"There are times when someone comes to apologize and give help."
.
.
Tidak ada yang lebih baik daripada ini, menatap pria tampan yang sedang asik menikmati makanannya. Sudut bibirku terus terangkat, bahkan mataku bertahan untuk tidak berkedip. Seakan-akan ia akan menghilang begitu aku melakukannya.
"Kenapa kau terus terus menatapku?"
Aku menggeleng. Jungkook masih menatapku heran. "Makananmu nanti dingin," sahutnya.
"Tidak apa-apa, karena kau lebih hangat," Mataku membulat karena terkejut dengan ucapanku sendiri. Refleks, aku menunduk dan menyibukan diri dengan makananku. Mengaduk ramyeon dengan acak demi mengalihkan pandanganku.
Jungkook terkekeh. "Sejak kapan kau seperti itu?"
"I-itu tadiㅡ"
"Aku jadi merasa seperti gadis yang digoda oleh ahjussi." Jawabnya.
Dasar bibir menyebalkam. Aku merutuki bibirku sendiri yang selalu bicara secara spontan. Hancur sudah harga diriku sebagai gadis manis dan polos.
"Lupakan," mohonku padanya.
"Tidak akan!"
"Oppa!"
"Mwo?"
Aku mendengus. Jungkook memang sedikit menyebalkan saat ini, tapi juga menggemaskan. Jika saja ia tidak duduk berjauhan mungkin aku sudah mengacak-acak rambutnya kasar.
Ku abaikan Jungkook yang masih tertawa tak jelas dihadapanku. Aku menyibukkan diri, memasukan makananku pada mulutku. Sudut bibirku terangkat mengingat beberapa saat yang lalu saat kami duduk di dermaga, memandang matahari terbenam sembari memeluknya. Sungguh menenangkan.
"Ji Eun-ah," panggilnya.
"Hm?"
"Apa akhir-akhir ini ada yang mengganggumu?"
Aktivitasku terhenti seketika. Aku melihat Jungkook yang tengah menatapku serius. "T-tidak, kok."
Kedua alis Jungkook hampir menyatu. "Lalu kenapa kau gugup?"
"Tidak. Aku hanya terkejut tiba-tiba kau menanyakan hal itu," sangkalku.
Jungkook masih menatapku ragu. "Kau yakin?"
Aku mengangguk. "Memangnya kenapa?"
Pria itu meletakkan sumpitnya, kurasa makanannya sudah habis terlebih dahulu. "Jika terjadi sesuatu, katakan padaku." Ia kembali menatapku. "Aku tidak ingin kau mengatakannya pada orang lain, melainkan padaku."
Jungkook benar-benar serius kali ini, tatapannya berubah begitu mengatakannya. Apa selama ini ia tahu apa yang terjadi padaku? Tidak, Jungkook tidak boleh tahu. Aku tidak ingin ia terbayang-bayang oleh apa yang akan terjadi padaku, aku tidak ingin Jungkook melindungiku dan pada akhirnya ia harus mengambil langkah untuk menjauhiku karena hal ini.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Akan kukatakan padamu kalau aku dalam bahaya," jawabku meyakinkan.
Jungkook mengangguk mengerti. "Baiklah."
Aku kembali melanjutkan makanku. Setelah pulang dari pantai, jungkook mengajakku ke sebuah kedai yang menjual Ramyeon. Aku bersyukur karena selama ini Jungkook tidak pernah menanyakan perihal masa laluku, lagi pula apa itu penting untuknya? Tentu saja tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Magic Shop
Fanfiction[180614] - [200113] Kupikir, bertemu dengan sang idola itu sebuah harapan mustahil. Mengingat latar belakang keluargaku, dan bahkan cermin pun menjadi penghalangku. Tapi siapa sangka bahwa sebuah toko misterius yang kumasuki bisa membawaku tuk berte...
