20 Desember yang terulang -2

1.5K 116 5
                                        

Sedari tadi Tina memperhatikan gelagat atasannya ini. Bos nya hanya melamun dan sesekali menghela napas entah bos nya terkena sihir apa pagi ini.
Tepat pukul 12 Tina bersorak kegirangan, itu tandanya istirahat makan siang sudah tiba.

"Bu! Saya mau kekantin, ibu mau ikut!"

".."

"bu!"

"Aa- apa? Saya? Tidak, saya rasa tidak!"
Tina menghela napas benar-benar bu bos nya sangat sibuk dengan pikirannya.

"Ibu kenapa sih dari tadi kok bengong mulu bu!"

"Saya gak papa. Saya cuma kepikiran sama ini" Khodij menunjukkan kertas yang diberikan oleh Aisyah saat sarapan tadi.

"Ini apa bu?"

"Ini? Aa ini bukan apa-apa, tapi saya mau tahu kenapa saya merasa gak asing sama tulisan tangan ini."

Tina menganga tidak percaya, jadi sedari tadi kenapa bu bos nya itu melamun alasannya hanya karna dia merasa tidak asing pada tulisan dikertas lusuh. Yang benar saja, Khodij tidak pernah seperti ini.
Tapi sebarnya Tina tidak tahu, jika bukan hanya tentang tulisan itu, tapi juga perasaan dihati Khodij yang terasa sangat aneh tapi seolah ini bukan pertama kali nya bagi Khodij.

"Tapi mungkin ini tulisannya orang yang ibu kenal!" tutur Tina

Khodij mendongak menatap Tina.
"Tapi siapa?" Gadis itu mengangkat bahu nya tidak tahu. "Mungkin jodoh ibu dimasa lalu kali!" Khodij memutar bola matanya malas.

"kayak nya kamu lapar banget deh Tin. Makanya ngawur" Tina tertawa sedang Khodij menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang asisten.

Khodij meraih ponsel nya yang tergeletak diatas meja kemudian dia mulai mengetikkan nomor itu pada ponselnya. Nomor nya tersambung tapi belum diangkat. Hingga akhirnya nomor yang ia hubungi tidak menjawab.

"Wahh perusahaan mu besar juga ya Dit."

"Alhamdulilkah. Ini semua kerja keras Aku sama papa."

Pria bule itu mengangguk paham. Sejak pagi tadi dia diajak berkeliling kantor rekan kerja nya sebelum memulai rapat siang ini.
"Van, udah masuk waktu dzuhur nih, sholat dulu yuk!"

"Boleh. Dimasjid mana?"

"Depan kantor ada masjid kok!"

Abi hanya mengangguk. Dia melangkah mengikuti Aditya dari belakang tapi tiba-tiba saja ponsel ditangannya berdering pertanda ada yang menghubunginya.
Nomor baru! Revan tengah menimang apakah menjawab nya atau tidak tetapi Aditya sudah berteriak memanggil nya mengatakan bahwa adzan sudah berkumandang.

Abi kembali menyimpan ponsel nya begitu saja tanpa menjawab panggilan itu, nanti saja dia kembali menghubungi setelah sholat.

Sementara itu Khodij dengan menenteng mukenah ditangannya dia berjalan menuju masjid didepan kantor untuk menunaikan panggilan sang ilahi. Setelah mengambil wudhu dia kemudian memasuki masjid dari pintu depan.

Beberapa menit menunggu hingga iqomah Khodij habiskan dengan berdzikir. Hingga saat iqomah dikumandangkan Khodij mematung ditempat nya tiba-tiba saja perasaannya bergemuruh tanpa tahu sebab nya. Tapi Khodij sadar bahwa dia mengenali suara ini.

"Waah Iqomah mu bagus juga ternyata, aku pikir itu akan terdengar asing karna pelafalan mu yang so inggris!" puji aditya pada suara Revan yang mengumandangkan iqomah tadi.

"Biasa saja. Aku berlatih banyak untuk itu."

Mereka terkekeh. Saat Abi teringat dengan nomor yang menghubungi nya dia kemudian meminta Aditya untuk kekantor lebih dulu dia akan segera menyusul untuk rapat nanti.

KHODIJAH (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang