Chapter ini rada panjang, semoga gak bosan bacanya.
Happy reading ❤❤
Dia itu mawar berduri, cantik dan menyakitkan. Memesona juga menyenangkan, ingin kupegang, tapi luka-luka itu mengancam.
•••
Ares benar-benar menghilang, sudah tiga hari remaja itu tak masuk sekolah, dan berhasil membuat kekhawatiran dalam kepala Lala makin membuncah. Gadis itu merasa kosong, entah apa itu—tapi terdengar konyol saat Lala benar-benar ingin melihat Ares, padahal selama ini mati-matian menjauhi sosok itu.
Seseringnya gadis itu berdiri di ambang pintu kelas seraya melihat ke koridor yang mengarah pada kelas Ares, kadang ia berharap remaja itu akan lewat di depannya, tapi nihil. Sebenarnya Lala harus menyebutnya apa jika tak hadirnya sosok itu benar-benar menyiksa?
Siang ini setelah pulang sekolah Lala yang selalunya dijemput Faruk tengah duduk bersebelahan dengan kekasihnya di sebuah kafe yang berada di dalam mall. Faruk terlihat lahap dengan makanannya, sedangkan Lala uring-uringan.
Biasanya Lala akan senang berada di dekat Faruk, kali ini tampak gusar karena tak bisa fokus pada laki-laki yang sudah hampir sebulan jadi pacarnya. Pacar yang ia pikir akan menjauhkan Lala dari Ares, nyatanya gadis itu kontradiksi terhadap janjinya sendiri.
Faruk menatap Lala yang hanya mengaduk lemon tea di depannya dengan sedotan, tatapan gadis itu mengarah pada luar jendela yang menjurus keadaan di luar kafe, banyak orang berlalu lalang.
“Lala nggak suka makanannya?” tanya Faruk dengan suaranya yang lembut, tapi gadis itu tak menoleh hingga Faruk memutuskan mencubit pipinya—barulah Lala menoleh.
“Eh, apa? Kenapa?” tanya Lala kebingungan.
“Tadi gue tanya, lo nggak suka makan siangnya? Kenapa didiemin aja? Mau ganti?”
“Enggak usah, ini aja.”
“Tadi bilangnya laper, tapi pas di sini jadi nggak laper itu gimana ya?” Faruk menerawang. “Lo mikirin apa sih? Kelihatan banget dari tadi ngelamun, siapa yang ngusik di sana?”
“Mikirin teman gue,” aku Lala tanpa sebut nama.
“Kenapa teman lo? Sakit?”
“Nggak tahu, dia nggak masuk sekolah selama tiga hari. Nggak ada kabar.”
“Kenapa nggak coba ditelepon aja?”
“Nggak punya nomornya.”
Faruk tertawa kecil, tampak menggemaskan. “Lo gimana sih, La. Katanya teman, tapi nomor aja nggak punya. Apa jangan-jangan masih pakai surat?”
“Itu elo kali!” Lala meraih beberapa tisu di meja lantas menggumpalkannya dan melempar benda itu ke wajah Faruk yang masih tertawa. “Nggak lucu, ih!”
“Lucu banget malah. Lo tahu rumahnya dia? Biar gue antar ke sana, siapa tahu emang lagi sakit.”
Rumah? Ares? Faruk? Ini nggak mungkin, batin Lala.

KAMU SEDANG MEMBACA
Esperance (completed)
Action"Aku bukan dermaga, tak usah berlalu-lalang." #91 teenfiction 6 Mei 2019 #51 fiksi remaja 6 Mei 2019 Lala tahu siapa Ares, remaja yang pernah jadi teman masa kecilnya semasa Ares tinggal di Jakarta hingga setelah lulus SD Ares terpaksa pindah ke Ban...