DUA PULUH TIGA

3K 272 20
                                    

Lidya hanya tersenyum simpul, yang langsung saja membuat Kayva dan Dimas menatapnya bingung.

"Lidya sama dokter Abi, udah saling kenal?" tanya Dimas, memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka.

Lidya dan Abi terdiam. Sementara Faiq menghela nafas. Entah apa yang ia rasakan kini. Antara kesal karena ia dan Abi bertemu lagi, juga rasa kecewa karena Abi sama sekali tidak meminta maaf padanya karena sudah lancang berpacaran dengan Lidya tanpa seizinnya.

"Kita udah saling kenal. Waktu itu saya nggak sengaja nyerempet motor Lidya di jalan."

"Oh gitu. Pantesan aja tadi kalian kayak kaget waktu pertama kali lihat. Ternyata emang bener udah saling kenal." ujar Dimas, yang membuat Lidya, Faiq dan Abi hanya tersenyum simpul.

"Mohon izin, Danton. Dipanggil Danki ke depan. Katanya Danton harus menghadap segera." jelas salah seorang anggota Faiq, yang langsung menbuat Faiq beranjak berdiri.

"Aku pamit dulu ya, Dim, Key. Ada panggilan dari Komandan soalnya." pamit Faiq, sambil menatap Dimas dan Kayva bergantian.

"Tapi nanti kamu gabung sama kita lagi, kan?" tanya Dimas.

Faiq menggelengkan kepalanya pelan. "Kayaknya nggak bisa, Dim. Komandan udah booking tempat juga di meja sebelah. Nggak enak kalau aku mau izin. Maaf ya?"

Dimas menepuk lengan Faiq. "Nggak masalah. Mungkin lain kali kita bisa ngobrol lebih lama lagi."

Faiq mengangguk. "Aku pamit ya." Ia kemudian mengusap kepala Lidya yang di balut jilbab. "Dek, mas pamit ya? Kamu hati-hati nanti. Awas ada orang jahat."

Kalimat Faiq itu justru mengundang gelak tawa dari Kayva dan Dimas.

"Mana ada yang berani sama Calon Ibu Persit sih, Iq? Kamu ada-ada aja."

Faiq menatap Dimas, setelah melirik Abi sekilas. "Ya siapa tahu, kan, kalau orang jahatnya nggak tahu kalau Lidya Calon Ibu Persit."

"Ada-ada aja kamu, Iq." Dimas masih dengan kekehannya.

"Aku duluan ya? Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

"Dokter Abi mau sekalian gabung sama kita?" tanya Kayva, begitu melihat Abi yang hanya diam berdiri di samping mena yang ia tempati. "Bisa duduk di samping Lidya, dok, kalau nggak keberatan."

"Terimakasih, mbak. Saya sudah selesai kok. Kebetulan tadi waktu ketemu sama Mas Dimas, saya sedang berjalan keluar dari tempat makan ini."

"Bener, mas?" Kayva memastikan ke arah Dimas, dan Dimas pun mengangguk menbenarkan kalimat Abi.

"Mungkin lain kali, mbak." ujar Abi. "Saya permisi dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

"Padahal baru aja mau nanyain soal vitamin yang pas buat Si Kembar, mas. Apa udah ada atau belum di klinik. Tapi kayaknya dokter Abi buru-buru ya?"

Dimas menggelengkan kepalanya. Dia yang kini duduk di samping kiri Kayva, menatap Kayva. "Kayaknya bukan karena itu, deh, yang."

Kayva menengok ke arah Dimas. "Kenapa mas bisa bilang kayak gitu?"

Dimas tidak menjawab pertanyaan Kayva. Ia kini justru menatap Lidya. "Ada yang mau kamu ceritain, Lid?"

Lidya tersentak. Ia yang awalnya hanya memainkan menu makan siangnya, kini justru meletakkan kembali garpu dan sendoknya di atas piring.

"Mas Dimas kok ngomongnya gitu?" tanya Kayva bingung. Sama sekali tidak mengerti akan kemana Dimas me

"Ehm ada, mas. Tapi kayaknya nggak di sini."

Beautiful People #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang