[180614] - [200113]
Kupikir, bertemu dengan sang idola itu sebuah harapan mustahil. Mengingat latar belakang keluargaku, dan bahkan cermin pun menjadi penghalangku.
Tapi siapa sangka bahwa sebuah toko misterius yang kumasuki bisa membawaku tuk berte...
"There is nothing better than you. You are the source of my happiness." . .
Hari sudah gelap, bulan dan bintang terlihat menghiasi langit malam. Kami benar-benar menghabiskan banyak waktu di Everland tadi.
Setelah puas mengerjaiku untuk naik roller coaster, Jungkook mengajakku memainkan banyak permainan. Kami juga memakan banyak jenis makanan, entah itu roti, es krim, atau bahkan gulali. Bahkan Jungkook sendiri tidak peduli dengan 'diet' yang selalu diucapkannya sembari mengunyah permen kapas.
Kini aku duduk di sampingnya yang tengah fokus menyetir. Aku tersenyum ketika melihat lampu pada malam hari yang menghiasi jalan. Namun aku tersingkap ketika Jungkook melewati jalan ke arah rumahku.
Mobil yang dikendarai Jungkook kini melintas di atas jembatan Banpo yang dipenuhi banyak remaja yang asik bermesraan.
"Kita pergi kemana?" tanyaku heran.
Jungkook melirik ke arahku sekilas. "Kita akan pergi ke Namsan Tower."
Aku menatap menara Namsan ketika melewati jembatan Banpo. Menara itu terlihat begitu tinggi dan dihiasi lampu yang begitu terang berwarna biru. Pertanda bahwa angin dalam keadaan sangat baik.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Warna lampu yang ditampilkan di Namsan Tower memang memiliki arti. Jika berwarna biru, itu artinya angin dalam keadaan sangat baik, hijau artinya lumayan baik, sedangkan merah artinya buruk, yang mengharuskan kita untuk memakai masker.
Menara itu membuatku takjub. Karena pada akhirnya aku dapat merasakan kencan seperti di drama-drama. Bukankah itu menyenangkan? Aku sangat bahagia saat ini.
Seiring berjalannya waktu, mobil yang dikendarai Jungkook mulai melaju di jalan yang sedikit menanjak. Kami mulai memasuki kaki bukit Namsan.
Lalu ia memarkirkan mobilnya tepat di depan gedung stasiun. Tempat dimana kita akan membeli tiket untuk menaiki cable car menuju ke atas bukit.
Jungkook keluar dari mobil dan kembali berjalan memutar untuk membukakanku pintu. "Gomawo," sahutku padanya.
Jungkook hanya mengacak-acak rambutku yang sedikit bergerak tertiup angin.
Kutatap menara yang menjulang tinggi bagaikan menembus langit. Apa setiap malam hari Namsan Tower tidak terlalu ramai? Kulihat hanya ada beberapa mobil saja yang terparkir disini.
"Rentangkan tangan kananmu."
Aku menoleh, kutemukan Jungkook yang kini memegang jaket denim yang entah dari mana. Aku menurut, kurentangkan tangan kananku lalu ia memasukannya pada lengan jaket tersebut, begitu pun dengan tangan kiriku.