Beberapa bulan berikutnya.
Kata orang, kita akan merasa waktu berputar begitu cepat saat kenyamanan berada di puncak teratas dalam melewati hari-hari. Seolah melaju di sepanjang jalan tol dengan tak ada hambatan sedikit pun.
Begitu pun kehidupan Galang dan Thea. Pahit manisnya hidup mereka telah lewati. Perpisahan, tangis dan penantian sekarang berbuah sangat manis dan menyenangkan.
Galang merasa memiliki keluarga paling sempurna di dunia. Tiga orang wanita tangguh beserta dua ayah yang menjadi panutannya. Semenjak kasus itu selesai, Galang memutuskan kembali membawa Thea pulang ke rumah pribadi mereka.
Sesekali mereka menginap di rumah Bu Rini dan Bu Dewi secara bergantian. Supaya tak ada yang merasa tersisihkan. Galang juga tidak terlalu banyak menuntut atas haknya kepada Bu Rini, dia sadar. Kemampuannya belum terlalu mumpuni mengelola perusahaan. Namun, Galang juga tentunya belajar lebih giat untuk itu.
Sekarang saja, Galang harus ekstra menjaga Thea karena kehamilan istrinya sudah menginjak 9 bulan di samping pekerjaan yang menyita banyak waktu dan pikiran.
"Mas, lihat. Menurut kamu bagusan yang mana? Warna merah apa biru?" tanya Thea ketika memilih pakaian bayi.
Sebenarnya, semua perlengkapan bayi telah sempurna di kamar mereka, seperti tempat tidur bayi, ayunan, pakaian, lemari, dan lain sebagainya. Tapi, entah kenapa Thea selalu saja tergiur untuk belanja lebih. Apalagi untuk urusan pakaian bayi.
Dengan berbagai macam model yang unik dan cantik. Thea memilihkan banyak baju warna pink, begitu pun perlengkapan lain yang ada di rumah. Semuanya pink, hello kitty.
"Merah bagus," jawab Galang sekenanya.
"Ih, jelek tau. Bagusan yang biru. Warnanya lebih cerah." Bibir Thea mengerucut sedikit kecewa.
"Kalau kamu suka warna biru, kenapa harus tanya, The!"
"Hehehe. Kan cuma butuh pendapat."
Galang mencebik, dia kesal. Sudah dua jam mereka berkeliling mall dan memasuki setiap toko baju. Tapi, semua pakaian di sini malah membuat kepalanya pening dan mau muntah. Dia pusing sendiri jika Thea bertanya soal pilihan warna dan model.
"Hemh. Udah cukup deh kayaknya." Thea memberikan segunduk pakaian bayi pada Galang. Lelaki itu spontan menerima agar tak terjatuh ke lantai. "Cari makan, yuk. Laper, Mas."
Thea pun meraih pakaian terakhir yang ditanyakannya barusan. Dahi Galang mengernyit. "Katanya tadi suka warna biru. Kenapa ngambil warna pink?"
"Berubah pikiran." Thea menggandeng lengan Galang. Begitu erat pegangannya seolah mereka sedang melakukan kencan pertama. Galang juga tak banyak protes tentang sifat Thea yang berubah manja semasa kehamilannya. Dia sudah cukup terbiasa dengan permintaan Thea yang kadang aneh.
"Mas ...."
"Apalagi? Masih ada yang kurang? Belajaan udah seabreg gini. Gimana aku mau bawa?" tanya Galang saat Thea semakin bergelayut manja di bahunya. Gerak-gerik serta cengiran licik Thea begitu menyeramkan sekarang. Dia khawatir wanita itu akan meminta hal aneh lagi.
Belanjaan yang mereka bayar di kasir sudah hampir 10 paper bag. Bukan masalah uang, tapi belanja sungguh bukan hobi Galang. Dia heran sendiri, kenapa para wanita selalu antusias saat belanja? Apa betis mereka tidak jadi bengkak karena terlalu banyak berjalan? Apa mata mereka tidak pegal karena melihat ini dan itu?
"Abis makan, kita ke rumah Ibu, ya. Katanya buah pepaya di belakang rumahnya udah mateng."
Galang menelan saliva mendengar perkataan itu. Firasat buruk baginya. "Aku gak denger."
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG TAK DIINGINKAN
FanfictionEND❤ Tentang perjuangan dari seorang anak yang ingin mendapat pengakuan dari ibu kandungnya selama belasan tahun. Perjalanan mempertahankan rumah tangga dengan pertaruhan nyawa. Penuh siasat dan intrik.
