Jangan galak-galak sama gue. Nanti jadi sayang-sayang, gimana?
~Meera & Aldy~
™
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan waktu terus berjalan hingga mendekati ujian kenaikan kelas. Seperti pada perjanjian mereka beberapa waktu lalu, Meera akan menjadi guru les privat Aldy sampai menjelang ujian kenaikan kelas.
Kini mereka sudah ada di perpustakaan pada jam istirahat. Meera terlihat sedang membolak-balikkan halaman buku matematika yang di pegangnya, sedangkan Aldy terlihat sedang mengigiti ujung pensil yang di pegangnya sesekali terlihat menulis di buku yang berisi soal-soal pemberian Meera.
"Mee," panggil Aldy beralih mendongak menatap Meera. Meera tak melepas pandangannya dan hanya bergumam menjawab panggilan Aldy, "lo kok kasih soalnya yang susah-susah, sih?" tanya Aldy dengan wajah yang kusut karena terlalu pusing dengan rumus-rumus matematika yang penuh dengan teka-teki.
Meera mendongak menatap Aldy tanpa ekspresi, "Lo belajar sama gue udah berapa bulan?"
"Dua."
"Seharusnya ini udah bisa lo kuasai. Kok masih pusing juga, sih!" kesal Meera dengan kening berkerut menatap Aldy.
"Yah, Mee. Gue, kan, belajarnya pas sama lo doang, kalau di rumah gue nonton drakor, eh tapi genrenya action, lho! Bukan romance." ucap Aldy menggebu-gebu.
"Ponsel lo mana?"
"Buat apa?" tanya Aldy.
"Siniin!" ucap Meera tak terbantahkan. Dengan ragu, Aldy mengeluarkan ponselnya dari saku celana abu-abunya lalu memberikannya pada Meera. Begitu ponsel Aldy sudah di genggamannya, Meera beralih mengeluarkan ponselnya juga.
"Jangan buka-buka galeri!" perintah Aldy ketika Meera sedang mengotak-atik ponselnya. Meera hanya mendelik melirik Aldy.
Laki-laki selalu sama! Dasar mesum. Batin Meera sambil mengetik sesuatu di ponsel Aldy. Mungkin Meera pikir, Aldy memerintahkan seperti itu karena tidak mau ketahuan menyimpan yang seperti itu, padahal prasangka Meera belum tentu benar.
"Nih," ucap Meera kembali menyodorkan ponsel Aldy. Aldy segera mengambilnya dan memasukkannya lagi ke dalam celana abu-abu.
"Lo ngapain, sih?"
"Nanti juga tau." ucap Meera yang sudah kembali membolak-balikkan buku matematika yang di genggamnya. Aldy mengembuskan napasnya jengah dan kembali menatap soal-soal matematika yang membuatnya ingin pingsan saja.
🐣
Mata Aldy terlihat fokus menatap layar monitor laptopnya dengan sesekali meringis ngeri melihat adegan saling tusuk menusuk.
"Haduh! Dunia kejam amat," gerutu Aldy sambil menutup matanya begitu ada adegan memenggal. Setelahnya, kedua mata Aldy kembali terbuka perlahan karena ponselnya berdering.
Aldy mengkerutkan kedua alisnya melihat nama Meera tertera di layar ponselnya. Aldy terlihat memutar bola matanya tampak memutar ingatannya, apa ia pernah meminta atau menyimpan nomer Meera.
Ah, tapi gak pernah. Batin Aldy tampak berfikir. Aldy membulatkan matanya ketika mengingat kejadian di perpustakaan tadi. Dengan perlahan, Aldy meraih ponselnya yang masih bergetar di dekat laptop lalu meng-skip film yang sedang di tontonnya dan beralih mengangkat telfon.
"Ha-hallo..," sapa Aldy sedikit gugup.
"Aldy!" panggil suara di sebrang dengan tegas. Aldy yang sangat tau siapa pemilik suara di sebrang sana membulatkan matanya. Ternyata memang benar Meera, Aldy pikir ini cuma prank.

KAMU SEDANG MEMBACA
MeerAldy (On Going)
Novela JuvenilTanganku bergerak ragu membuka surat itu, lagi. Tapi tulisan itu selalu bisa membuat rinduku terobati akan sosoknya. Perlahan, senyumku terlihat menyedihkan kala menatap tulisan itu untuk kesekian kalinya. Dengan tinta hitam dan kertas menguning yan...