DUA

7.5K 388 16
                                    

"Cepetan, Jeni! Milih kayak gituan aja lu lama bener!" omel Danang pada Jaelani, saat keduanya sedang berada di deretan rak sabun cuci, di salah satu supermarket di Semarang.

Danang, yang awalnya hendak menghabiskan hari liburnya di barak, dengan latihan dan olah fisik, kini justru sedang terjebak dengan Jaelani di salah satu supermarket. Ia sudah berulang kali meminta Jaelani agar mempercepat acara belanja bulanannya itu. Namun tetap saja nihil. Setiap Danang meminta Jaelani untuk segera mengambil barang yang ia butuhkan, justru anggotanya itu mengulur waktu dengan meminta pertimbangan dari Danang, yang membuat Danang kesal.

"Nama saya kan Ahmad Jaelani, bang. Ngapa jadi Jeni sih? Saya berkali-kali lho, nanya ke abang, kenapa abang manggil saya kayak gitu. Tapi abang kagak pernah tuh ngejelasin ke saya." Jaelani mengurungkan niatnya yang hendak mengambil sabun cuci, dan kini menatap Danang dengan kesal.

"Bisa cepet nggak? Kalo enggak, abang tinggal. Abang ada urusan lain!" tegas Danang, kemudian berlalu meninggalkan Jaelani yang langsung berlari mengejar langkahnya dengan mendorong troli berisi barang belanjaannya.

"Bang, suka nggak kira-kira deh kalo lagi sensi." keluh Jaelani, sambil mengatur nafasnya, saat ia dan Danang sudah berada di bagian kasir.

"Rak ngurus!" umpat Danang, sambil membayar barang belanjaannya yang sudah selesai di hitung. "Cepet selesaiin barang belanjaan kamu, atau abang..."

"Abang kenapa, bang?" Jaelani mengerutkan keningnya, saat Danang tidak menyelesaikan kalimatnya, dan justru memperhatikan gadis dengan baju gamis syar'i yang baru saja memasuki area supermarket. "Bang!"

Danang terkesiap dengan tepukan di bahu kirinya. "Apaan sih? Ganggu aja!"

"Lah? Aturan kan saya yang nanya ke abang, abang kenapa malah bengong aja dari tadi, waktu cewek itu lewat? Naksir ya, bang, sama cewek tadi?" goda Jaelani, sambil mengeluarkan barang belanjaannya dari troli, dan meletakannya di atas meja kasir.

"Mulut lu emang kagak pernah di saring ya, Jen? Bener-bener emang! Anggota satu, kagak pernah hormat sama atasannya!" omel Danang, yang justru membuat Jaelani terkekeh.

"Sans aja lah, bro." canda Jaelani, yang langsung membuat Danang menggelengkan kepalanya, lalu meninggalkannya seketika. "Yah, bang? Kok saya dtinggal? Bang?" Ia kemudian segera berlari mengejar Danang, yang kini sudah berada di area parkir sepeda motor. "Bang, main ninggal aja!"

"Elunya yang kelamaan!" sergah Danang, yang menirukan logat betawi yang sering Jaelani gunakan, sambil meletakkan kantong belanjaannya di sepeda motor matic milik Jaelani.

"Ya kan emang lagi banyak belanjaan saya, bang. Abang aja yang buru-buru sejak lihat cewek tadi." balas Jaelani, ikut meletakkan kantong belanjaannya di sepeda motor. "Abang beneran suka ya sama cewek tadi?" tanyanya, sambil memakai helm yang di sodorkan oleh Danang.

"Kenal juga enggak! Gimana bisa suka? Aneh!" sergah Danang, yang langsung menghidupkan sepeda motor Jaelani.

"Ya kan siapa tau, bang." jawab Jaelani, sambil duduk di belakang Danang.

Danang mengerutkan keningnya. "Siapa tau apa?"

"Cinta pandangan pertama gitu." jawab Jaelani.

"Ngaco!" umpat Danang, sambil menjalankan sepeda motor itu dengan kecepatan tinggi, dan langsung membuat Jaelani berteriak.

"Saya masih belum mau mati, bang! Kira-kira ngapa kalo bawa motor?" omel Jaelani. "Suwe bener jadi komandan!"

***

Lidya kembali memijat keningnya, sambil menatap layar laptop yang ada di hadapannya. "Susah banget sih, bikin satu bab aja? Mana di kejar target, tiga minggu harus dapet dua bab lagi! Sial!" gumamnya pada diri sendiri.

Beautiful People #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang