.14. Story From Mamah.

40 7 0
                                    

Kalau lo mau tau gimana gue, tanya ke Mamah gue.

Dia paling tau segalanya. Termasuk cerita gue mencoba berteman sama lo.

~Meera & Aldy~

Di tengah perjalanan menuju sekolah, Aldy terlihat menimang kata apa yang akan ia katakan pada Meera untuk mengajaknya ke rumah. Aldy terus mengayuh sepeda gunungnya dengan mulut yang bergerak ke kanan dan kiri, tampak menimang ucapan yang akan ia lontarkan pada Meera.

"Hmm, Mee," panggil Aldy setelah bergumam dengan nada ragu.

"Apa?"

"Hmmm...., hmm....,"

"Kenapa, sih?" kesal Meera dengan kening berkerut ketika Aldy tak kunjung bicara dan hanya bergumam panjang.

"Nanti pulang sekolah lo mau ke rumah gue gak?" tanya Aldy ragu-ragu. Ia mengembuskan napasnya perlahan, menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berdegub kencang.

"Mau ngapain?"

"Lo, kan, waktu itu mau ke rumah gue. Giliran diajak gak mau," ucap Aldy.

Meera memutar bola matanya, "Gue gak ngomong gitu."

"Yaudah, intinya lo mau apa engga?"

Meera terdiam, menimang akan menjawab iya atau tidak. Tapi, Meera cukup penasaran bagaimana orang tua Aldy dan rumahnya.

"Iya."

"Iya, apa?"

"Iya, mau."

"Mau apa, sih? Lo kalau ngomong yang jelas dong." keluh Aldy dengan hidung mengkerut.

"Iya, gue mau ikut pulang ke rumah lo!" ucap Meera dengan penuh penekanan. Aldy hanya terkekeh mendengar Meera yang geram, padahal Aldy sudah tau kalau Meera meng-iyakan permintaannya.

🐣

Aldy menghela napasnya pasrah dengan punggung yang ia sandarkan pada kepala kursi. Matanya ia pejamkan.

Suci sudah berkeliling memberikan selembaran kertas hasil ujian matematika minggu lalu. Hal itu lah yang membuat Aldy pasrah sepasrah-pasrahnya karena Aldy memang lemah dalam pelajaran matematika. Sedangkan Meera, ia terlihat tenang duduk di tempatnya sambil membaca buku.

Suci menyodorkan selembaran kertas yang tersisa hanya dua dalam genggamannya, "Selamat, ya, Mee. Lo dapet nilai tertinggi di kelas semester ini," ucap Suci memberi ucapan selamat pada Meera. Meera tersenyum lalu menerima kertas tersebut.

"Makasih." ucap Meera pada Suci, lalu menunduk menatap hasil yang ia dapatkan dengan mata berbinar. Aldy membuka salah satu matanya mengintip nilai Meera.

"Nih, buat lo!" ucap Suci menyerahkan lembaran terakhir pada Aldy dengan galak, "duduk sama orang pinter bukannya ketularan pinter malah makin bego." lanjut Suci seperti menggerutu.

Aldy memicingkan matanya menatap Suci lalu mengambil alih kertas ujiannya dengan kasar, "Jangan galak-galak, Ci. Gak laku lho nanti." ucap Aldy.

"Bodo." ketus Suci lalu berlalu begitu saja.

Aldy menatap nanar pada nilai matematikanya. Terdengar helaan napas dari Aldy, tangan kanannya mengusap rambut tebalnya gusar, matanya tak lepas pada nilai di selembaran hasil ujiannya, sesekali terdengar decakan dari mulutnya.

Aldy menoleh menatap Meera yang kali ini terlihat sedang menulis. Aldy memasang wajah kusutnya menatap Meera, "Mee," panggil Aldy merengek.

"Apa?" saut Meera tanpa menatap Aldy.

MeerAldy (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang