Keesokan harinya.
Setelah mendapat kabar bahawa Galang berada dalam masalah dan ia ditahan di kantor polisi. Pak Yahya dan Bi Esti langsung menyusul ke tempat dimana Galang ditahan.
Yang paling merasakan kesedihan ialah Bi Esti, ia samasekali tak mengira bahwa Galang akan terkena masalah sampai separah ini, apalagi sampai harus masuk penjara. Ia tak percaya, bahwa Galang melakukan percobaan pembunuhan kepada orang lain. Galang yang ia kenal tak seperti itu, ia adalah anak yang baik dan memiliki nilai keagamaan yang tertanam dalam dirinya.
Saat duduk di sebuah ruangan tempat mengunjungi tahanan, ia tak bisa duduk diam. Perasaan cemas terus menggelayuti hatinya. Sedangkan Pak Yahya juga tengah mengurus segala sesuatu demi bisa mengeluarkan Galang dari tempat ini.
"Asalamualaikum."
Terdengar suara seseorang yang mengucap salam dengan pelan hingga membuat Bi Esti menoleh.
"Wa'alaikum salam, Aden?" ucapnya dengan cepat seraya beranjak dari duduknya saat melihat kedatangan Galang.
Ia langsung menghampiri sebelum Galang sampai di tempatnya, air matanya pecah tak terbendung lagi melihat keadaan Galang di hadapannya.
"Astagfirullahal adzim, Aden kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Bi Esti kemudian bertubi-tubi setelah ia berada di hadapan Galang.
Wajah pemuda itu terlihat sangat pucat, ditambah lagi luka lebam yang menempel semakin menambah kecemasan hatinya.
"Bibi, aku baik-baik aja," jawab Galang singkat dengan suara pelan dan tersenyum manis pada Bi Esti.
"Aden belum jawab pertanyaan Bibi, kenapa Aden bisa sampai di sini? Apa benar Aden melakukan hal itu?" tanya Bi Esti lagi.
"Apa Bibi percaya sama aku?"
"Bibi percaya, Aden tak mungkin melakukannya. Aden adalah orang yang baik."
Galang tersenyum manis.
Bi Esti semakin menangis kala ia melihat ketenangan yang ditunjukan Galang saat ini. Kenapa ia malah terlihat begitu tenang? Padahal saat ini ia sedang terkena masalah.
Ia pun menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya, ia tak tau apa yang ada dipikiran Galang, tapi ia tahu, Galang pasti membutuhkan seseorang untuk memberinya sedikit ruang untuk bernapas dari masalahnya ini.
"Makasih, Bi. Karena Bibi udah percaya sama aku. Ini udah lebih dari cukup untuk membuatku bisa bertahan ditempat ini," ucap Galang.
"Tidak, Aden akan keluar dari sini secepatnya. Aden tak bersalah, Tuan pasti bisa membebaskan Aden dari sini." ucap Bi Esti seraya melepaskan pelukanya dan melihat wajah sendu Galang meskipun ia tersenyum padanya.
Mereka berdua pun berjalan menuju kursi yang sudah disediakan di sana. Bi Esti begitu heran saat melihat raut wajah Galang yang sedari tadi tak henti-hentinya tersenyum manis meskipun tipis.
"Lalu bagaimana, di mana Non Thea sekarang? Dia tak pulang kerumah, atau bahkan menghubungi Bibi. Apa Non Thea sudah baik-baik saja? Apa Non Thea sudah datang ke sini?" tanya Bi Esti lagi setelah mereka berdua duduk.
Galang terdiam didepannya.
Tatapannya terlihat kosong saat ia menanyakan tentang Thea.
"Dia baik-baik aja. Bibi jangan terlalu khawatir, mungkin saat ini dia sedang berada di rumah Aida."
Bi Esti sedikit mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan Galang. Entah kenapa, sepertinya ada yang Galang tutupi darinya saat ini. Apalagi ini juga terdengar aneh, saat ia mendepat kabar ini bukan dari Thea, melainkan dari orang lain. Padahal Thea lah orang yang seharusnya memberitahu kabar ini lebih dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG TAK DIINGINKAN
FanfictionEND❤ Tentang perjuangan dari seorang anak yang ingin mendapat pengakuan dari ibu kandungnya selama belasan tahun. Perjalanan mempertahankan rumah tangga dengan pertaruhan nyawa. Penuh siasat dan intrik.
