"Let's make an agreement for this story.
We compete fairly."
.
.
Taehyung POV
Aku kembali masuk ke gedung Bighit setelah bertemu Ji Eun dan temannya beberapa menit yang lalu. Aku segera berjalan ke ruang yang bertulisan 'practice room' di pintunya.
Begitu pintu kubuka, kulihat Jimin yang setia menemani Jungkook yang tertidur di pahanya. Sudah setengah jam kami beristirahat, dan sekitar satu atau dua jam lagi kami akan kembali berlatih.
Aku berjalan menghampiri Jimin dan duduk disebelahnya sambil bersandar pada dinding kaca di belakang kami.
"Aku tidak tega melihat Jungkook tertidur sendirian." Ucap Jimin.
Aku menatap sang maknae yang masih tertidur, wajah lelahnya begitu ketara saat seperti ini. Aku menghela nafas. "Dia selalu menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan."
Jimin mengangguk. "Kau benar."
Lalu suara pintu terbuka terdengar, aku dan Jimin menoleh ke arah sumber suara. Kulihat Namjoon hyung yang berdiri diambang pintu.
"Jimin-ah. Setelah ini kau akan berlatih bersama back dancer." Ucap Namjoon.
Jimin mengangguk. "Ahh.. geurae." (Baiklah.)
Namjoon tersenyum. "Fighting!" Ucapnya sambil mengepalkan tangan, memberi semangat pada Jimin. Lalu setelah itu ia pergi.
"Latihan dance untuk apa?" Tanyaku pada Jimin. Karena selama ini aku tidak pernah tahu kalau pria di sampingku ini akan melakukan latihan dance pribadi.
Ia tersenyum. "Laguku, 'Serendipity'."
"Bukankah penampilan itu masih lama? Masih empat bulan lagi bukan?"
"Benar. Tapi mungkin lebih awal latihan lebih baik."
Aku mengangguk.
"Aku haus. Maukah kau menemani Jungkook disini?" Tanyanya.
Aku terkekeh. "Tentu saja."
Jimin ikut tertawa lalu ia membangunkan Jungkook yang tertidur di pahanya. Kulihat pria bermata bulat itu mulai mengerang lalu meregangkan tubuhnya.
Ia menatap Jimin yang berada di atas wajahnya. "Sudah mulai latihan lagi?" Tanyanya dengan mata yang masih sipit.
"Ani. Aku mau mengambil minum sebentar." (Tidak.)
"Geurae."
Jungkook segera bangkit dari paha Jimin dan ikut duduk bersandar pada dinding kaca. Setelah itu Jimin pergi meninggalkan kami berdua.
Aku hanya diam. Begitu juga dengan Jungkook. Sesekali aku melirik kearahnya yang sedang menatap lantai ruangan ini, mungkin ia masih menahan kantuk.
Aku menghela nafas. "Jungkook-ah."
"Ne?"
Aku sedikit menunduk. "Kau ingat, dulu kita pernah mendapat pertanyaan 'apa yang akan kita lakukan jika kita menyukai gadis yang sama?' "
Ia mengangguk.
Aku melanjutkan, "Dan kita semua menjawab bahwa kita tidak akan menyerah begitu saja, bukan?"
"Ya. Aku ingat." Jawab Jungkook.
Aku terdiam.
Jungkook menoleh. "Memang kenapa?"
Aku menatap Jungkook yang berada disamping kiriku.
Aku menghirup udara dan mengeluarkannya secara perlahan. Berharap agar kalimat yang ku ucapkan tidak melukai perasaannya. Tatapanku masih terfokus pada Jungkook.
KAMU SEDANG MEMBACA
Magic Shop
Fiksyen Peminat[180614] - [200113] Kupikir, bertemu dengan sang idola itu sebuah harapan mustahil. Mengingat latar belakang keluargaku, dan bahkan cermin pun menjadi penghalangku. Tapi siapa sangka bahwa sebuah toko misterius yang kumasuki bisa membawaku tuk berte...
