Dua hari kemudian.
"Mama," ucap Galang pelan seraya melangkahkan kaki menuju ibunya dengan senyuman manis.
Raut wajahnya semakin cerah dan senyuman melebar kala ia dengan sangat jelas melihat hal yang sudah lama ingin ia lihat.
Perasaan bahagia terasa meskipun ia belum menghampiri hal yang membuatnya bahagia itu.
Seorang wanita berperawakan tinggi semampai dengan pakaian sangat rapih yang biasa ia panggil mama itu terlihat ada di dalam rumah ini.
Ia terlihat sibuk berjalan kesana-kemari sembari menjinjing tas kecilnya, sesekali ia mengangkat telpon yang terus berdering di ponselnya dan sesekali juga ia membenarkan kedua anting dengan terus berjalan keluar masuk kamar.
Yah, itulah ibunya.
Ibu Rini Setiyowati seorang wanita karier dengan segudang kesibukan di setiap hari.Wanita itu jarang sekali pulang, ia hanya pulang satu hari dalam seminggu. Itupun hanya dalam waktu beberapa jam saja. Sesudah itu, ia akan menghilang lagi dalam waktu sangat lama. Bahkan sampai tiga bulan sekali.
"Rini, mau kemana lagi kamu?" tanya Pak Yahya yang tiba-tiba datang menghampiri Bu Rini mendahului Galang.
Galang berhenti melangkah karena melihat ekspresi yang kurang enak di tunjukan Pak Yahya pada ibunya.
Hingga ia kini hanya melihat mereka di balik dinding.
"Ya, mau kerjalah, Mas," jawab Bu Rini bernada datar dan hanya melihat suaminya sebentar.
"Ambilah cuti beberapa hari, Rin. Diamlah di rumah. Galang sangat membutuhkan perhatianmu, jika bisa berhentilah dari kerjaanmu sekarang," ucap Pak Yahya yang kini terus berdiri di tempatnya dan mengajak Bu Rini bicara.
"Apa? Enggak, Mas. Kerjaanku lebih penting dari segalanya. Lagipula, berhentilah Mas membicarakan tentang anak itu, aku tidak suka," ucap Bu Rini seraya duduk di sofa, karena ia sudah selesai bersiap diikuti pak Yahya yang juga duduk di sana.
Galang tertegun di tempatnya.
"Rin, mau sampai kapan kamu bersikap dingin sama dia? Dia itu anakmu. setidaknya kalau kamu pulang, temuilah dia sebentar, tanyai bagaimana kabarnya. Jangan terus sibuk dengan urusanmu sendiri," ujar Pak Yahya lagi membujuk.
"Hhhh, aku tidak peduli. Mas sendiri sudah tau apa jawabanku tentang anak itu, jangan terus bicarakan dia ketika aku datang, Mas." Ketus. Bu Rini jelas tak suka dengan topik pembicaraan mereka.
Galang mengeratkan tanganya di balik dinding. Perasaannya tak karuan, napas mulai naik turun dan matanya terasa berair.Setiap kali, kenapa harus seperti ini?
Ah, harusnya ia sudah terbiasa. Tapi tetap saja hal ini selalu menyakitkan baginya.
"Aku masih mempertahankan dia karena aku masih menghargai Mas di rumah ini, selebihnya terserah Mas mau bagaimana. Jangan libatkan aku jika itu menyangkut anak itu," ucap bu Rini lagi.
Galang menunduk.
Tak terasa air matanya jatuh begitu saja, mendengar perkataan ibunya barusan.
Apa sebegitu bencinya wanita itu padanya? Bahkan menyebutkan namanya saja ia tak bisa.
"Den," ucap seseorang dari arah samping Galang.
Mendengar ada yang memanggilnya, Galang buru-buru tersadar dan menghapus air matanya untuk menoleh ke arah orang itu.
"Eh, Bi Esti," ucapnya kemudian dengan senyuman tipis.
"Aden sedang apa? Ayo sarapan dulu, ini sudah siang nanti Aden terlambat," ucap Bi Esti dengan suara lembut.
Galang hanya mengangguk pelan, sekali lagi ia melihat ke arah ibu dan ayahnya, mereka berdua masih terdengar ribut membicarakan tentangnya.
"Bi," ucap Galang menahan langkah Bi Esti yang hendak meninggalkan nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG TAK DIINGINKAN
FanfictionEND❤ Tentang perjuangan dari seorang anak yang ingin mendapat pengakuan dari ibu kandungnya selama belasan tahun. Perjalanan mempertahankan rumah tangga dengan pertaruhan nyawa. Penuh siasat dan intrik.
