Senyummu masih menjadi misteri buatku,
kala aku tak pernah bisa menghilangkan senyummu dalam otakku.Sebenarnya ini apa?
~Meera & Aldy~
™
Langkah kakinya mengalun pelan namun dengan ritme yang cepat. Pakaian seragam putih abu-abunya masih melekat dibalut dengan jaket levis yang ia pakai. Tubuhnya beberapa kali menabrak orang yang berlalu lalang di lorong rumah sakit. Tak jarang juga, laki-laki itu mengucap kata maaf ketika tak sengaja menabrak orang-orang yang sedang berlalu lalang di lorong saat itu.
Sehabis menyelesaikan soal-soal ujian di hari terakhir, laki-laki bernama Rendi ini mendapat kabar bahwa ibunya dibawa ke rumah sakit. Sontak hal itu membuat Rendi langsung bergegas ke rumah sakit yang beritahu oleh Ayahnya. Begitu mata hitamnya menatap sosok laki-laki yang sangat ia kenali sedang berdiri di depan ruang UGD, Rendi semakin mempercepat langkahnya.
"Gimana kondisinya Bunda, Yah?" tanya Rendi dengan nada cemas begitu sudah berdiri di depan laki-laki berpakaian cukup formal itu.
Rajend berbalik menatap anak laki-laki satu-satunya itu dengan raut yang terlihat lelah, "Gapapa, Ren. Cuma drop sedikit, kata Dokter," ucap Rajend langsung membuat wajah Rendi terlihat lebih tenang.
Rendi mengembuskan napasnya lega, "Syukurlah."
"Langsung dari sekolah?"
Rendi mengangguk, lalu mengajak Ayahnya untuk duduk di bangku yang ada di lorong, "Ayo duduk dulu, Yah."
"Kamu udah kabarin Ka Raya sama Ka Aurel?" tanya Rajend menoleh menatap Rendi. Rendi menggeleng pelan.
"Belum, Yah. Rendi belum sempet pegang hp pas dapet kabar Bunda masuk rumah sakit." ucap Rendi.
Keadaan menghening beberapa saat hingga Rajend kembali bersuara, "Gimana ujian kamu? Hari ini, hari terakhir, kan?" tanya Rajend setelah terdiam cukup lama. Rendi mengangguk pelan.
"Permisi, Pak," ucap wanita dengan pakaian suster melekat pada tubuhnya. Sontak dua laki-laki berperawakan hampir mirip itu menoleh ke arah sumber suara.
Rajend beralih berdiri dan menghampiri sang suster, "Kenapa, sus?"
"Ini, resep dari dokter yang harus ditebus." ucap suster cantik itu sambil menyodorkan secarik kertas pemberian dokter yang menangani Bundanya Rendi.
Rajend menerima secarik kertas itu lalu tersenyum pada suster itu, "Terimakasih, sus."
Suster itu mengangguk lalu pamit untuk kembali bertugas. Rajend memutar tubuhnya, kembali duduk di tempat sebelumnya.
"Ada apa, Yah?" tanya Rendi beralih menatap Rajend.
"Surat tebusan obat buat Bunda kamu."
"Oh, yaudah. Biar Rendi yang tebus obatnya, Yah. Mana kertasnya?" ucap Rendi, lalu menengadahkan telapak tangannya meminta kertas tebusan yang diberikan suster tadi.
"Gapapa?"
Rendi tertawa renyah, "Gapapa, Yah."
Rajend meletakkan secarik kertas tadi di atas telapak tangan Rendi."Yaudah, Rendi pergi dulu, Yah." ucap Rendi. Rajend hanya mengangguk dan Rendi langsung bergegas menebus obat untuk Bundanya.
🐣
Sudah hampir satu minggu gadis cantik dengan kepala tertutup kupluk berwarna biru dongker itu menjalani hari-harinya di rumah sakit. Wajahnya nampak tirus dan pucat, di bawah matanya terdapat kantung mata yang cukup besar, tangan kanannya di infus, lengkap dengan pakaian biru khas pasien yang dirawat di sana.

KAMU SEDANG MEMBACA
MeerAldy (On Going)
Genç KurguTanganku bergerak ragu membuka surat itu, lagi. Tapi tulisan itu selalu bisa membuat rinduku terobati akan sosoknya. Perlahan, senyumku terlihat menyedihkan kala menatap tulisan itu untuk kesekian kalinya. Dengan tinta hitam dan kertas menguning yan...