Khodij pikir acara ini akan segera berakhir, Khodij pikir semuanya akan segera selesai dan dia bisa pulang lalu mengistirahatkan tubuhnya. Ternyata tidak, semakin malam musik semakin heboh dan para tamu semakin bersuka ria. Ditempatnya, disalah satu kursi Khodij terkulai memegangi kepalanya. Rasa sakit nya semakin menjadi dan Khodij rasa ini tidak akan berlangsung cepat. khodij mulai kehilangan kesadarannya hingga kini dia mulai meracau aneh.
Masih diruangan yang sama, di sisi lain pria berjas itu sibuk memutar mata, menelusuri setiap rupa orang, mencari-cari gadis yang memenuhi kepalanya sejak tadi. Sedari tadi dia belum menemukannya entah diamana gadis itu.
Abi terus berjalan hingga tiba-tiba saja perasaan aneh menjalar kehatinya, entah tapi rasa itu mengganggu, Abi tidak tahu apa itu tapi perasaan itu membawa nya cepat ingin menemukan Khodijah.
Abi berhenti tepat dihadapan seorang gadis yang lunglai dikursinya, Abi tersenyum melihatnya, awalnya! Sebelum dia sadar jika ada yang tidak beres.
Abi mendekat dan bisa dia dengar jika saat ini gadis itu berbicara tanpa alur yang Abi mengerti. Abi menarik kursi lain membawanya kehadapan Khodij lalu dia duduk disana.
"Kho? Ada apa? Kau baik-baik saja?" tanya Abi. Dia tak mendapat jawaban.
"Kho kau kenapa? Kau mengenali ku? Khodij sadarkan dirimu!"
"Kau siapa?" tanya Khodij lemah.
"Aku, aku Abi kho! Hei sadarlah!"
Sebisa mungkin Abi menahan agar tak menyentuh gadis itu, dia masih selalu menjaga jarak diantara mereka.
"Abi? Abi siapa?"
"Siapa lagi! aku abi, abi teman mu!"
Sedetik khodij diam, kemudian setelahnya dia tertawa hambar. Abi mengernyit dia masih bingung Khodij kenapa? hingga saat melihat apa yang tengah dalam genggaman gadis itu, dia mengumpat dalam hati. Entah berapa gelas yang gadis itu minum, dan dia yakin itu yang membuat Khodij seperti ini.
"Kho mari pulang, kau sedang tidak baik-baik saja!"
"Tunggu-tunggu! Biar kukatakan. Kau Abi? Abi teman ku? Aku tidak punya teman bernama Abi, aku hanya punya impian bernama Abi!"
Abi mengernyit, niat untuk membawa Khodij pulang urung saat mendengar penuturan Khodij.
"apa maksud mu?"
"Kau tidak mengerti? Baiklah kujelaskan, aku tidak punya teman bernama Abi, aku hanya punya impian bernama Abi! Abi impian ku, angan ku, dia Abi hanya Abi tapi ada penghalang." ucap Khodij dengan lesu.
Khodij menghela napas. Kemudian melanjutkan.
"Apa kau tahu rasanya dipukul sebelum kau berbuat kesalahan? Apa kau tahu rasanya berjalan didalam ruang kaca? Apa kau tahu rasanya menahan sesuatu yang sebenarnya ingin kau tumpahkan?" tanya nya sambil menunjuk-nunjuk wajah Abi.
"Tidak! Kau pasti tidak tahu. Rasanya menyakitkan, kau melihat segalanya tapi tidak bisa menggapainya, kenapa? Karna kau dihalangi lebih dulu. Abi? Abi? Aku hanya butuh dia, aku hanya ingin dia? Seperti itulah manusia, terlalu banyak mau dan tidak ingat tuhannya! Kadang aku berfikir seperti itu, hingga akhirnya aku memutuskan memendam semuanya, aku bersembunyi dari perasaan ku sendiri. Dan itu menyakitkan!"
Mata Abi tak lepas dari wajah Khodij yang saat ini tengah menahan tangis, Abi tidak ingin menghentikan ini, dia ingin tahu bagaiamana perasaan gadis itu padanya.
"Jika kau bertemu Abi, tolong katakan padanya bahwa orang yang menjadikan nya mimpi saat ini kesakitan, saat ini dia menderita. Rasanya sangat menjengkelkan saat aku harus menahan semuanya sendiri. Kadang aku ingin berlari tapi dinding itu masih terus menghalangi. Tolonglah! Tidak ada pilihan yang memihak ku, aku dimintai antara perasaan dan Tuhan-ku, bagaimana itu tidak menyakitkan?" Khodij memejamkan matanya setetes air mata mengalir dimata kanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KHODIJAH (SELESAI)
RomanceAlhamdulillah sudah rampung Hidup jauh dari keluarga, hidup diantara orang orang yang berbeda kepercayaan dikelilingi orang orang yang berbeda sudut pandang. Dia khodijah! Ketika harus jauh dari keluarga nya demi mengejar cita-citanya tuhannya begit...
