Mungkin akan sangat mengesankan bagi pasangan yang awal bertemu dengan kejadian manis.
Tapi, bagi Meera kesan pertama ketika bertemu Aldy adalah; membencinya.
~ Meera & Aldy~
™
Jakarta, Indonesia
Setelah dua hari berturut-turut melewati rumah bertingkat dua itu, Aldy masih belum juga melihat orang Turki itu. Bila di katakan Aldy adalah seorang yang kepo itu adalah sangat benar. Entah kenapa, Aldy merasa tertarik dengan orang Turki yang akan pindah nanti. Lebih tepatnya Aldy penasaran.
Pagi ini, Aldy kembali melewati rumah bertingkat dua itu. Aldy mengembuskan napasnya perlahan, masih terlihat sepi dan tak berpenghuni. Setelahnya, Aldy kembali melangkahkan kedua kakinya santai sambil bersiul dan sesekali menendang bebatuan kecil di sekitarnya.
🐣
Mahesh mengantarkan Meera dan Nandhy sampai ke pekarangan rumahnya. Mobil untuk mengantar mereka ke Bandara sudah siap sedari pagi buta, bagasinya juga sudah di penuhi banyak koper.
Mahesh menyenggol lengan Meera lalu menyodorkan tas ransel abu-abu milik Meera. Meera menoleh lalu tersenyum dan beralih menggendong tasnya di pundak.
"Kak," panggil Mahesh dengan pelan. Meera mendongak, menunggu Mahesh berbicara. "Aku akan merindukan Kakak. Jaga diri, ya! Jangan sedih terus." lanjut Mahesh dengan kedua mata berair namun Mahesh mencoba untuk tidak menangis di depan Kakaknya.
Meera tersenyum dan langsung memeluk adiknya erat. Sebenarnya Meera juga sangat sedih, ini adalah pertama kalinya mereka harus berpisah jauh dan Meera pasti akan merindukan adik kecilnya itu.
"Jaga diri juga. Aku akan merindukanmu," bisik Meera tepat di telinga Mahesh.
"Meera, Mahesh," panggil Nandhy. Keduanya melepaskan pelukan dan beralih menatap Nandhy.
"Mahesh, jaga dirimu dan büyükanne baik-baik, ya! Kalau ada apa-apa kabari Anne. Jangan nakal dan harus rajin pergi sekolah!" titah Nandhy menatap Mahesh yang wajahnya sudah basah. Mahesh mengangguk dan langsung berhambur ke pelukan Nandhy.
"Cepat kembali, Anne. Aku akan sangat merindukan kalian," ucap Mahesh dengan parau dalam pelukan Nandhy. Nandhy mengangguk lalu beralih menangkup wajah Mahesh dan mencium kening Mahesh cukup lama.
"Anne berangkat, ya," pamit Nandhy yang di balas anggukan oleh Mahesh. Nandhy beralih menatap Meera dan menarik lengannya perlahan, "Ayo, Meera."
Meera mengangguk dan mulai melangkah beriringan dengan Nandhy. Meera terlihat sangat kosong saat itu, tentu ia sangat sedih dan memikirkan bagaimana ia bisa tanpa Mahesh? Bagaimana kehidupannya nanti disana?
Sebelum Meera memasuki mobil, Meera menyempatkan melirik Mahesh yang sudah menahan tangis sambil melambai ke arahnya. Meera tersenyum dan melambai sebentar sebelum akhirnya benar-benar masuk ke mobil.
"Mahesh," panggil Regar yang baru keluar rumah setelah meminta doa dari Hureem.
Mahesh menoleh dan mendapati Babanya sedang berjalan kearahnya. Regar mengkerutkan kedua alisnya menatap setiap inci wajah mungil Mahesh yang memerah lalu menangkupnya dan mengusap pelan air mata yang menggenang di kedua pipi Mahesh.

KAMU SEDANG MEMBACA
MeerAldy (On Going)
Fiksi RemajaTanganku bergerak ragu membuka surat itu, lagi. Tapi tulisan itu selalu bisa membuat rinduku terobati akan sosoknya. Perlahan, senyumku terlihat menyedihkan kala menatap tulisan itu untuk kesekian kalinya. Dengan tinta hitam dan kertas menguning yan...