9 bulan kemudian..
"Sheinna, lo di panggil Pak Ruben ke ruangannya."
"Ya Tuhan, beneran bencana!" Sheinna mengeluh di mejanya.
"Bencana besar!" balas Mirza, rekan satu kantornya. "Selama lo di dalem, gue dengan senang hati bantuin beresin barang-barang lo disini."
"Sialan!" Sheinna mencebik, lalu ia pergi ke ruangan Ruben, atasannya.
Sheinna menarik nafas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam ruangannya.
"Siang Pak." Sheinna masuk dengan senyum lima jarinya.
"Kamu tau kenapa saya panggil kamu ke ruangan saya?"
"Saya tahu, dan saya bisa jelaskan.." Sheinna menelan ludahnya.
"Jelaskan."
"Saya, menulis artikel itu berdasarkan riset dan bukan mengada-ngada. Pertama, Perusahaan JR, tidak mendanai kampanye Pak Handoyo. Mereka memang sudah lama kenal, sebagai mitra kerja. Mereka pertama kali bertemu di acara ulang tahun perusahaan Gaudium, di Meksiko. Kedua, perusahaan JR tidak punya kepentingan apapun disini. Sejujurnya, keuntungan yang mereka dapat dari Indonesia tidak sebesar di negara lain, JR membangun perusahaan disini, murni karena Elias memiliki darah Indonesia. Dia hanya ingin memberi sedikit kontribusinya untuk mengurangi pengangguran disini, dan yang ketiga, Elias Julian Raheswara tidak berkencan dengan Raquel, putri kedua Pak Handoyo!"
Ruben mengedipkan matanya beberapa kali, setelah mencerna penjelasan dari Sheinna.
"Dari mana kamu dapat info dan foto-foto itu? Setau saya, JR itu sangaat susah di korek informasinya. Bahkan Elias sepertinya sangat membenci media, sampai melarang memasang fotonya saat melakukan wawancara ekslusif."
Sheinna merogoh ponselnya, lalu ia membuka galeri ponselnya dan menunjukannya kepada atasannya itu.
"Ini kamu?" tanyanya tak percaya.
"Iya Pak, model itu saya." Sheinna tersenyum canggung. "Saya kenal beberapa orang disana, jadi info yang saya tulis itu valid." Ruben menatap Sheinna tak percaya.
"Oke, data kamu valid. Tapi Sheinna masalahnya bukan itu, kamu tau kan, media kita ini bekerja untuk siapa? Kenapa kamu harus nulis artikel itu?" tanya Ruben frustasi.
"Tapi kan bapak sendiri yang Acc," bela Sheinna.
"Itu karena saya selalu suka dengan artikel-artikel yang kamu buat, saya gak tau kalau kali ini kamu buat artikel seperti itu. Jadi rumit kan sekarang, banyak opini baru bermunculan. Dan saya langsung kena panggil ke lantai 8."
"Maaf Pak, tapi kan berarti bukan 100% salah saya." bela Sheinna. Dan Ruben langsung melotot kepada Sheinna, kemudian Sheinna hanya tersenyum tanpa berdosa.
Sheinna keluar dari ruangan Ruben dengan perasaan lega..
"Gimana?" tanya Mirza.
"Selooow, situasi aman terkendali." Sheinna menaikan sebelah alisnya.
"Siang Mbak Sheinna, kiriman bulanannya sudah sampai." Juki, salah satu office boy di kantornya.
"Makasih Juki." Sheinna tersenyum mengambil 3 tangkai bunga mawar merah dari tangan Juki.
"Kali ini berapa tangkai?" tanya Mirza di balik bahu Sheinna.
"3 Mas." Juki menjawab mewakili Sheinna.
Sheinna tersenyum menatap bunga mawarnya.
"Asli, gue penasaran sama orang yang terus ngirim lo bunga tiap bulan. Seenggaknya kasih kartu ucapan gitu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kiss Me More!
Romance[Konten Dewasa] [Highest Rank #1 Adult on 21/5/19] [Highest Rank #1 Komedi on 14/7/19] [Highest Rank #1 Cinta on 24/10/19] [Highest Rank #2 Romantis on 26/10/19] Ps; kalau kalian suka baca cerita toxic relationship, cerita ini cocok buat kalian. Res...
