Semuanya mendadak menjadi tak bermakna ketika rindu sedang merajalela, selain temu.
~Meera & Aldy~
™
Aldy terlihat mengatur napasnya yang terengah sambil sesekali melakukan peregangan setelah berhasil mengitari taman sebanyak dua kali pagi itu. Keadaan taman saat itu cukup ramai, mungkin dikarenakan saat itu adalah hari libur panjang akhir tahun. Namun, tak ada seorang pun yang tahu, bahwa seramai apapun dunia, Aldy tetap merasa sepi ketika tak ada Meera. Mungkin, kalian akan beranggapan kalau Aldy ini bucin atau lebay. Tapi percayalah, itu semua memang benar adanya dan kalian akan merasakan hal yang sama ketika kalian berada pada posisi Aldy.
Setelah puas melakukan peregangan, Aldy memutuskan untuk duduk di kursi panjang yang ada di dekatnya lalu beralih membuka tutup botol air mineral yang sedari tadi ia genggam, ia menenggaknya hingga tersisa setengah botol.
"Aldy?" sapa seorang laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya. Aldy mendongak menatap pemilik suara itu dan betapa kagetnya Aldy ketika tau siapa yang menyapanya barusan.
"Rendi?" tanya Aldy lalu matanya menoleh kesana kemari dan kembali menatap Rendi, "sendiri?"
Rendi mengangguk dan langsung ikut duduk di samping Aldy. Aldy mengikuti setiap pergerakan Rendi dengan mata memicing.
"Jauh amat lo kesini-sini." ucap Aldy lalu kembali menenggak air mineralnya.
"Emang gak boleh?"
"Ya, boleh si. Tapi emang di deket rumah lo gak ada taman yang enak buat dijadiin tempat jogging apa?"
Rendi terkekeh ringan, "Manusia di bumi egois, Dy. Semua taman yang seharusnya ada, dirubah menjadi yang mereka inginkan."
Aldy hanya tersenyum miring mendengar ucapan Rendi barusan. Setelahnya, hening beberapa saat.
"Omong-omong, udah liburan kemana aja lo?" tanya Rendi menatap Aldy.
"Di rumah aja."
Rendi mengangguk-angguk pelan sambil terlihat berpikir, "Kabar Meera gimana? Udah lama gue gak liat dia."
Aldy terdiam, tertegun beberapa saat ketika Rendi tiba-tiba menanyakan Meera padanya. Pasalnya, Aldy tau betul awal mula Rendi bertemu Meera. Akhirnya Aldy menoleh menatap Rendi dengan tatapan memicing. "Lah, tumben amat nanyain Meera. Biasanya lu kalau liat Meera kaya lagi liat mangsa." cerocos Aldy.
"Udah baikan dong. Gak baik lama-lama musuhan."
Aldy tersenyum tipis mendengar ucapan Rendi, "Mungkin dia baik-baik aja. Gue bahkan gak tau dia dimana, lagi apa, keadaannya gimana. Gue gak tau." ucap Aldy berkata lirih.
Rendi diam, senyumnya terlihat samar. "Dia baik-baik aja, Dy. Dia rindu banget sama lo," ucap Rendi tiba-tiba dengan tatapan kosong.
Aldy mengkerutkan kedua alisnya dalam, lalu menoleh cepat ke arah Rendi,"Lo-"
"Iya, Dy." ucap Rendi mengerti akan apa yang Aldy katakan, ia beralih menatap Aldy, "Gue tau Meera di mana."
Aldy terlihat menyipitkan kedua matanya, curiga pada Rendi. "Di mana dia?" tanya Aldy sengit.
"Di mana pun Meera berada, yang harus lo tau dia baik-baik aja, Dy." lirih Rendi.
"Gue cuma mau tau Meera dimana, Ren!" ucap Aldy dengan nada cemas. Matanya menatap Rendi tajam.
"Gue tau, Dy! Gue tau lo cemas mikirin Meera. Suatu saat nanti, lo juga akan ngerti kenapa Meera melakukan hal ini. Dia punya alasan." ucap Rendi menatap Aldy tepat di manik matanya hingga beberapa detik, hingga akhirnya kaki Rendi mulai melangkah ke samping Aldy dan berbisik tepat di telinga Aldy, "percaya sama gue, Dy. Dalam keadaan ini, bukan hanya lo yang merasa tersiksa, tapi Meera juga. Lo akan mengerti nanti, kenapa Meera memutuskan untuk memilih langkah ini." ucap Rendi lalu melewati tubuh Aldy begitu saja, tanpa menunggu Aldy mengucapkan sepatah kata pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
MeerAldy (On Going)
Teen FictionTanganku bergerak ragu membuka surat itu, lagi. Tapi tulisan itu selalu bisa membuat rinduku terobati akan sosoknya. Perlahan, senyumku terlihat menyedihkan kala menatap tulisan itu untuk kesekian kalinya. Dengan tinta hitam dan kertas menguning yan...
