Bab 15 + : Peach & Vanila

14.2K 492 22
                                        

Sheinna berjalan masuk ke kamar Elias sambil membawa kotak obat. Dia merasa bersalah karena telah membuat pelipis Elias terluka.

"Pak, ini Sheinna. Boleh masuk?" Ucap Sheinna di balik pintu kamar Elias.

"Masuk!"

Sheinna masuk ke dalam kamar, dan mendapati Elias sedang bertelanjang dada. Demi apapun bulu kuduk Sheinna mendadak merinding. Badan Elias berotot, perutnya kotak-kotak, meski sepertinya tidak sekeras punya Jeremy. Tatto di belakang lengan kanan dan punggungnya membuat Elias terlihat sexy di mata Sheinna.

Sheinna mencoba tidak terlihat gugup di depan atasannya ini. Sheinna menatap wajah Elias yang masih terlihat kesal, lalu tanpa aba-aba Elias seperti akan melemparkan baju yang ia pegang ke arah Sheinna. Sontak Sheinna menjerit dan duduk berjongkok untuk menghindar. Namun Elias hanya menggodanya, ia kembali duduk di tempat tidur menertawakan Sheinna.

Tahu kalau dirinya hanya di bodohi, Sheinna langsung berdiri dengan ekspresi wajah cemberut.

"Jadi ceritanya mau balas dendam?"

Sheinna berjalan mendekat lalu berdiri di hadapan Elias sambil memperhatikan darah kering yang menempel di pelipis Elias.

"Tidak, jika saya berniat balas dendam yang saya lempar itu ponsel saya bukan baju."

"Saya minta maaf pak, lagian kenapa bapa ada di kamar saya? Saya kan reflek."

Sheinna mencoba berjalan lebih mendelat ke arah Elias dan Elias seolah paham duduk bergeser menyamankan posisinya.

"Reflek tangan kanan kamu bagus, padahal tangan kiri kamu pegang handuk tapi yang kamu lempar malah ponsel kamu. Untung gak sampai dahi saya gak sampai bocor."

Sheinna meringis melihat pelipis Elias yang terluka. Namanya ponsel, benda padat lumayan sama rasanya seperti di lempar batu. Keras! Ponsel Sheinna saja sampai retak, entah karena pas jatuh ke lantai atau pas mendarat di pelipis Elias.

"Makanya saya kesini mau obatin bapa sebagai permintaan maaf, bapa ada gejala pusing gak?"

Elias menggelengkan kepalanya, karena rasa pusingnya sudah hilang. Hanya sesaat setelah ponsel itu mendarat di pelipisnya.

Sheinna mengusapkan alkohol di pelipis Elias, membersihkan darahnya. Lalu baru lah ia tahu kalau pelipis Elias memar dan sedikit benjol. Ini pasti sakit, kalau saja ini terjadi padanya, mungkin dia akan meminta seseorang membawanya ke UGD.

Elias memperhatikan raut wajah panik Sheinna dari dekat. Ia menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tertawa. Elias menurunkan pandangannya ke bawah, dan dengan jelas ia melihat belahan dada Sheinna. Elias langsung kembali menatap wajah Sheinna, karena ia takut membayangkan hal-hal yang di inginkan.

Sheinna tampak lebih serius mengobati luka Elias, sedangkan kini Elias fokus menatap leher jenjang Sheinna. Lehernya begitu mulus, Elias ingin mendaratkan ciumannya disana, lalu mendengar erangan Sheinna saat Elias memberi kiss mark disana. Elias mengerjapkan matanya beberapa kali agar kembali sadar, oh fikiran kotornya!

"Peach, Vanilla."

Racau Elias yang membuat Sheinna berhenti mengolesi obat di luka Elias. Wajah Sheinna mendadak merona, ia tahu kalau Elias sedang menyebutkan harum khas dari dirinya.

"Saya suka wangi kamu." Ucap Elias parau, yang mendatangkan desiran di tubuh Sheinna.

Sheinna menjauhkan wajahnya, hingga mereka kini saling bertatapan. Elias menatap dalam ke mata Sheinna lalu beralih ke bibirnya dan tangan Elias perlahan mencoba merengkuh leher Sheinna.

"El, kita gak jadi pergi pake jet bokap, soal-- Oh?"

Jeremy tidak menyelesaikan perkataannya karena terkejut mendapati Elias dan Sheinna di dalam kamar. Sama hal nya dengan Elias dan Sheinna yang langsung kikuk.

Kiss Me More! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang