.02. Keputusan

107 12 14
                                    

{Bila ada typo mohon untuk di benarkan,yaa.}

Sekecil apapun takdir, ia akan tetap bisa menjungkir balikkan kehidupan setiap yang bernyawa.

~Meera & Aldy~

Istanbul, Turki

Meera hanya terdiam sejak tiga menit ia duduk di antara Nandhy dan Regar. Sesekali ia meneguk kopi buatan Mahesh karena cukup tegang dengan apa yang akan di bicarakan Regar.

"Baba, apa yang kita tunggu?" tanya Nandhy memecah keheningan.

Regar mengalihkan tatapannya sebentar pada Nandhy lalu kembali menatap layar laptop di hadapannya. "Sebentar, Anne. Aku masih belum mendapat kepastian dari perusahaan," saut Regar dengan mata masih menatap layar monitor laptop.

Meera hanya mengembuskan napasnya perlahan. Perasaannya sudah tidak enak. Pasti akan terjadi sesuatu sebentar lagi.

"Ah, akhirnya!" seru Regar dengan senyum lega. Setelahnya ia tersenyum penuh arti dan meregangkan otot-otot jarinya.

"Bagaimana?" tanya Nandhy lagi.

Regar beralih menatap Nandhy dan Meera bergantian dengan ekspresi tak terbaca. "Perusahaan Baba di Indonesia mengalami krisis dan mengharuskan Baba turun tangan kesana. Karena jika menyuruh pekerja, akan sangat mengkhawatirkan. Selagi masih ada Baba, Baba akan mengurusnya sebaik mungkin hingga kembali seperti keadaan semula. Karena kalian semua tau, perusahaan itu pemberian dari Kakek Dirga," ucap Regar memulai inti pembicaraan. Regar menghela napasnya perlahan sebelum kembali bicara, "Baba harap, kalian mau ikut serta pindah ke Indonesia karena untuk mengembalikan krisis perusahaan menjadi seperti semula membutuhkan waktu yang cukup lama." lanjut Regar menatap Nandhy dan Meera bergantian penuh harap.

Tentu Nandhy biasa saja bahkan mungkin senang karena sudah lama ia tak pulang ke tanah air kelahirannya. Beda halnya dengan Meera yang sekarang terlihat terkejut.

"Indonesia?" ulang Meera menatap Regar. Regar mengangguk. "Kenapa baru sekarang di bicarakan, Baba?"

"Kamu, kan, tau bagaimana Baba di perusahaan, Mee." ucap Regar memberi pengertian.

"Mahesh?" tanya Meera.

"Dia gak ikut. Karena büyükanne menyuruhnya untuk menetap disini, menemaninya. Lagi pula, kalau Mahesh juga ikut, siapa yang akan menempati rumah ini dan menjaga büyükanne?" jawab Regar.

"Tapi kenapa cuma Meera, Ba? Kalau begitu Meera juga gak mau ikut." protes Meera.

"Kalau Mahesh ikut, lalu siapa yang merawat dan menjaga büyükanne?" ucap Regar mengulang kembali ucapannya, "Ini permintaan büyükanne. Ayolah, Meera, kamu sudah besar. Jangan terus merajuk seperti anak kecil." lanjut Regar.

"Tapi ini gak adil, Baba!" ucap Meera dengan sirat kesal dan langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya.

Mahesh yang sedang menemani Hureem di dekat perapian menoleh ke ruang makan menatap kedua orang tuanya dan beralih menatap Meera yang kini sedang berjalan menaiki tangga dengan wajah tertekuk.

Mahesh tau, pasti tidak akan mudah bagi Kakaknya itu. Tapi apa boleh buat? Ini adalah keputusan mutlak dari Regar dan mengharuskan siapapun meng-iyakan.

MeerAldy (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang