Pertemuan Pertama

4.1K 285 10
                                        

"Karena dari tatapan semuanya bermulai, permusuhan, percintaan, dan perdamaian."
-Stylly Rybell, Warm Rain

Di pagi yang cerah di saat orang-orang masih sibuk di dalam dunia mimpi mereka, seorang gadis yang baru saja diterima di Universitas pilihannya itu duduk di atas sofa kamarnya dengan gitar di tangannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di pagi yang cerah di saat orang-orang masih sibuk di dalam dunia mimpi mereka, seorang gadis yang baru saja diterima di Universitas pilihannya itu duduk di atas sofa kamarnya dengan gitar di tangannya. Menikmati ketenangan yang ada di rumahnya dengan mengerjakan hobinya.

(Taylor Swift - Jump Then Fall)

I like the way you sound in the morning,
We're on the phone and without a warning
I realize your laugh is the best sound I have ever heard

I like the way I can't keep my focus,
I watch you talk you didn't notice
I hear the words but all I can think is we should be together

Gadis itu menarik napasnya untuk menyanyikan bagian rapp yang sangat ia sukai.

Every time you smile, I smile
And every time you shine, I'll shine for you

Whoa oh I'm feeling you baby
Don't be afraid to jump then fall, jump then fall into me

Baby, I'm never gonna leave you,
Say that you wanna be with me too
Cuz I'ma stay through it all so jump then fall

Brak!

Sontak gadis itu terkejut tidak dapat melanjutkan nyanyiannya di mana Juan- kakak laki-lakinya sangat berantakan dengan rambut tidak tertata, terlihat sekali pria itu baru bangun dari tidurnya.

"Pagi-pagi sudah ribut, sana mandi!" kesal kakaknya.

"Mengganggu saja!" kesal gadis itu.

"Kamu yang mengganggu tidurku!"

Gadis itu memutar kedua bola matanya dan langsung mengarah pada kamar mandi karena jam menunjukan pukul 7 pagi, ia harus pergi melanjutkan rutinitasnya. Usai mengerjakan kegiatan permulaan, ia memasukan berbagai buku ke dalam tasnya dan tentunya novel dari penulis favoritnya, Jocelyn Zura. Gadis itu turun ke lantai dasar, di mana hanya ada pembantu rumah tangga yang menyiapkan sarapannya. Ia memang sudah terbiasa, tapi ia cukup sedih karena kedua orang tuanya minim pulang ke rumah. Dirinya duduk sendiri, menyantap pelan makanan yang tersaji lezat di hadapannya.

Kampus terbesar di kota itu terlihat menyesakkan, puluhan insan itu terlihat begitu ramai. Gadis itu turun dari mobil, sopirnya segera berpamitan untuk kembali ke rumah. Tatapannya tertuju pada perpustakaan di mana ia selalu menghabiskan waktunya sebelum mata kuliahnya dimulai.

"Lidya!"

Gadis itu membalikan tubuhnya refleks karena terpanggil oleh penyebut yang tak lain adalah sahabat terdekatnya, Nadine. Nadine gadis yang tergolong biasa-biasa saja dan setidaknya ia mengetahui informasi seputar kampus yang bahkan Lidya belum mengetahuinya sama sekali, Nadine memang tipe penggosip kelas atas.

"Kamu mau ke perpustakaan lagi?" tanya Nadine tanpa menghentikan pergerakan kakinya yang semakin melambat.

Sebagai respon Lidya mengangguk karena memang benar adanya jika ia ingin pergi ke tempat paling membosankan menurut sahabatnya itu dan Lidya tahu betul, Nadine akan mengeluh bersamanya di dalam sana dengan alasan bosan. Bahkan Lidya dapat menebak setelah ini Nadine akan menghasutnya untuk tidak ke sana.

"Kamu enggak pernah dengar kalau Aaron sering ke perpustakaan?" Nadine memulai membeberkan informasi hasil gosipannya dengan nada misterius.

Lidya memutar kedua bola matanya. "Lalu? Aku enggak punya masalah sama dia."

Nadine mengerucutkan bibirnya. "Dia terkenal dengan sebutan players-nya aku takut kamu masuk ke dalam jebakan si jahat itu ditambah lagi dia itu tampannya luar biasa."

