Lo gak pernah tau rasanya mencintai dalam diam.
Sakitnya, pedihnya, sedihnya.
Tapi rasanya nikmat banget, bro! Suatu rasa yang istimewa karena cuma lo dan Tuhan yang tau.~Meera & Aldy~
™
Selesai merapihkan kemeja biru mudanya, Aldy mendongak menatap pantulan dirinya di cermin yang berukuran cukup besar yang ada di hadapannya. Senyumnya mengembang, puas dengan pakaiannya yang terlihat begitu pas di tubuhnya yang tidak terlalu kurus dan juga tidak terlalu gemuk.
Setelah terdiam beberapa detik, Aldy kembali teringat Meera yang sampai saat ini belum ada kabar sama sekali. Aldy segera merogoh saku celana jeansnya lalu mengeluarkan ponsel dan mencari kontak Meera. Aldy kembali mendesah berat, pesan kemarin malam ia kirimkan pada Meera masih belum juga dibalas. Sebenarnya, apa yang terjadi pada Meera hingga tiba-tiba seperti hilang?
"Dy, lo yakin, rencana ini bakal sukses?" tanya Satria yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk cokelat melilit pinggangnya sampai sebatas paha. Sedangkan dadanya ia biarkan terbuka.
Aldy terdiam berbalik duduk di tepi kasur Satria dan menghela napasnya perlahan, "Semoga aja berhasil." lirih Aldy.
Mereka sedang berada di kamar Satria. Setelah ke rumah Lulu, Aldy mengajak Alvin untuk menemui Satria, tujuannya untuk mengajak Satria berpartisipasi dalam rencana ini.
"Sat, malam ini, gue sama Alvin nginep di rumah lo, ya?"
Satria tanpa menoleh melirik Aldy, "Nyokap lo gimana? Ditinggalin?"
Aldy terdiam cukup lama, "Tapi masalahnya, gue tuh lagi butuh hiburan."
"Rumah gue bukan tempat hiburan, kampret! Sono, kalau mau cari hiburan tuh ke club," cibir Satria yang sudah menemukan kaos yang pas untuk dipakai. Aldy terdiam, sedangkan Satria sedang memakai kaos pilihannya dengan gerakan kilat, "heh!" panggil Satria menatap Aldy yang termenung dengan tatapan tajam. Aldy menoleh menatap Satria dengan kedua alis terangkat.
"Apaan?"
"Lo mau diem di situ aja sampai gue pake celana?" tanya Satria sewot karena Aldy tak peka dengan maksudnya.
"Ngomong, dong! Sewot terus," lirih Aldy lalu melempar bantal kecil yang tadi di dekapnya ke arah muka Satria dan tepat sasaran, meninggalkan decakan dari Satria.
🐣
Sudah lima menit Lulu duduk di bangku yang ia booking jauh-jauh hari. Beberapa kali Lulu terlihat mengembuskan napasnya perlahan dengan gurat yang sedikit cemas. Tak bisa dibohongi, Lulu memang benar-benar gugup akan menghadapi dua orang yang sekarang sedang perang dingin.
Lulu kembali mengecek ponselnya untuk sekedar melihat jam padahal Lulu memakai jam tangan, atau untuk mengecek apa ada pesan dari Toni maupun Iwan. Hasilnya nihil, tak ada pesan dari keduanya. Terakhir berkomunikasi dengan Iwan, ia bilang akan segera datang lima belas menit lagi. Sedangkan Toni, ia bilang sebentar lagi, entah berapa menit lagi.
Lulu hampir berjengit ketika ponselnya bergetar karena ada notifikasi. Ia sesegera mungkin membuka pesan yang ternyata bukan dari Iwan maupun Toni, tapi dari Satria yang bersembunyi di suatu tempat yang tak terlihat oleh pandangan Lulu padahal masih dalam satu tempat dengan Lulu, bersama Alvin dan Aldy tentunya.
Satria:
Tenang, Lu. Semua akan baik-baik aja:)

KAMU SEDANG MEMBACA
MeerAldy (On Going)
TienerfictieTanganku bergerak ragu membuka surat itu, lagi. Tapi tulisan itu selalu bisa membuat rinduku terobati akan sosoknya. Perlahan, senyumku terlihat menyedihkan kala menatap tulisan itu untuk kesekian kalinya. Dengan tinta hitam dan kertas menguning yan...