"Boleh kau tetap tinggal, jangan pergi!"
"Jadi ini rumah mu?"
Khodijah mengangguk, "Terimah kasih sudah mengantarku pulang, kau hati-hatilah dijalan"
Gadis itu kemudian keluar dari mobil, berdiri disamping sambil melambaikan tangan saat mobil itu melaju meninggalkannya. Sejenak khodij terpaku pada mobil abi yang semakin menjauh sebelum akhirnya dia menghela nafas kemudian masuk kedalam rumahnya.
Khodijah membuka pintu, masih sama! Sepi sunyi dan hanya dia sendiri entah kapang waktunya tiba dimana dia akan pulang kerumah dan mendapati oranglain berada disana. Khodij memasukkan barang belanja bulanannya kedalam kulkas didapur, setelahnya dia langsung pergi kekamar.
Gadis itu berjalan kedepan cermin besar nya, menatap pantulan dirinya sendiri disana cukup lama ia terus menatap objek yang sama, hingga ia menghela napasnya lagi. Entah mengapa tiba-tiba saja rasanya aneh, semua tubuhnya masih sama, tidak ada yang berubah tapi khodij merasa tidak mendapati dirinya sendiri dalam pantulan cermin itu. Itu bukan dirinya, yang seperti ini bukan khodijah, tapi aneh! Karna tak ada satupun yang berubah dari fisik gadis itu.
Karna sebenarnya tanpa khodij sadari, bukan fisik nya yang berubah tapi hatinya yang mulai melangkah bergerak meninggalkan asal tempatnya. Hati itu mulai belajar mengenal hal baru, hati itu mulai meraba dan menjamah sebuah kisah lain, namun karna khodij yang masih belum sadar dia tidak mengenali itu semua.
Tangan khodij bergerak melepaskan jilbab yang sedari tadi bertengger dikepalanya, kini tampak rambut berwarna hitam yang diikat satu dibawah tengkuk, khodij melepas ikatan rambutnya membiarkan rambut itu terurai dengan bebas. Bertahun-tahun lamanya rambut itu tersembunyi didalam kain yang mengamankannya, bertahun-tahun lamanya hanya Allah, dirinya serta keluarganya yang tahu bagaiman bentuk rambut itu. Hingga saat ini khodijah menutup semuanya dengan baik, tak ada kesempatan sedikitpun bagi oranglain melihatnya.
Setelah mengganti pakaiannya dengan piama berwarna biru dan jilbab instan senada, khodij merangkak keatas tempat tidur.
"Bismika allahumma ahya wa bismika amuth" gumamnya sambil menengadahkan tangan berdo'a.
Khodij menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga leher, dan tak butuh waktu lama gadis itu terlelap dalam dunia fantasi mimpi.
...
Dengan bercucur air mata, dari balik isak tangisnya, yang bisa dilakukan dirinya hanya memendam sesak yang semakin lama semakin menguat. Tanpa bisa berkata-kata lagi, hanya bisa mendengarkan lirih permohonan sangterkasih, dia pergi!
Meyakinkan dirinya sendiri agar langkahnya menjadi pasti, tak ada keraguan dan goyah karna permohonan 'jangan pergi!' meski terus saja sesak itu menjalar hingga ketitik paling terdalam. Dia terus pergi!
Langkah demi langkah semakin menjauh, teriak permohonan semakin mengeras meski terdengar semakin kecil karna, dia sudah pergi!
Tanpa berbalik, menoleh, tanpa mau berhenti sedikitpun, karna menurutnya pergi adalah keputusan terbaik dalam memperjuangkan sang pemilik hati, yang menggenggam hati, yang menciptakan rasa dalam hati!
Dia pergi!
"Jangan pergi, jangan coba untuk pergi karna aku tak bisa tanpamu, aku mencintai mu"
Seketika mata itu terbuka, lama dia menatap langit-langit dengan tatapan menerawang. Tangannya terangkat untuk menyentuh wajahnya dan yang dia dapati, matanya basah, pipinya basah, dia menangis?
Dia menangis dalam tidurnya, dia menangis karna sebuah mimpi yang menguasai malamnya.
"Jangan pergi"
KAMU SEDANG MEMBACA
KHODIJAH (SELESAI)
RomanceAlhamdulillah sudah rampung Hidup jauh dari keluarga, hidup diantara orang orang yang berbeda kepercayaan dikelilingi orang orang yang berbeda sudut pandang. Dia khodijah! Ketika harus jauh dari keluarga nya demi mengejar cita-citanya tuhannya begit...