"Jadi intinya kamu mau ikut enggak?" tidak memedulikan ocehan sahabatnya itu, Lidya mengubah topik.

"Ish, Dengar dulu! Dia itu suka buat masalah nanti kalau kamu diganggu sama dia gimana?"

"Ganggu balik," jawab Lidya asal langsung meninggalkan temannya itu.

Tanpa mendengar dumelan Nadine, Lidya melengos yang jaraknya sudah sisa 20 meter dengan kota para buku itu. Senyumnya mengembang saat mengetahui seisi perpustakaan terlihat sepi, ia mempercepat langkahnya, perasaan sabar sudah menipis.

Namun, saat gadis itu hampir menyentuh halaman perpustakaan seorang pria tampan berwajah kebarat-baratan melewatinya untuk pergi ke perpustakaan lebih dahulu. Lidya terpukau, kharisma dan pesonanya menyeruak untuk mengubah atmosfer serta suasana yang ada, jantung Lidya berdetak lebih cepat, benar-benar memikat.

"Ih, gila keren banget!"

"Tampannya memang luar biasa! Ke perpustakaan lagi!"

"Aaron aku cinta padamu!"

Lidya mengernyit, pekikan gerombolan gadis yang ada di sampingnya mengarah pada sosok yang mengalihkan dunianya dalam hitungan detik tadi.

Jadi itu Aaron?

Lidya menggelengkan kepalanya untuk segera tersadar dari lamunannya, bisa-bisa ia kehilangan waktu membacanya hanya karena satu scene pria tampan. Gadis itu segera menapakan kakinya di bangunan putih itu. Tatapannya tidak bisa mengikuti kemauan otaknya, menjelajahi untuk mendapatkan pemandangan indah di pagi hari.

Deg!

Jantung Lidya berdetak semakin cepat, napasnya sulit ia kontrol, hawa yang terpancar dari pria itu menunjukan kejahatan, pendosa, dan penuh misteri. Dalam satu detik semua anggota tubuh Lidya tidak berkerja atas kemauannya melainkan termanipulasi akan kesempurnaan fisik seorang pria yang bahkan memiliki identitas yang buruk di seluruh kampus.

Hidung mancung yang terpahat sempurna, bibir tipis berwarna peach sangat sexy untuk sedikit saja terbuka, rahang tegas ditopang oleh lengan yang cukup kekar di usianya, dan tatapan mata yang cokelat terang layaknya karamel itu terlihat bercahaya.

"Kamu mengganggu pintu masuk!" tegur penjaga perpustakaan yang membuat Lidya terlonjak kaget.

Lidya kembali ke dunia nyata, ia mengangguk kaku lalu segera mencari tempat duduk di mana ia dapat membaca novel kesukaannya. Seharusnya Lidya dapat menyelesaikan membaca novel yang tengah ia bawa hari ini tapi bagaimana bisa ia fokus membaca jika terdapat bulan purnama yang terang di sekitarnya? Gadis itu segera membuka novel di mana ia meletakkan book mark, terakhir kali ia baca. Berusaha tetap dengan pandangan novelnya meski sesekali ia selalu mencuri pandang.

Brak!

Lidya terkejut bukan main, sebuah buku nyaris mendarat tepat di wajahnya. Aaron melempar buku yang ia baca tepat di samping Lidya.

"Bukankah kamu tahu melirik orang lain itu tidak sopan?"

Seketika pipi Lidya memanas, ia malu setengah mati karena menjadi pusat perhatian ditambah lagi perkataan menyebalkan sosok itu membuatnya ingin menangis saja.

"Aaron!" tegur penjaga perpustakaan dengan mata melotot yang dari tadi terus memerhatikan sosok Aaron. "Buku untuk dibaca bukan untuk dilempar!"

Pria itu menatap sinis ke arah Lidya kemudian memasang earphone-nya, mengangkat tasnya dengan tangan kanan di punggung lalu meninggalkan mereka tanpa memedulikan orang-orang yang terus memerhatikan mereka.

"Kamu enggak apa-apa? Dia memang suka buat masalah jadi kamu hati-hati sama dia!" ucap penjaga perpustakaan itu ramah.

#To be Continued...

Warm Rain Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang