadis manja, orang yang manis.. melakukan hal gila demi dirinya.

Rasa cemburu itu memenuhi tubuhnya. Rasa posesif ini bisa membunuhnya.

-

"Aku marah melihatnya menari dengan perempuan lain. Disaat aku tau kalau kalian sedang bertengkar." Ujar Saerom.

Gyuri terlihat lebih santai sekarang. Ia mengehela nafas panjang dan memandang Saerom.

"Romsae, apapun yang kau lihat. Apapun yang kau tau. Tolong jangan campuri urusan kami. Aku berterimakasih karena kau sudah sangat peduli. Biar itu jadi urusan kami. Lihat apa yang terjadi sekarang, lihat dirimu.. kau bisa saja terlibat skandal." Sepertinya Gyuri sudah meredam emosinya. Lagian, apa yang dilakukan itu bukan hal buruk. Terkecuali untuk citra dirinya sendiri.

Ia tersentuh saat memikirkan kalau kaptenya mempertaruhkan itu semua. Hanya karena marah pada Yebin. Ya walaupun itu terdengar bodoh dan gegabah, ia tetap merasa berterimakasih padanya.

-

Yebin tertidur pulas, kepalanya bersandar dipangkuan Minkyung. Ia terus membelai rambut Yebin. Minkyung sangat menyukai waktunya bersama Yebin. Lalu sejenak terbesit dipikirannya, bagaimana ia melalui ini. Melalui Jaehyun. Ia masih sangat ingat terakhir kali Yebin dan Jaehyun berseteru.

Ia sangat menyukai perempuan ini. Ia tak pernah sekalipun berhenti menyukainya. Pada tahun-tahun kosong itu, ia masih berharap bisa bertemu Yebin. Kapanpun.
Jaehyun menjadi satu hal yang membuatnya yakin bahwa suatu saat ia akan bertemu Yebin kembali. Dan kini memang benar adanya, ia bertemu Yebin kembali karena Jaehyun. Namun, bagaimana cara melepaskan diri dari Jaehyun?

Lelaki itu mencinta seperti Yebin. Semua tentangnya mengingatkan Minkyung pada Yebin. Sampai bagaimana ia mencintai Minkyung, ia menyukai Minkyung seperti Yebin menyukainya.

Tivi plasma yang mati itu memantulkan bayangan dirinya yang membelai rambut Yebin. Ia menerawang jauh, memandangi pantulan dirinya.

Yebin tak sanggup meninggalkannya. Tak sanggup hidup tanpa dirinya. Jika seperti itu, begitu juga dengan Jaehyun. Ia sadar, hanya dirinya yang sanggup menyelesaikan semua ini.

6 tahun pencariannya, ia berhasil menemukan Yebin kembali. Dan ia tak akan menyianyiakan kesempatan ini. Ia memacari Jaehyun dengan harapan untuk bertemu Yebin kembali, dan semua itu sudah terwujud.

Lalu bagaimana caranya untuk keluar dari Jaehyun?

Ya, ia tidak mau siapapun terluka. Sedangkan ia sedang dalam medan perang, siapapun bisa mati disana.

-
3 tahun hubungan manisnya dengan Yebin, akhirnya menyusuri jurang yang dalam dan terjal. Gyuri dalam keadaan tak tau apa yang harus ia lakukan. Yebin cukup banyak berubah akhir-akhir ini. Atau, memang selama ini ia tidak mengenal Yebin?

A | Rore • MinkyebinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang