Fatimah humairah

4.6K 205 7
                                        

"bukan tentang kesempuarnaan fisik, tapi tentang cara kamu membentuk segumpal daging bernamakan hati menjadi sumber kebaikan dan penyempurna iman"










Hari itu dipagi yang cerah wanita itu terbangun dari tidurnya dengan keadaan yang lesu, hijab yang sedari semalam ia gunakan acak acakan diatas kepalanya, matanya beralih menatap jam beker diatas nakas, masih pukul lima tapi seperti biasa ada kegiatan berbentuk ibadah yang wajib ia kerjakan. Dengan segera ia bangkit, mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat subuh dikeheningan dan gelapnya ruangan.

Selesai sholat ia bergegas mandi kemudian mengenakan pakaian tertutupnya berwarna coklat dengan hijab yang berwarna senada, hari ini sama seperti biasanya ia membuat sarapannya sendiri, lalu akan duduk dimeja makan sendiri. Hidupnya memang selalu sendiri, kesepian dan hanya kesunyian disini.

Tak sedikit pun ia mengeluh, negara tempatnya tinggal sangatlah jauh dari indonesia ia hanya sendiri tak ada yang menemani. Kesendirian mengajarkan banyak hal kepadanya termasuk tentang manusia yang selalu saja membutuhkan orang lain.

Pukul enam khodij bergegas kekampusnya dengan tas dan juga beberapa buku yang ada digendongannya ia melangkahkan kaki nya menuju kampus yang berjarak agak jauh dari flat tempatnya tinggal.
Berjalan kaki seperti ini sudah sangat lumrah dilakukan, jalanan tidak pernah sepi dengan pejalan kaki dikota ini. Beberapa tetangga dekat flatnya menyapa khodij dengan senyuman juga tak lupa gurauan yang hangat. Khodij dikenal dengan wanita yang baik, pekerja keras dan ramah, membuat beberapa orang menyukainya karna sikap baiknya.

Dikampus ini khodij menanam harap bisa mendapat pengetahuan dan pemahaman tentang dunia usaha, mewujudkan cita citanya menjadi seorang pengusaha yang handal. Khodij mengucapkan salam saat memasuki area gedung kampus yang masih sangat sepi. Bahkan dikelasnya belum ada orang.

Tak ada waktu yang dilewatkan oleh khodij begitu saja, bahkan diwaktu kosongnya didalam ruang kelas yang sepi khodij mengeluarkan tasbih dari dalam tasnya, mulai bertasbih sebanyak mungkin, memuji allah yang maha suci, mengucap syukur atas kehidupan saat ini, dan meminta pengampunan atas dosa yang ia lakukan.

"Hei kho"

Khodij membuka matanya perlahan, sapaan pertama yang ia dengar dipagi ini membuat ia tersenyum, dia cellin, sahabat khodij dikampus ini.
"hai!" balas khodij.

"Sepertinya kau sangat suka dengan benda itu, setiap kudapati itu selalu berada digenggaman mu" ucap cellin berbasa basi sambil menatap tasbih putih ditangan khodij.

"Aku hanya memanfaatkan waktu kosongku, dan aku suka melakukan ini" balas khodij sambil tersenyum.

Khodij adalah penerima beasiswa di universitas ini, meski begitu disini tidak ada yang namanya pembullian karna khodij yang berasal dari jalur beasiswa. Hanya saja diawal khodij menjadi mahasiswi disini, mereka agak bingung dengan gaya berpakaian dan kebiasaan yang khodij tunjukkan. Tapi sikap ramah dan baik hati khodijah lah yang membuat mereka sangat nyaman dan menerima khodij tanpa membedakan sedikit pun.

Waktu terus berjalan, kelas khodij selesai dan hari ini dia akan segera pergi kesalah satu masjid di warsawa, hanya butuh beberapa menit dengan naik bus untuk sampai dimasjid itu. Sesampainya disana, adzan untuk sholat dzuhur sudah berkumandang, khodij mengambil air wudhu kemudian ikut sholat berjamah seperti yang biasa ia lakukan.

Satu dari dua masjid di warsawa menjadi pilihan khodij untuk mengajar anak anak halaqoh, sebuah villa yang dialih pungsikan menjadi rumah Allah yang meski tidak begitu besar ini sangat berguna bagi umat islam di warsawa.

Setelah sholat khodij akan tetap berada dimasjid membaca al-quran disana sambil menunggu anak-anak yang akan ia ajar hari ini. Itulah rutinitas khodij, setelah selesai dengan kuliah nya, ia akan bergegas kemasjid ini dan bertemu dengan anak anak didik nya disini.

KHODIJAH (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang