4 bulan kemudian..
Suasana duka cita menyelimuti kediaman orang tua Sheinna di Singapura. Setelah melewati prosedur pencakokan Jantung yang cukup intens, Elyas, Ayah Sheinna tidak bisa terselamatkan.
Sheinna berdiri menatap Ayahnya yang sudah terbujur kaku di dalam peti mati. Tidak ada tangisan dari Sheinna untuk kepergian Ayahnya. Menurut Sheinna, Ayahnya tidak pantas mendapatkannya.
Sheinna menatap ke arah Ibunya yang sedang menangis di pelukan Sheryl. Kakaknya yang biasanya bersikap dingin, kini tak kuasa menangisi kepergian Ayahnya.
Sean, mencoba tegar.. Ia menyambut setiap tamu yang datang melayat dengan senyum di wajahnya, seolah sang Ayah adalah orang tua yang layak di perlakukan begitu terhormat, namun kenyataannya tidak bagi Sheinna.
Sedangkan Sheila, mengurung diri di kamarnya.
Sheinna berjalan keluar rumah, menghampiri sahabatnya, Odite, Alexa, Laila dan Abdi yang datang untuk mensupportnya.
"Gue gak tau harus bersikap kaya gimana di depan Ibu." Ucap Sheinna, mengeluh kepada sahabatnya itu.
"Bersikap sesuai sama apa yang lo rasain." jawab Laila.
"Dewi barusan hubungin gue, dia gak bisa dateng. Bayinya belum bisa di bawa naik pesawat." Jelas Alexa. Sheinna mengangguk maklum.
"Mmm, Dean pengen banget dateng kesini, tapi gue larang." Mereka langsung menoleh ke arah Abdi.
Sheinna mengangguk.
"Sheinna, ini udah 4 bulan. Lo beneran gak mau ketemu dan ngobrol sama Dean?"
Sheinna tidak menjawab pertanyaan Abdi.
Odite tiba-tiba saja menegang di sebelah Sheinna, ia lalu menyikut Sheinna.
"Ada Elias Na." bisik Odite.
Perut Sheinna langsung menegang, menatap Elias dan Jayden berjalan menghampiri mereka.
Sudah 4bulan, dan ini pertemuan pertama mereka semenjak kejadian malam itu. Disini, disuasana menyedihkan seperti ini.
"Sheinnaa." Jayden langsung melangkah memeluk Sheinna. "Aku turut berduka cita." Ucap Jayden seraya melepas pelukannya.
"Iya, makasih Jay udah dateng." Sheinna tersenyum kepada Jayden.
"Sheila dimana?" tanya Jayden.
"Dia di kamarnya, dari tadi belum keluar."
"Yaudah, aku samperin dia ke kamar yah." Jayden pergi meninggalkan Sheinna.
Kini Elias berdiri berhadapan dengan Sheinna. Tanpa jambangnya membuat Elias terlihat lebih muda. Elias tidak membual tentang ucapannya dulu.
"Aku turut berduka cita Na." Elias dan Sheinna sama-sama kikuk. Bahkan para sahabatnyapun ikut-ikutan kikuk.
"Iya makasih."
"Aku boleh masuk?" tanya Elias.
"Boleh," Sheinna berjalan di depan Elias, menunjukan jalan ke tempat mendiang Ayahnya.
Elias berdiri di samping peti Ayah Sheinna, Sheinna berdiri jauh di dekat ibunya dan Sheryl.
"Itu siapa Na?" tanya ibunya.
"Elias." jawabnya tanpan menoleh ke arah ibunya.
"Sheinna, jangan usil!" bentak Ibunya.
"Usil apanya, dia memang Elias! Om nya Jayden" cicit Sheinna. Ibunya tidak mengetahui perihal hubungannya dengan Elias.
Dan ibunya hanya berOh saja.
"Dia ngapain?" tanya Sheryl saat menangkap gerakan di bibir Elias.
"Baca doa, buat ayah kamu." balas Ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kiss Me More!
Romance[Konten Dewasa] [Highest Rank #1 Adult on 21/5/19] [Highest Rank #1 Komedi on 14/7/19] [Highest Rank #1 Cinta on 24/10/19] [Highest Rank #2 Romantis on 26/10/19] Ps; kalau kalian suka baca cerita toxic relationship, cerita ini cocok buat kalian. Res...
