Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 29 + : Thanks God

12.4K 446 40
                                        

Pillowtalk pt. 2

"Sheinna.." panggil Elias, karena Sheinna sudah hampir 10menit berada di dalam kamar mandi.

"Naa.." panggilnya lagi dan akhirnya Sheinna keluar dari dalam kamar mandi. Dengan wajah merah dan mata sembab.

Elias tau Sheinna menangis, ia tau bahwa Sheinna cukup sensitif dan merasa sedih mendengar kisah percintaannya.

"Hei, aku gak tau kalau kamu bakalan secengeng ini." Elias yang dalam posisi duduk di atas ranjang, membentangkan tangannya berharap Sheinna akan datang kepelukannya.

Namun hal itu tidak terjadi, Sheinna malah berdiri dihadapannya dengan wajah bengkak dan isakan tertahan. Menatapnya dengan tatapan kesal. Whats wrong?

"Apa kamu menyesal udah bikin Vio menderita?" tanya Sheinna yang membuat Elias terkejut.

"Ya, tapi aku juga sama menderitanya." jawab Elias.

"Kalau kamu dikasih kesempatan buat ngulang waktu, apa yang bakalan kamu lakuin?" tanya Sheinna.

"Kamu kenapa sih Na?" Elias menggerakan tubuhnya, mendekat ke arah Sheinna, namun Sheinna melangkah mundur menjauh.

"Jawab Elias!" bentak Sheinna.

Elias memutar matanya. "Kalau aku dikasih kesempatan itu,.." Elias terdiam, ia menatap mata Sheinna.

"Apa? Kamu bilang akhir-akhir ini lagi mikirin dan berandai-andai kalau--"

"Saat kesempatan itu ada di depan mata aku, aku mau berbalik terus datengin kamu dulu, terus minta saran dari kamu." Sela Elias, sembari duduk dengan nyaman, di tempatnya dan mencoba menahan tawanya.

"Menurut kamu, apa yang harus aku lakuin?" tanya Elias.

"Kenapa harus minta saran dari aku? itu kan kesempatan buat kamu!"

"Tapi, aku kan hari ini dan kedepannya bakalan hidup sama kamu. Aku harus bertanya sama kamu, dan tidak bertindak gegabah lagi seperti apa yang udah aku lakuin dulu." Elias tersenyum melihat Sheinna yang akhirnya berjalan mendekat padanya.

"Jadi, apa yang harus aku lakuin?" tanya Elias saat Sheinna sudah berdiri tepat dihadapannya.

"Jangan coba-coba ambil kesempatan itu, karena disana gak ada aku!"

"Itu yang mau aku denger." Elias tersenyum menatap Sheinna. Kemudian ia menarik Sheinna lebih mendekat padanya.

Sheinna duduk di atas paha Elias melingkarkan kedua kakinya dan menyandarkan kepalanya di bahu Elias.

Elisa mengecup leher Sheinna, memeluknya erat. Elias menyukai moment itu, rasanya ia ingin menghentikan waktu. Hanya ada Sheinna dan dirinya, Sheinna yang membuat jantungnya berdebar kencang, menguji emosinya namun ia juga yang membuatnya kembali tenang, membuatnya nyaman.

"Kita gak bisa memesan takdir Sheinna, tapi kita bisa membuat nasib terbaik. Apa yang sudah terjadi, cukup ngebuat aku dihantui rasa bersalah dan penyesalan. Tapi Tuhan begitu baik, lihat apa yang aku dapat hari ini? Aku gak akan sia-siain, aku bersukur Tuhan ngirim kamu." Ucap Elias, dengan perasaan sukurnya. Bebannya terasa hilang, saat kata itu terucap langsung dari mulutnya.

Sheinna mengangkat kepalanya, lalu menatap wajah Elias lekat-lekat, mencari kebohongan di matanya. Namun nihil.

"Kata-kata kamu tadi siang cukup buat aku mengerti, dan sadar. Sebenarnya kalimat harapan seperti, 'aku tidak mau menyakiti diri aku sendiri, mencoba berdamai dengan masa lalu, memaafkan diri sendiri dan orang yang menyakiti kita, terutama aku ingin bahagia', cukup sering aku denger dari Nick, Jeremy, Emma, bahkan Vio. Tapi gak pernah mengubah apapun."

Kiss Me More! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang