Happy reading😙
Alvio menggenggam erat tangan Olivia sambil menatap wajah kesakitan Olivia. Mereka berada di Rumah Sakit, tepatnya di ruang bersalin. Perkiraan kelahiran anak mereka sangat meleset. Usia kandungan Olivia baru memasuki pertengahan 8 bulan.
"Sakit.." rintih Olivia sambil menatap Alvio yang terlihat khawatir padanya.
"Tahan sebentar lagi ya. Kamu harus kuat, biar si kembar dan kamu selamat."
Olivia hanya menganggukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang seperti menyerang seluruh tubuhnya. Bayangan kedua anaknya seakan menjadi alasannya untuk bertahan. Berulang kali dia merasa kesadarannya akan hilang, berulang kali juga bayangan kedua anaknya hadir di pikirannya.
Keringat dingin bercucuran dari pelipis Olivia, genggaman tangannya pada tangan Alvio semakin kuat. Seperti melampiaskan rasa sakitnya.
"Vio.. masih lama ya? Aku gak kuat lagi." Lirih Olivia yang kesadarannya akan hilang. Pandangannya memburam.
Alvio menatap ke arah pintu yang terbuka menampilkan seorang dokter dan beberapa suster di belakangnya.
"Mereka udah sampai. Kamu harus bertahan, demi anak kita." Ucap Alvio sambil mengecup singkat kening Olivia.
"Saya ingin disini menemani istri saya." Ucap Alvio sebelum dokter menyuruhnya keluar. Dokter itu hanya menganggukkan kepalanya pelan.
***
Olivia menarik nafasnya dalam dan mengembuskannya perlahan.
Setelah anak pertamanya lahir dia seperti kehilangan seluruh tenaganya.
"Tarik nafas dan hembuskan." Olivia mengikuti ucapan dokter.
"Sedikit lagi."
Olivia menghembuskan nafasnya setelah anak keduanya lahir.
Hening, tidak ada tangisan bayinya. Olivia menatap ke arah dokter yang sedang menangani anaknya. Perlahan tetesan air mata Olivia turun membasahi pipinya. Alvio mendekati dokter itu dan menatap anaknya yang terbaring di ranjang tanpa suara tangisan dan matanya tertutup rapat.
"Maaf, dia tidak bisa diselamatkan." Ucap dokter itu yang membuat Alvio meneteskan air matanya. Suara tangisan anak pertama mereka terdengar nyaring dari pertama dia dilahirkan.
Alvio mengelus pelan kepala anaknya.
"Maafkan papa sayang.."
Olivia menangis tanpa suara. Hatinya bagai ditusuk pisau saat mendengar ucapan dokter yang mengatakan anaknya telah meninggal dunia.
"Vio, bawa dia kesini." Ucap Olivia pelan sambil menghapus air matanya.
Alvio menurut dan membawa bayi keduanya pada Olivia. Alvio membaringkan bayinya di atas dada Olivia dengan posisi tengkurap. Olivia memeluknya sambil mengelus pelan kepalanya.
"Maafin mama sayang, karena mama gak bisa selamatin kamu. Seandainya bisa, mama lebih ingin kamu hidup. Meskipun harus tukar nyawa dengan mama. Maafin mama.." Olivia terisak sambil menggenggam erat tangan Alvio.
Alvio mengusap air matanya yang turun semakin deras dari matanya.
"Owekk..owek."
Sebuah keajaiban, bayi perempuan mereka menangis. Tangan mungilnya menggenggam baju yang di pakai Olivia.
Dokter langsung berjalan mendekati Olivia. Dia sempat meneteskan air mata karena keajaiban yang terjadi pada bayi perempuan yang tadi tidak bernafas. Saat akan mengambil bayi perempuan itu, dokter dibuat bingung dengan Olivia. Matanya terpejam dan tangannya terlepas dari bayinya.
"Via.." panggil Alvio saat menyadari genggaman tangan Olivia melemah.
"Suster, ambil bayinya dan bersihkan." Suster mengambil bayi perempuan dari atas tubuh Olivia.
Dokter langsung memeriksa keadaan Olivia yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.
"Via.. bangun sayang. Anak kita selamat, kamu gak mau liat anak kita?" Alvio mengguncang pelan tubuh Olivia sambil menangis.
"Via gak apa-apa kan dok? Dia cuman tidur kan?"
Dokter itu menggelengkan kepalanya sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf, istri anda meninggal dunia karena pendarahan yang tiba-tiba terjadi."
Dunia Alvio runtuh seketika. Seperti mimpi di malam hari. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Bersamaan dengan itu air mata nya kembali turun, menetes tepat di atas pipi pucat Olivia. Alvio langsung memeluk Olivia dan mengguncang tubuhnya.
"Bangun Via!"
"Kamu pasti tidur kan? Kamu pasti cuman pura-pura kan? Bangun dan bilang ke aku kalau kamu baik-baik aja!"
"Via, bangun! Kamu gak akan ninggalin aku kan? Bangun Via!"
Alvio terduduk di lantai, bahunya bergetar karena menangis.
Sulit baginya untuk menerima kepergian Olivia, wanita yang sangat dicintainya. Bahkan seluruh hidupnya adalah Olivia dan hanya Olivia. Alvio berdiri kembali dan memandang wajah Olivia. Diusapnya pelan bekas air mata yang ada di pipi Olivia.
"Aku sayang kamu Via. Kamu gak mau bangun dan peluk aku?"
"Kita belum kasih nama anak kita. Anak kita kembar laki-laki dan perempuan. Kamu gak mau ngasih mereka nama?"
Hening...
Alvio kembali memeluk Olivia. Menumpahkan semua rasa sedihnya di pundak Olivia. Pundak terakhir dan pelukan terakhir yang dirasakannya. Entah dia harus bahagia atau sedih sekarang. Bahagia karena anaknya lahir dengan selamat, atau sedih karena Olivia yang pergi meninggalkannya.
"Aku sayang kamu, Via.."
***
Assalamualaikum readers😊
Voment ya😉
KAMU SEDANG MEMBACA
OLIVIA[Completed]
Novela Juvenil|Tahap Revisi| Mohon maaf jika masih ada kesalahan dalam penulisan. Cerita ini baru mulai di revisi. Start {2/10/18} Finish {17/4/19} "Lo suami gue atau es di kulkas? Kenapa sih dingin banget?"-Olivia "Gue gak akan dingin kalau lo ingat semua tentan...
![OLIVIA[Completed]](https://img.wattpad.com/cover/160448393-64-k89454.jpg)