TUJUH BELAS

3.5K 249 20
                                    

Danang memarkirkan sepeda motornya beberapa meter dari tempat berlangsungnya acara pernikahan saudara Faiq. Ia melepas jaketnya, merapikan kembali baju batik yabg ia kenakan, lalu mencoba menghubungi Faiq.

"Halo, Nang? Kamu bukannya udah sampe? Kenapa pake telepon segala sih? Bikin tambah repot!"

Danang justru terkekeh mendengar celotehan Faiq di ujung telepon. "Bisa ke sini sebentar nggak? Kamu lihat aku, kan? Aku nggak bisa ke sana. Nanti kalau adikmu lihat, malah rencanaku gagal."

"Rencana apaan emang?"

"Ya makanya ke sini dulu. Aku butuh bantuanmu."

***

"Dia masih belum tahu, kan, kalau aku udah sampe sini?" tanya Danang, kembali memastikan kalau Lidya belum mengetahui kedatangannya di acara pernikahan saudaranya.

"Iya. Kan tadi disuruh bilang kalau kamu ada acara dadakan sama Komandan." jawab Faiq, sambil melangkah keluar dari rumahnya, yang kini bagian teras rumahnya sudah di gunakan untuk menyajikan beberapa hidangan untuk tamu undangan pernikahan saudaranya.

"Terus, dia gimana?" tanya Danang, mengimbangi langkah Faiq menuju tempat dimana Lidya berada. Di dekat pintu masuk tempat resepsi pernikahan itu, karena tugas dia sebagai pager ayu.

"Ya auto cemberut. Bibirnya maju. Bilang nggak apa-apa, tapi waktu ditanya kenapa jadi diem aja sama Mas Alif, dianya sewot, terus pergi gitu aja."

Danang terkekeh mendengar jawaban Faiq. Membayangkan wajah Lidya yang kesal, sepertinya lebih menyenangkan daripada fakta yang ia terima, kalau Lidya sudah menerima lamarannya.

"Mbak Lid, katanya mamasnya mau ke sini? Kok belum dateng-dateng?" tanya salah satu sepupu Lidya, yang samar terdengar oleh Faiq dan Danang, yang berada beberapa meter di belakang Lidya.

Danang meminta Faiq menghentikan langkahnya. Ia ingin mendengar jawaban Lidya.

"Mboh ah! Rak pak ngurusi!" ketus Lidya, kemudian bangkit dari duduknya, dan langsung terdiam saat ia langsung berhadapan dengan Danang dan Faiq, beberapa meter dari tempatnya berdiri. (Tahu ah! Nggak mau ngurusin!)

"Assalamualaikum." salam Danang sambil tersenyum menatap Lidya yang masih terdiam menatapnya tak percaya. Sementara Faiq, sudah pergi entah kemana.

"Dek?" Danang yang kini sudah berdiri di hadapan Lidya, melambaikan tangannya di depan wajah Lidya.

Lidya yang tadi sempat tertegun, kini terkesiap. Kaget dengan panggilan Danang. "I-iya, mas."

"Kamu sibuk, nggak?" tanya Danang, menatap manik mata Lidya, yang sekarang wajahnya sudah tersipu malu karena ditatap begitu intens oleh Danang.

Lidya menengok ke ara meja yang di gunakan untuk meletakkan souvenir dan buku tamu, kemudian kembali menatap Danang. "Nggak terlalu sibuk sih, mas. Kenapa?"

"Boleh ngobrol sebentar? Ada yang mau mas omongin."

Lidya mengedarkan pandangannya. Ia kemudian menemukan suatu tpat yang sepertinya tidak terlalu ramai dengan para tamu undangan. "Di situ aja, gimana, mas?"

Danang menatap ke arah tempat yang ditunjuk oleh Lidya, itu adalah teras rumahnya, yang memang tidak terlalu ramai, karena di gunakan untuk keluar-masuk membawa makanan yang akan di hidangkan untuk para tamu.

"Jadi, mas mau ngomong apa?" tanya Lidya, setelah ia dan Danang duduk di kursi plastik yang ada di teras rumah. Mengabaikan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka.

Beautiful People #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang