ENAM

3.8K 265 15
                                    

Danang menatap hamparan rumput hijau di hadapannya. Hamparan rumput hijau, yang beberapa saat lalu penuh dengan prajurit Batalyon Infanteri 400/Banteng Raider. Para prajurit yang baru saja dilantik karena mereka menerima kenaikan pangkat, termasuk Danang, yang kini menyandang dua balok emas di pundaknya. Kenaikan pangkat, yang juga menambah tanggungjawab yang harus ia pikul.

"Selamat untuk kenaikan pangkatnya, Ndan."

Danang terkesiap. Ia kemudian menatap Jaelani yang kini perlahan mendekatinya, lalu memberikan hormat padanya.

Danang membalas hormat Jaelani. "Makasih ya, Jae. Selamat juga buat kamu. Semoga amanah." jawabnya, kemudian membalas uluran tangan Jaelani.

Jaelani tersenyum. "Amiin, Ndan. Doa yang sama juga buat Danton. Semoga Danton bisa menjaga apa yang sudah di amanatkan untuk Danton. Amiin."

Danang mengerutkan keningnya menatap Jaelani. "Muka lu, kenapa kagak seneng gitu, Jae?"

Jaelani duduk di samping Danang. Di atas hamparan rumput lapangan. "Gimana ya, Danton? Saya juga bingung."

Danang menepuk bahu kiri Jaelani. "Cerita aja. Lupakan soal pangkat dan jabatan dulu sementara. Kayak biasanya kamu ngajak abang bercanda."

Jaelani menghela nafas panjang, kemudian menatap rumput tepat di depan kakinya yang duduk bersila. Menunduk. "Saya bingung, bang, apa yang harus saya lakuin."

Danang semakin mengerutkan keningnya. "Emangnya kenapa?"

"Pacar saya, bang. Jadi cuek banget sama saya. Jarang ngasih kabar, tapi kalau misalnya ditinggal latihan saya nggak ngabarin dia, dianya yang marah-marah, dan mikir kalau saya lagi main sama cewek lain." Jaelani menghela nafas. "Padahal kan abang tahu, kegiatan kita tuh kayak apa. Saya juga udah coba jelasin ke dia, gimana kegiatan kita akhir-akhir ini menjelang kenaikan pangkat ini."

"Tapi dia nggak mau ngerti?" tebak Danang, yang langsung dijawab anggukan oleh Jaelani. "Kenapa dia jadi kayak gitu? Bukannya biasanya dia baik-baik aja? Nggak protes apapun kegiatan kamu, kan?"

"Iya, bang. Malah kadang dia suka bawain saya minum, kalau saya lagi tugas luar. Kita ketemu sebentar, dan dia ngasih saya minum, terus saya tugas lagi. Dia bahkan nggak pernah protes walaupun kita ketemu cuma lima menit." jelas Jaelani. "Tapi sekarang dia berubah, bang, sejak saya sibuk latihan buat persiapan kenaikan pangkat ini. Jarang ngabarin, kalau di ajak ketemu juga susah. Ketemu juga dia lebih sibuk main handphone daripada ngobrol sama saya."

"Ya berarti dia udah nggak cocok sama kamu, dia udah nggak nyaman sama kamu."

Kalimat Danang itu langsung membuat Jaelani menatapnya. "Kok abang ngomong kayak gitu?"

Danang justru terkekeh mendapati Jaelani sudah memajukan bibirnya. "Ya buktinya, dari cerita kamu aja tuh dia udah nggak peduli sama kamu, Jae, dia udah mentingin dirinya sendiri. Terus bagian mana dari kalimat abang yang salah?"

Jaelani seolah tersadar. Ia kemudian menggaruk kepala belakangnya. "Ya.. Ya.."

"Nggak bisa jawab, kan, kamu?" sergah Danang.

Terdengar helaan nafas dari Jaelani.

Danang menepuk bahu Jaelani lagi. "Siapin diri buat pisah sama dia aja, Jae. Tinggal kalimat perpisahan itu keluar dari mulut kamu atau dari mulut dia. Sesimpel itu."

"Kayaknya mending saya yang mutusin dia, bang. Daripada terus kayak gini, malah ganggu pikiran saya jadinya."

Danang mengangguk setuju. "Abang dukung kamu kok, Jae. Asalkan itu nggak ngelanggar norma agama dan nggak khianatin NKRI." ujarnya. "Cinta itu sebenernya, dia ngedampingin kamu di pelaminan, atau dia jadi undangan di pelaminan kamu sama orang lain. Ngundang, atau jadi tamu undangan, Jae."

Beautiful People #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang