Menangin hati Meera itu kaya menangin olimpiade IPA.
Susah, butuh perjuangan, butuh pengorbanan.
Dan itu semua buat jiwa kebodohan gue bergetar.
~Meera & Aldy~
™
Apa? Meera duduk sama gue?
Begitu Pak Gilang menyuruhnya duduk di belakang dan paling pojok, mata Meera langsung menatap ke arah dimana yang di maksud Pak Gilang. Betapa terkejutnya Meera begitu melihat sosok laki-laki yang selalu hadir dalam harinya belakangan ini. Meera bahkan tak pernah menyangka kalau ia akan dipertemukan satu kelas seperti ini.
Oh, takdir. Kenapa begitu kejam? batin Meera tanpa melepas tatapannya pada Aldy yang sama terkejutnya itu.
"Meera," panggil Pak Gilang. Meera menoleh, "ayo duduk. Sebentar lagi pelajaran akan saya mulai." lanjut Pak Gilang. Meera mengangguk dan mulai berjalan kearah dimana tempat duduk Aldy. Beberapa pasang mata masih menatapnya dengan kagum. Pesona Meera benar-benar menyihir semua mata kaum adam.
Aldy menggeser tubuhnya beserta tasnya ke bangku pojok begitu Meera berjalan mendekat. Meera beralih duduk dengan tenang di samping Aldy padahal jauh dalam hatinya ia merasa was was akan apa yang akan terjadi padanya.
"Hai, Meera," sapa Aldy berbisik sambil tersenyum. Sedangkan yang di sapa hanya diam acuh seolah Aldy tak pernah bicara.
Meera membuka resleting tasnya lalu mengeluarkan buku dan siap menulis materi yang akan di bahas Pak Gilang di depan sana.
Aldy terdiam memikirkan bagaimana caranya agar ia dapat membuat Meera ikut menyapanya.
"Meera, nanti pulang bareng, yuk?" ajak Aldy mencoba untuk berbicara dengan Meera. Namun, Meera tak menghiraukan ucapannya dan malah sibuk menulis materi di papan tulis ke bukunya.
Aldy mulai kehabisan cara, ia menggaruk kepalanya dengan pulpen yang ia genggam. Otaknya terus memutar, mencari cara agar Meera mau membuka mulutnya. Aldy juga bahkan tak mengerti akan dirinya sendiri, kenapa ia begitu ingin mendengar suara Meera dan mengobrol banyak dengannya.
"Mee, lo-"
"Bisa diem gak?" tanya Meera tanpa menoleh dan tanpa nada. Benar-benar flat.
Aldy membeku mendengar suara Meera. "Bi-bisa kok."
"Nulis." ucap Meera yang Aldy tak mengerti. Aldy mengkerutkan kedua alisnya mendengar ucapan Meera barusan, namun sepertinya itu semacam kalimat suruhan untuk Aldy agar menulis.
"I-iya." Aldy menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu mulai menulis materi yang ada di papan tulis ke bukunya dengan gugup.
Gimana mau berteman? Dingin bat kek kutub utara. Batin Aldy sambil terus menulis.
🐣
Begitu bel istirahat berbunyi, meja Aldy tiba-tiba langsung di kerubungi banyak orang layaknya penjual ayam di pasar.
"Hai, Meera."
KAMU SEDANG MEMBACA
MeerAldy (On Going)
Roman pour AdolescentsTanganku bergerak ragu membuka surat itu, lagi. Tapi tulisan itu selalu bisa membuat rinduku terobati akan sosoknya. Perlahan, senyumku terlihat menyedihkan kala menatap tulisan itu untuk kesekian kalinya. Dengan tinta hitam dan kertas menguning yan...
